Review Buku Kedai Kopi dan Rahasia

Review Buku Kedai Kopi dan Rahasia

Penulis: Aghnia Sofyan, Altami N.D., Ayu Rianna, Ayu Welirang, Flara Deviana, Hening Swastika, Lia Nurida, Sasa Ahadiah
Penerbit: Luminaverse
Tahun Terbit: 2025
Jumlah Halaman: 373 hal.
Personal Rating: 5 / 5 ⭐

Pernah ngerasain patah hati? Sekali? Dua kali? Kalau masih kurang, buku ini bisa ngasih kamu sensasi rasa itu lebih banyak: berkali-kali. Dari cerita yang sempat menjadi rahasia dan dengan jalan yang beraneka rupa, di tempat inilah akhirnya mereka bermuara.

Sinopsis

Kedai Kopi Nala namanya. Bukan sekadar menyediakan kopi, tempat ini juga menyediakan seseorang yang dengan tangan terbuka menyambut tamu beserta segala cerita dan rahasianya. Kalaupun kenangan itu terlalu sulit untuk diceritakan, pemilik kedai juga menyediakan sebuah kotak yang bisa menampung rahasia pelanggan tanpa perlu takut tersebarkan.

Dia adalah Abinawa, atau akrab disapa Abi. Terkadang karena kesabarannya mendengarkan, terkadang karena kebijaksanaan dalam menanggapi permasalahan pelanggan dan terkadang juga karena kedekatan emosional yang dibangun bukan dalam waktu yang sebentar. Bisa jadi, itu adalah alasan kenapa kedai yang dikelolanya ini seolah punya kemampuan magis yang membuat pelanggan lama atau pengunjung baru bisa bercerita dan mengurai masalahnya kepada si pemilik dengan perasaan yang nyaman.






Mereka yang hadir di kedai ini bukan hanya menikmati kopi, tapi juga menemukan tempat untuk mendamaikan hati yang penuh dengan gemuruh. Kedai Kopi Nala menjadi saksi dari delapan orang, delapan kisah dan delapan rahasia yang siap untuk disembuhkan.

Unsur Intrinsik Cerpen

Jika bisa menemukan satu formula untuk mewakili setiap kisah di buku ini, maka ia adalah cinta. Dari yang pernah digapai di kehidupan sebelumnya, yang tumbuh karena interaksi tak terduga, yang terpisah karena tak mampu menjaga, hingga cinta yang hilang dimakan usia. Setiap cerita punya rasa yang berbeda, bukan hanya karena tokoh utama yang tak sama, tapi juga sentuhan penulis dengan ciri yang istimewa.

Alur maju mundur menjadi alur yang dipakai di semua cerita cinta di buku ini. Perjalanan cinta itu ditumpahkan di Kedai Kopi Nala bersama Om Abi yang menjadi pendengar sejati seolah ia sudah selesai dengan semua masalahnya sendiri. Tapi siapa sangka, Abilah yang sebenarnya membutuhkan kedai kopi ini dibanding siapa pun.


Gaya Penulisan dan Penyampaian

Delapan cerita di buku ini ditulis oleh delapan penulis yang berbeda, karena itu gaya penulisannya pun jadi banyak rasa. Tapi walaupun begitu, cerita-cerita di buku ini seolah punya tali yang menyambungkan setiap ceritanya menjadi satu kesatuan yang utuh, yang membawa pembaca menemukan rahasia dibalik Kedai Kopi Nala.

Kesan Membaca

Sebelum kesan membaca, aku bakalan bagiin kesan pertama buka buku ini dulu yaa. Yang pertama tebelnya yang lumayan bikin kaget. Setelah dibuka, ternyata bukan jumlah halamannya yaa yang super banyak, tapi kertasnya yang emang tebel. Ukuran fontnya juga lumayan besar, jadi baca satu halaman tuh berasa cepet banget. Nah yang kedua, buku ini tuh wangi bangetttt. Sampek-sampek walaupun udah selesai baca, aku masih keinget terus sama buku ini karena wanginya yang gak hilang-hilang dari tanganku 🤣

Cerita yang jadi pembuka di buku ini tuh sukses buat aku bener-bener patah hati, tapi juga lega di satu sisi. Aku sedih, tapi juga puas sama akhir ceritanya. Rasanya mau bilang makasih ke Tara yang udah bisa membedakan realitas dengan kilasan kehidupan yang mungkin pernah dijalani. Akhirnya, aku bisa nerima kalau cinta itu rasa yang dibangun sendiri, bukan meneruskan yang tersisa dari masa lalu.

Aku kira patah hatinya selesai di cerita yang pertama, tapi ternyata berlanjut ke kisah-kisah selanjutnya. Dengan tokoh, usia, latar belakang, sampai dunia yang berbeda, semuanya ngasih patah hati dengan dosis yang beraneka rupa.



Karena cerita-ceritanya yang deket sama kehidupan kita, aku yakin buku ini bisa jadi bacaan yang relate sama banyak orang, ntah itu karena satu dua cerita, atau bahkan semuanya. Ah iya, tapi tetep ada pengecualian sih. Buku ini gak bakalan engage ke satu ras manusia, yaitu buat orang-orang yang gak pernah tersentuh sama cinta. Hemmm~ kamukah itu?

Pesan Moral

Bahasan cinta emang gak ada habis-habisnya ya? Dari buku ini, aku belajar banyak tentang berbagai macam cinta yang bisa kita beri dan terima. Terkadang gak perlu usaha karena udah jadi anugerah saat kita lahir ke dunia, tapi terkadang setelah diusahakan setengah mati pun, takdirnya memang bukan untuk bersama. Terkadang, membersamai hingga raga mati dimakan usia adalah sebuah cita-cita, tak masalah jika harus lelah berjuang untuk waktu yang sementara. Tapi terkadang, melepaskan juga adalah bentuk cinta, karena mempertahankan bisa jadi begitu menyiksa.

Banyak yang mengira bahwa cinta berarti berhak menjadi empunya, tapi lupa bahwa hidup berjalan bukan hanya karena cinta satu manusia. Bisa jadi, saat berkorban untuk mendapatkan satu cinta, kita malah kehilangan sumber cinta lain yang mungkin lebih besar, lebih tulus dan lebih luas. Tak masalah untuk berjuang, tapi saat semua jalan terasa begitu menyakitkan, melepaskan bisa jadi pilihan. Karena mungkin yang sulit itu bukan medannya, hanya bebannya yang terlalu berat.

Rekomendasi

Buat kamu-kamu yang suka sama cerita slice of life, terutama tentang cinta, plis baca buku ini~ Dijamin gak akan nyesel!!! Buat para penikmat kopi atau sekadar suka nongkrong di kedai kopi, buku ini juga bakalan cocok banget buat kamu. TMI dikit, buat aku yang biasa minum kopi sachetan, baca buku ini malah buat aku jadi pengen nyobain racikan kopinya Kedai Kopi Nala deh 😅

Buat yang tertarik sama buku ini, boleh langsung cek ignya Luminaverse yaaa~

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *