Penulis: Asroruddin Zoechni
Penerbit: Bhuana Sastra
Tahun Terbit: 2023
Jumlah Halaman: 317 hal.
Sumber: Gramedia Digital
Personal Rating: 3.5 / 5 ⭐
Perjalanan meraih mimpi bukanlah hal yang mudah untuk diperjuangkan. Tapi jika terlalu banyak rintangan berat yang rasanya tak sanggup untuk dipikul, apakah mimpi itu tetap patut diusahakan? Atau lebih baik ditinggalkan demi meringankan beban?
Sinopsis
Salman adalah anak dari seorang nelayan di Sedanau, salah satu pulau kecil di kepulauan Natuna. Bagi rakyat miskin seperti dirinya, menjadi seorang dokter adalah sebuah cita-cita yang begitu mahal dan beasiswa Pemda Natuna adalah satu-satunya harapan Salman untuk bisa kuliah kedokteran di UNTAN, Pontianak.
Dengan perjuangan yang berat, di tengah kehilangan seorang ayah dan cemooh dari kawan sekampung yang selalu mengganggapnya remeh, akhirnya Salman berhasil masuk menjadi salah satu mahasiswa kedokteran di Universitas Tangjungpura (UNTAN). Namun, rasanya nasib baik tak berpihak pada Salman. Di masa menjalani co-assistant, ia mendapat surat dari Sedanau: undangan pernikahan Hamidah -pacarnya- dengan orang yang paling meremehkannya di kampung, Abrar. Tak berhenti sampai di situ, ibunya pun berpulang ke Rahmatullah meninggalkannya bersama kedua adiknya.
Salman hancur, hilang harapan dan rasanya tak akan mampu melanjutkan mimpinya untuk menjadi dokter. Hari-harinya penuh tekanan, jantung yang berdebar tak menentu, perut mual dan sering mimpi buruk hingga berhalusinasi. Apa yang sebenarnya terjadi pada Salman? Apakah ia bisa keluar dari keterpurukan dan meraih mimpinya untuk menjadi dokter?
Unsur Intrinsik Novel
Novel ini ditulis dengan sudut pandang orang ketiga dengan alur mundur. Cerita dimulai dari pertemuan Hamidah dengan Salman yang telah menjadi dokter kandungan di RSUD Ranai dan kemudian berlanjut menceritakan perjalanan Salman meraih mimpinya untuk lulus dari fakultas kedokteran di UNTAN.
Alur cerita di novel ini menurutku berjalan cukup lambat karena berfokus pada pengembangan karakter Salman sebagai tokoh utama yang berjuang untuk meraih mimpi di tengah berbagai badai kehidupan yang dialaminya. Walaupun sudah berjalan lambat, alur di novel ini masih terasa melompat-lompat dengan timeline yang kadang membingungkan. Ada beberapa adegan yang tidak sesuai dengan plot yang dibuat: misalnya saat bulan Ramadhan dan para tokoh sedang berpuasa, Salman dan Ibunya malah duduk dan menikmati makan siang tanpa ada penjelasan apakah mereka berpuasa atau tidak. Padahal kalau dari penokohannya, Salman dan Ibunya adalah tokoh yang cukup taat dalam beragama.
Gaya Penulisan dan Penyampaian
Penulisan novel ini banyak menggunakan logat bahasa Melayu yang merupakan identitas dari orang-orang yang tinggal di sekitar kepulauan Natuna. Selain bahasanya, pembaca juga disuguhi pantun, lagu dan berbagai simbol kebudayaan Melayu seperti pakaian dan aksesoris yang dipakai oleh para tokoh. Bagian inilah yang jadi favoritku: elemen lokal yang terasa begitu kental. Melalui novel ini, pembaca dapat melihat lebih dekat sekaligus merasakan kehidupan orang-orang yang tinggal di Natuna tanpa harus langsung ke sana. Dan aku akui, vibes yang dibawa oleh novel ini bisa tersampaikan dengan sangat baik kepada pembaca.
Selain di Natuna, latar novel ini juga ada di Pontianak selama Salman menjalani pendidikan dokter di UNTAN. Kebudayaan orang-orangnya mirip, sama-sama berlogat Melayu juga. Tapi di bagian ini -selain bahasa dan kebudayaan Melayu-, pembaca juga disuguhkan dengan berbagai istilah kedokteran melalui interaksi Salman dan kawan-kawan juga para dokter yang membimbingnya selama menjalani pendidikan sebagai mahasiswa kedokteran.
Pesan Moral
Banyak mimpi yang nampaknya terlalu tinggi dan mahal bagi sebagian orang, dan daripada harus berjuang mati-matian untuk hal yang belum tentu bisa digapai, banyak yang lebih memilih untuk mundur duluan. Tapi novel ini mengingatkan kita bahwa: saat kita tahu mimpi itu berharga dan kita bersama dengan orang-orang yang tepat untuk berjuang, maka menyerah bukanlah sebuah pilihan.
Selain soal mimpi, konflik utama novel ini adalah perjuangan Salman untuk bangkit dari pergolakan batin yang dialami setelah kehilangan satu per satu orang yang disayanginya. Melalui kisah Salman di novel ini, kita dapat belajar bahwa penyakit mental dapat dialami oleh siapa saja, tak peduli laki-laki atau perempuan dan bahkan oleh dokter sekalipun. Saat itu terjadi, kemauan untuk sembuh dari pasien adalah hal utama yang harus ditemukan agar ia bisa keluar dari zona keterpurukan dan support system yang baik menjadi pondasi yang juga sangat penting dalam proses penyembuhan itu.
Aku rasa Salman sangat beruntung bisa berada di antara teman dan guru yang sangat peduli dengan kesehatan mentalnya. Ditambah lagi, lingkungan yang dekat dengan dunia medis membuatnya dengan mudah mengenali dan mendapatkan tindakan untuk trauma yang dialami. Namun, banyak orang yang tak senasib dengan Salman di dunia nyata. Oleh karena itu, tugas kita yang sudah menyadari pentingnya mental health adalah meningkatkan kepekaan terhadap orang-orang di sekitar kita. Jika memang ada yang butuh bantuan, tak perlu segan untuk menawarkan, karena terkadang mereka bukan tak ingin sembuh, hanya terkadang tak cukup sadar untuk mencari bantuan saat memang sudah dibutuhkan.
Kesan Membaca
Selama membaca novel ini, aku seperti bisa melihat secara langsung kehidupan masyarakat pesisir Sedanau dengan ombak dan pasir pantainya, sedangkan saat Salman menempuh pendidikan di Pontianak, akupun seolah merasakan panasnya tinggal di garis khatulistiwa. Kedua setting ini termasuk jarang aku temui di novel atau serial di berbagai media elektronik, jadi saat membaca novel ini aku seperti melihat kehidupan baru yang belum pernah aku tahu sebelumnya. Secara keseluruhan, aku suka kehidupan di Natuna bisa dinikmati di novel ini. Tapi sayangnya aku merasa proses editing di novel ini masih kurang teliti karena banyak typo dan kata-kata yang diketik double di novel ini, hemmm~
Rekomendasi
Untukmu yang punya ketertarikan khusus terhadap novel yang bertema kedokteran sekaligus membawa isu tentang kesehatan mental atau sekadar tertarik dengan kehidupan orang-orang yang tinggal di salah satu pulau terluar di Indonesia, buku ini menjadi salah satu bacaan yang bisa aku rekomendasikan.
Yang mau beli buku fisiknya bisa klik link di bawah ya~
https://aff.gramedia.com/s/yjHdaejgFE
https://s.shopee.co.id/8zqWsgZ84d













