Review Buku 1890

Review Buku 1890

Penulis: Ayu Dewi
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2024
Jumlah Halaman: 312 hal.
Sumber: Gramedia Digital
Personal Rating: 5 / 5 ⭐

Cinta adalah perasaan yang harusnya terasa begitu indah. Namun, saat takdir mengarahkan kepada orang yang tak seharusnya, semua berubah menjadi salah. Jika hati terlanjur mencinta, jalan mana yang akan dipilih oleh pelakunya? Berjuang untuk terus bersama atau malah menyerah untuk menghindari masalah?

Sinopsis

Pam masih mengingat dengan jelas peristiwa berdarah tujuh belas tahun lalu itu. Tanah keluarga mereka dibakar dan dirampas. Kakak lelaki satu-satunya, Mas Anung juga meninggal saat peristiwa itu terjadi. Tak berhenti sampai di situ, ayahnya -Raden Ngabehi-lah yang dituduh melakukan pembakaran lahan untuk mengusir para petani tebu yang tak membayar sewa kepada mereka.

Pam tumbuh dengan misi untuk balas dendam kepada para pelaku yang telah menghancurkan hidupnya beserta keluarganya. Di perjalanan menjalankan misi itu, Pam bertemu dengan gadis ningrat Jawa yang anggun nan cantik jelita, Utari namanya. Pam terpesona sejak pandangan pertama. Namun seolah takdir tak mengijinkan, Utari ternyata adalah anak dari Raden Soerjo, orang yang dicurigai sebagai salah satu pelaku pembakaran lahan keluarga mereka yang otomatis menjadi target balas dendam Pam. Apakah Pram akan melanjutkan misi balas dendam dengan memanfaatkan Utari? Atau malah pasrah karena cinta tak bisa mengalah?

Unsur Intrinsik Novel

Novel ini ditulis dengan sudut pandang orang ketiga dan alur maju mundur dengan timeline yang jelas. Alur mundur di novel ini menceritakan tentang latar belakang beberapa tokoh dan kejadian penting yang mendukung alur cerita utama.

Seperti judulnya, latar utama novel ini adalah Hindia Belanda -tepatnya Jawa- di tahun 1800an. Aku suka bagaimana penulis menggambarkan latar setiap kejadian dengan detil dan disertai dengan suasana yang sangat mendukung. Misalnya, sebuah kafe yang disebut tempat plesiran yang dibangun dengan arsitektur khas Belanda beserta seorang Nyai sebagai pemiliknya digambarkan dengan begitu mempesona. Ada juga rumah kaca dengan kebun matahari yang begitu indah sebagai latar adegan romantis kedua tokoh utama yang saling jatuh cinta. Ah iya, ini jadi salah satu hal yang paling aku suka di novel ini: pilihan penulis dalam menggunakan bunga matahari sebagai simbol kisah romantis antara Pam dan Utari. Selain warnanya yang sangat cerah untuk latar kisah balas dendam yang sudah cukup gelap, bunga matahari juga melambangkan kehidupan baru dan pertumbuhan karakter para tokoh utamanya.

Gaya Penulisan dan Penyampaian

Berkaitan erat dengan budaya ningrat Jawa di masa penjajahan Belanda, penulisan novel ini banyak menggunakan percakapan dengan bahasa Jawa yang buatku -sebagai orang Jawa yang sudah jauh sekali dari budaya aslinya- cukup mudah dimengerti. Walaupun awalnya aku cukup kesulitan untuk mengingat nama abdi dalem yang tinggal di rumah Mbesaran Raden Soerjo, tapi lama kelamaan terbiasa juga. Selain bahasa Jawa, novel ini juga menggunakan sedikit istilah dari bahasa Belanda yang cukup bisa dimengerti dengan membaca konteks saat kata tersebut digunakan. Hal-hal detil tentang penggunaan bahasa ini menurutku mampu menambah kekhasan dan membantu pembaca masuk lebih jauh ke dalam suasana yang dibangun penulis di setiap adegan di novel ini.

Kesan Membaca

Novel ini adalah buku fiksi sejarah Indonesia pertamaku yang berlatar masa kolonial Belanda dan langsung sukses membuat aku jatuh cinta. Latar masa penjajahan yang lekat dengan dua kebudayaan -Jawa dan Eropa- membuat novel ini kaya sekaligus indah tanpa perlu menghilangkan salah satunya. Sebagai penggemar novel dengan adegan romantis yang tipis-tipis, novel ini mampu memuaskan ekspektasiku yang tak berharap membaca adegan dan dialog yang terlalu berlebihan.

Melalui novel ini, aku bisa membayangkan keadaan rakyat negeri ini dikala penjajah berkuasa. Nyatanya tak semua orang tersiksa saat Belanda menjajah Indonesia. Sebut saja para bangsawan Jawa, mereka ada yang bisa hidup bahagia, bahkan sekolah ke lain benua asal bisa diajak (read: dipaksa) kerja sama dengan Belanda. Para abdi dalem pun banyak yang bisa membaca walau tak sepenuhnya merdeka di kala banyak rakyat jelata yang meninggal karena kerja paksa.

Kalau dibandingkan dengan keadaan saat ini rasanya tak jauh beda: yang miskin tetap saja menderita, sedang yang kaya makin makmur asal bisa kongkalikong dengan penguasa. Bedanya saat itu mengabdi pada kulit putih beda bangsa, sedangkan yang sekarang pada para pejabat negara ditambah pengusaha sang penyandang dana. Rasanya, merdeka yang diperjuangkan dengan darah dan air mata tak pernah setara bagi mereka yang jauh dari rangkulan penguasa.

Rekomendasi

Bertemu dengan novel romance dengan kadar romantis yang tepat menurutku adalah penemuan yang patut dirayakan -karena sejujurnya aku sulit berdamai dengan adegan yang sering bikin merinding di novel romance- dan novel ini adalah salah satunya. Aku bahagia sekali bisa membaca novel romance yang sekaligus bisa membawa aku kembali ke masa penjajahan bangsa Belanda dulu. Untukmu yang mungkin sedang butuh asupan romance dengan latar sejarah yang kental, novel ini aku rekomendasikan sekali untuk dinikmati~

Yang mau beli buku fisiknya bisa klik link di bawah yaa~
https://aff.gramedia.com/s/bwOnexYnrc
https://s.shopee.co.id/8UuBVw1vJE

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *