Penulis: Nara Lahmusi
Penerbit: Bhuana Sastra
Tahun Terbit: 2026
Jumlah Halaman: 255 hal.
Personal Rating: 5 / 5 ⭐
Waktu disuruh memilih antara kesabaran atau keberanian, aku sih milihnya kesabaran. Tapi, bukan kesabaran kayak gini yang aku maksud 😭😭😭
Sinopsis
Ali dan Baruji dikenal sebagai dua bocah nakal yang suka membuat keributan di Kampung Kulitan. Sudah tak terhitung berapa banyak teguran dan hukuman yang mereka terima, tapi masih saja tak ada tanda-tanda akan jera. Akhirnya, para tetua pun menyerah dan berusaha memaklumi tingkah mereka. Warga Kampung Kulitan sudah sangat menderita sejak kedatangan Jepang setahun yang lalu. Karena itu, mereka seolah sepakat untuk memberikan ruang bagi dua remaja itu untuk sedikit bersenang-senang di tengah himpitan masa penjajahan.
Perbedaan kasta sama sekali bukan penghalang bagi persahabatan Ali dan Baruji. Bahkan, Baruji yang orang biasa jadi bisa bersekolah karena berteman dengan Ali yang anak priyayi. Mereka berbagi segala hal, hingga rasanya tak ada lagi rahasia yang tersisa di antara mereka berdua, termasuk soal perasaan-setidaknya bagi Ali.
Lepas Subuh hari itu, Ali menyampaikan ketertarikannya pada seorang gadis bernama Avifah. Ia meminta Baruji untuk membantunya mendekati Avifah karena Baruji adalah saudara Avifah. Tepatnya saudara jauh, jauh, jauh sekali. Baruji tak bisa menolak permintaan Ali. Tapi anehnya, Baruji juga tidak bisa senang dengan permintaan sahabatnya itu. Apa yang sebenarnya sedang disembunyikan oleh Baruji? Apakah cinta sedang mempermainkan persahabatan mereka? Dan memangnya masih ada ruang untuk memperjuangkan cinta di masa penjajahan?
Kesan Membaca
Menurut aku judul bukunya ini agak kureng sih 🤏
Harusnya bukan cuma Jalan Panjang untuk Dicintai ❎
tapi Jalan Panjang-Berliku-Berbatu-Berduri-Penuh Halang Rintang-Banyak Ranjau untuk Dicintai ✅
Gimana enggak? Buku ini dibuka dengan adegan Avifah yang dimarahi ibunya karena dia enggan melayani suami yang tidak dicintainya. Siapakah suaminya? Gak tau! Tepatnya, belum. Buku ini ditulis dengan alur maju mundur yang menceritakan kehidupan di sekitar Avifah setelah dan sebelum dinikahi pria ini. Jadi sepanjang baca buku ini, kita akan diajak untuk untuk menebak siapakah gerangan yang memenangkan hati Avifah pada akhirnya. Tapi apakah tebak-tebakan ini berhadiah? Tentu tidak! Yang ada malah bikin dada sesak. Pokoknya harus siapin tisu yang banyak sebelum baca buku ini!
Kita udah sering dengar kan kalau dijajah Belanda tiga ratus lima puluh tahun gak lebih menderita dibanding dijajah Jepang selama tiga setengah tahun? Nah di novel ini, kita dikasih secuil gambaran tentang bagaimana sedihnya jadi rakyat Indonesia waktu dijajah Jepang.
Novel ini berlatar di Kampung Kulitan Kota S. Ali, Baruji dan Avifah adalah tiga orang yang harus melalui masa remaja dengan perjuangan untuk tetap hidup sebagai manusia yang utuh di tengah ancaman penjajahan Jepang yang gak main-main. Kelaparan dan rasa takut udah jadi bagian dari makanan sehari-hari. Belum lagi politiknya yang picik, mempekerjakan pribumi untuk mengeruk hasil panen warga sendiri sampai habis tanpa sisa. Demi apa? Pangkat! Sakit kan?
Tapi di sini, Ali, Avifah dan Baruji menolak menyerah dengan keadaan. Mereka berjuang dengan jalan yang mereka pilih sendiri. Berjuang untuk hidup sekaligus berjuang untuk mencintai dan dicintai. Tapi, apa sih yang kita bisa harapkan dari sebuah perjuangan memenangkan cinta di masa penjajahan yang sekejam ini? Hidup bahagia tanpa ada korban sama sekali? Rasanya terlalu muluk-muluk gak sih?
Yap! Walaupun genrenya romance, novel ini gak menjanjikan cerita yang bikin kita berbunga-bunga. Tapi tentang cerita yang sedekat mungkin dengan realita. Karena itu baca novel ini rasanya nyeseeekkk banget. Sampai selesai pun aku bingung ini happy atau sad ending. Kayaknya happy deh. Tapi kok aku jadinya sad banget 😭😭😭
Pesan Moral
Setelah baca novel ini, ada rasa bersalah ke pahlawan-pahlawan kemerdekaan yang bikin dadaku benar-benar sesak. Bukannya gak belajar sejarah. Dulu waktu sekolah, kita pasti dikasih tahu kalau penjajah itu jahat dan gak manusiawi. Kita juga tahu kalau perjuangan para pahlawan kemerdekaan juga luar biasa susah. Tapi, aku gak pernah-setidaknya dari yang aku ingat-benar-benar diajak untuk merasakan bagaimana penjajah meninggalkan rasa kehilangan yang sangat besar bagi keluarga para pahlawan. Bahwa ada pasangan, anak, sahabat, sanak saudara dan mungkin juga orang tua yang amat sangat berduka saat menerima kabar bahwa orang terkasih mereka gugur di medan perang.
Novel ini membuat aku melihat perjuangan kemerdekaan dari sudut pandang yang berbeda. Gak sekadar teori tentang nama dan angka. Tapi dari rasa cinta sekaligus duka dari setiap jiwa yang berjuang untuk merdeka.
Rekomendasi
Buku ini memang sukses bikin aku mental breakdown. Tapi jadinya malah berkesan bangetttt 🥹 Kayaknya buku ini bakalan jadi salah satu best read aku tahun ini sih. Masa iya gak bikin kamu penasaran juga?
Beli di gramedia.com
Beli di shopee

