Penulis: Mickaël Brun-Arnaud
Ilustrator: Sanoe
Penerbit: Baca
Tahun Terbit: 2025
Jumlah Halaman: 247 hal.
Personal Rating: 5 / 5 ⭐
Seringkali kita lupa menghargai sesuatu yang kita punya sampai ia menghilang dari hidup kita. Hal itu bisa berbentuk ingatan, atau sebuah buku yang merekam jalannya kehidupan.
Sinopsis
Archibald, rubah pemilik toko buku Bellécorce sedang menikmati sarapannya saat mendengar keributan di pagi yang seharusnya tenang itu. Dengan cangkang kenari di punggung dan kacamata besar yang terpasang miring di moncongnya, Archibald tak mungkin salah mengenali Ferdinand, seekor Tikus Mondok tua yang telah menjadi pelanggan toko buku Bellécorce bahkan sejak ia masih kecil.
Pagi itu, Ferdinand yang linglung datang ke toko buku Bellécorce dan membuat buku-buku yang baru saja dirapikan Archibald porak-poranda. Dia mencari sebuah memoar yang ditulisnya sendiri: Memoar dari Dunia Lain karya Ferdinand Tikus Mondok. Baginya, memoar itu sangat penting dan ia benar-benar membutuhkannya sebelum keadaannya semakin memburuk. Darurat! Benar-benar darurat!!! Penyakit Lupa Segala telah merenggut ingatan Ferdinand sedikit demi sedikit hingga ia melupakan hewan yang sangat ia cintai, Maude tercinta.
Satu-satunya cara untuk menemukan kembali Maude adalah dengan membaca memoar itu. Tapi tepat sehari sebelumnya, ada seekor hewan yang membeli catatan kehidupan sang Tikus Mondok tanpa disadari oleh Archibald. Mengingat betapa pentingnya buku itu bagi Ferdinand, Archibald akhirnya memutuskan untuk membantu sahabatnya. Petualangan pun dimulai! Berbekal empat foto yang tersimpan di cangkang kenari yang selalu dibawanya, Ferdinand dan Archibald mulai menyusuri hutan dan mencari jejak pembeli buku sambil berharap bertemu dengan Maude tersayang. Di manakah Maude? Kenapa Ferdinand tak melihatnya lagi? Sejak kapan ia menghilang? Dan siapakah yang membeli memoar seorang Tikus Mondok tua yang kehilangan ingatannya itu?
Unsur Intrinsik Novel
Kisah Ferdinand dan Archibald ini bukan sekadar petualangan dua hewan biasa, mereka ini udah next level! Ferdinand dengan segala keterbatasan karena usia dan penyakit Lupa Segala yang menggerogoti pikirannya tak membuat seekor rubah muda penjaga toko buku enggan untuk menjadi satu-satunya pendamping sang sahabat untuk mengumpulkan memorinya yang hilang. Tokoh Archibald di buku ini bener-bener ngasih standar yang tinggi untuk seorang sahabat, mulai dari ketulusan, keberanian, kekuatan –literally kekuatan fisik- sampai kesabaran yang gak ada batasnya. Dan bagian yang paling mengharukan adalah, Archibald tak keberatan kalaupun akhirnya, hanya ia satu-satunya hewan yang akan mengingat semua perjalanan berat yang dilakukan bersama sahabatnya itu.
Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, petualangan dua sahabat ini diceritakan dalam alur maju mundur yang masing-masing punya porsinya sendiri. Alur maju digunakan untuk menceritakan kisah perjalanan Archibald dan Ferdinand, sedangkan alur mundur akan terasa di beberapa momen flashback kehidupan masa muda si Tikus Mondok bersama dengan Maude tersayang.
Gaya Penulisan dan Penyampaian
Buku ini diterjemahkan dari bahasa Prancis. Karena itu, kita akan menemukan banyak istilah yang umum digunakan dalam bahasa Prancis, misalnya Madame untuk nyonya, Monsieur untuk tuan dan juga berbagai makanan yang berasal dari negara itu, seperti croutun, thé dan cannelé. Tapi kita gak perlu khawatir, semua istilah-istilah itu ada penjelasannya di catatan kaki kok, jadi kita gak akan bingung walaupun sama sekali gak ngerti bahasa Prancis.
Sebenarnya buku ini masuk kategori fiksi middle grade, tapi sejujurnya aku sendiri merasa buku ini gak cukup mudah untuk bisa dinikmati sama anak-anak di rentang usia segitu. Entah karena terjemahannya atau aku yang belum ketemu secara langsung sama ‘pembaca kecil’ yang cukup familiar sama pilihan kata dan kalimat seperti yang ada di buku ini. Bahkan aku sendiri pun masih perlu ngulang membaca beberapa part untuk bisa bener-bener ngerti jalan ceritanya, apalagi anak-anak -yang aku kenal- yaaa 😁
Selain penggunaan bahasa, ada satu hal lagi yang menarik di buku ini, yaitu ilustrasinya. Yap, buku ini juga ngasih ‘bala bantuan’ buat kita para pembaca untuk memvisualisasikan setiap tokoh dan tempat-tempat magical yang dikunjungi Archibald dan Ferdinand selama bertualang mengumpulkan memori yang hilang. Bahkan di bagian awal, kita udah disuguhkan sebuah peta yang bisa kita buka setiap kali kedua sahabat ini mengunjungi tempat baru. Menarik kan?
Kesan Membaca
Ferdinand dan penyakit Lupa Segalanya memang bisa jadi nyebelin banget, tapi aku gak bisa untuk gak sedih sama keadaannya. Rasanya mau bilang makasih berkali-kali ke Archibald karena gak pernah kepikiran untuk ninggalin sahabatnya walaupun terkadang tingkahnya keterlaluan. Di mana ya nyari sahabat kayak Archibald ini 🥹
Aahh~ tapi sebelum penyakit yang merenggut semua ingatannya, Ferdinand juga buat aku terkagum-kagum. Walaupun gak mudah, dia gak pernah nyerah untuk menemukan kepingan cinta yang pernah hilang dari hidupnya. Dan hebatnya, dia meninggalkan warisan yang sangat berharga untuk paling tidak, bisa dikenang saat ia -atau ingatannya- telah tiada.
Pesan Moral
Buku ini ngajarin aku banyak hal. Dan karena ini di blog, let’s break it down in detail. Yang pertama, tentang duka dan menerima kehilangan. Salah satu tokoh di buku ini punya cerita kehilangan yang traumatis banget. Hidupnya hampir berakhir karena kehilangan itu, tapi dia punya alasan yang lebih kuat untuk tetap hidup. Karena itu, dia bertahan dan berusaha sembuh dari duka walaupun gak mudah dan gak sebentar. Dari tokoh ini aku belajar tentang pentingnya punya alasan untuk tetap hidup saat dunia terasa hancur sepenuhnya. Tak apa untuk berduka, tak apa jika harus mengambil waktu untuk jeda. Tapi yang harus kita sadari, hidup kita juga sangat berharga dan pasti ada alasan kenapa kita ditakdirkan untuk ditinggalkan, bukan meninggalkan.
Tokoh lain di buku punya jalan yang panjang untuk bertemu dengan cinta yang dicari sepanjang hidupnya. Dan saat bertemu, apa yang dibayangkan ternyata jauh dari angan-angan. Tapi apakah hal itu membuatnya menyerah? Sama sekali enggak. Dia tetap tinggal di sisinya, merawat dan siap menjadi tempat kembali kapanpun sosok yang dicinta membutuhkan dirinya. Dari tokoh ini, aku belajar tentang menerima cinta walaupun ia tak sempurna.
Dari Archibald, aku belajar tentang kesabaran yang seluas samudera. Gak peduli seberapa sering Ferdinand melupakannya, seberapa jauh perjalanan membawanya dan seberapa absurd tingkah sang sahabat karena penyakit Lupa Segala, ia tetap ada untuk mendampingi Ferdinand sampai ia bertemu dengan semua kenangannya. Dan pada akhirnya saat semua perjalanan berakhir, Archibald juga siap untuk ditinggalkan bersama dengan cerita petualangan yang hanya akan diingatnya sendiri. Aahhh~ romantis banget Archibald ini 🥹
Yang terakhir, adalah tentang sebuah penyakit menyeramkan yang akan mengambil ingatan berhargamu sedikit demi sedikit hingga tak tersisa kecuali kepingan yang muncul sebentar, lalu segera akan pergi lagi. Ya, pada akhirnya dia akan mengambil semua ingatan itu. Tapi buku ini ngasih tahu satu hal yang sangat penting: bahkan di saat penyakit itu berhasil menghapus semua ingatan di kepala, ia tak akan mampu mengambil apa yang tersimpan di hati. Semua rasa cinta dan kenangan akan selalu ada di sana, tersimpan rapi dan penyakit itu tak akan bisa menjamahnya.
Rekomendasi
Buku ini aku rekomendasikan untuk kamu yang suka cerita fantasi yang heartwarming dan juga para penggemar novel middle grade. Dan spesial untuk kamu yang mungkin lagi dianugerahi untuk jadi caregiver bagi para penderita Alzheimer, aku rasa buku ini bakalan relate banget deh ke kamu~
Yang mau beli bukunya bisa klik link di bawah ya~
https://aff.gramedia.com/s/iluKudxtez
https://s.shopee.co.id/9pScutHliz

