Review Buku Flash Drive

Review Buku Flash Drive

Penulis: Denkus
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2025
Jumlah Halaman: 296 hal.
Personal Rating: 4.5 / 5 ⭐

Sakit hati terbesar bagi seorang anak adalah menyaksikan kedua orang tuanya bertengkar, apalagi sampai bercerai. Dan satu hal yang paling sulit untuk dilakukan -tanpa adanya penjelasan- adalah percaya bahwa keputusan mereka adalah demi melindungi sang anak.

Sinopsis

Pagi itu, seorang pria dengan setelan serba hitam melemparkan sebuah kotak hitam ke teras rumah Ben. Bi Ijah bilang, rumah mereka sudah sering kedatangan kotak misterius seperti ini. Dan setiap kali orang tua Ben membuka kotak-kotak itu, pertengkaran hebat pun terjadi.

Karena penasaran, Ben akhirnya membuka kotak itu. Ternyata isinya adalah foto-foto keluarga Ben yang dicoret dengan tanda “X” dan secarik kertas berisikan alamat, tanggal dan jam, layaknya janji temu yang dibuat untuk seseorang. Ben memutuskan untuk datang ke tempat itu. Tapi bukannya bertemu dan memastikan identitas sang pengirim kotak, Ben malah menyaksikan orang tersebut dibunuh tepat di depan mata Ben.

Tidak sampai di situ saja. Beberapa hari setelah menjadi saksi pembunuhan, Ben kedatangan sebuah paket baru yang diantar oleh orang yang lagi-lagi tak dikenalnya. Setelah dibuka, paket itu ternyata berisi sebuah flash drive yang menyimpan potongan video sepasang pria dan wanita di rooftop sebuah gedung. Ben tidak mengerti apa maksud dari video itu. Tapi yang pasti, setelah flash drive itu ia terima, hidup Ben tak lagi sama. Ia harus menghadapi teror demi teror yang mengancam keselamatan nyawanya.





Siapa sebenarnya pengirim flash drive itu? Apa maksud dari potongan video yang tersimpan di dalamnya? Dan apa tujuan ‘lelaki hitam’ mengirimkan video itu kepada Ben?

Unsur Intrinsik Novel dan Gaya Penulisan

Ditulis dengan alur maju dan sudut pandang orang ketiga, novel ini bercerita tentang kehidupan anak SMA bernama Ben yang dipenuhi teror sejak menerima paket berisikan sebuah flash drive. Awalnya Ben tidak mengerti apa maksud dari video yang tersimpan di flash drive itu. Tapi yang pasti, Ben tidak lagi bisa menikmati kehidupan masa SMA yang sama dengan teman sebayanya lagi. Ia harus kehilangan rasa aman, menghadapi teror demi teror, hingga menjadi buronan atas kasus yang tak pernah ia lakukan.

Melalui novel ini, pembaca tidak hanya akan diajak untuk menikmati cerita pengungkapan kasus pembunuhan semata, tapi juga tentang hilangnya kehangatan keluarga, eratnya persahabatan masa SMA, hingga keberanian yang ditunjukkan oleh para anak muda.


Satu hal yang menurutku menarik adalah perbedaan kentara antara gaya bahasa percakapan langsung dan narasi oleh pencerita yang digunakan dalam penulisan novel ini. Percakapan para tokoh yang menggunakan bahasa sehari-hari dan cenderung tidak baku memberi kesan adegan yang lebih nyata dan dekat dengan kehidupan para pembaca. Dengan begitu, pembaca jadi bisa merasakan kedekatan emosional yang lebih dengan para tokoh di novel ini.

Sedangkan untuk narasi yang digunakan oleh orang ketiga di novel ini, penulis lebih memilih menggunakan kata-kata baku bahkan untuk istilah yang lebih sering menggunakan bahasa asing di percakapan sehari-hari. Sebut saja mouse yang ditulis dengan tetikus, keyboard dengan kibor, online dengan daring dan beberapa kata lainnya. Secara tidak langsung, novel ini juga jadi salah satu media yang bisa menambah perbendaharaan kata para pembaca, khususnya buat aku pribadi.

Kesan Membaca

Apa serunya baca novel misteri thriller kalau pelakunya cepet banget ketebak? Iya, ini isi pikiranku waktu baru baca novel ini di bab-bab awal. Skeptis sekaligus dibuat penasaran. Masa iya sih gak ada plot twistnya? Dan setelah dibaca terus, aku baru tahu serunya di mana. Dari novel ini aku jadi ngerti kalau pengungkapan si pelaku kejahatan bukan satu-satunya elemen seru yang bisa ‘dijual’ di sebuah novel misteri: mungkin ada alasan yang belum terungkap, komplotan yang tak terduga atau ending yang bikin ‘HAH?’. Nah, di novel ini? Semuanya ada!

Dan misteri bukan satu-satunya yang bisa aku nikmati dari novel ini. Konflik keluarga, integritas kerja dan kehidupan anak muda yang nampaknya sederhana tapi nyatanya sangat berharga menjadi penyusun cerita yang membuat novel ini jadi berasa lebih deep di aku. Walaupun endingnya bikin nyesek -pake banget-, tapi sebenernya aku puas. Karena menurut aku, pelajaran berharga dari konflik yang dibangun di awal cerita jadi tersampaikan dengan maksimal dengan ending yang dipilih oleh penulis di novel ini.

Pesan Moral

Orang tua enggak selalu bisa mengerti apa isi hati anaknya. Dan orang tua juga gak bisa memaksa anak untuk selalu mengerti isi pikiran mereka. Walaupun tujuannya adalah demi kebaikan atau keselamatan sang anak, jika orang tua mengambil keputusan tanpa komunikasi yang baik -apalagi jika anak sudah menginjak usia yang bisa diajak untuk berdiskusi-, anak hanya akan merasa dimanfaatkan demi ego sesaat orang tua. Apa yang diniatkan untuk kebaikan sang anak malah jadi malapetaka yang akan disesali oleh kedua orang tua. Dan novel ini bener-bener membuka mataku soal itu.

Buat anak-anak muda, khususnya yang masih duduk di bangku SMA, aku rasa novel ini bisa ngasih pelajaran yang gak kalah penting: yaitu soal kehidupan biasa yang ternyata punya nilai yang sangat berharga. Keluarga yang bisa jadi tempat pulang paling nyaman, waktu bersama dengan teman-teman sepermainan dan hari-hari yang berjalan dengan rasa aman. Kelihatan sederhana sekali kan? Tapi, bisa jadi hal-hal ini adalah yang paling dirindukan bagi sebagian orang. Dan di novel ini, Ben adalah salah satu yang mendambakannya.

Rekomendasi

Buat kamu yang lagi pengen baca novel misteri anak remaja yang bikin penasaran, deg-deg-an sekaligus ngasih pelajaran kehidupan, aku rekomendasiin banget novel ini. Yang mau CO bisa pake link di bawah yaa~
Beli di gramedia.com
Beli di shopee

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *