Review Buku Sang Pemanggil Hiu (The Shark Caller)

Review Buku Sang Pemanggil Hiu (The Shark Caller)

Penulis: Zillah Bethell
Penerbit: Bhuana Sastra
Tahun Terbit: 2025 (Cetakan ke-4)
Jumlah Halaman: 318 hal.
Personal Rating: 5 / 5 ⭐

Hiu tak pernah dengan sengaja menyerang manusia. Jikapun ada, itu pasti sebuah kesalahan. Entah karena hiu salah mengenali manusia sebagai ikan, atau karena manusia telah mengubahnya menjadi hiu yang rusak.

Sinopsis

Waspapi adalah orang yang mengurus seorang anak saat orang tuanya sudah meninggal. Waspapi Blue Wing bernama Siringen. Dan ia adalah The Shark Caller, pemanggil hiu. Blue Wing ingin sekali menjadi pemanggil hiu seperti waspapinya. Tapi walaupun sudah memohon lebih dari wan-handet taim (seratus kali), Siringen tetap menolak untuk mewariskan keahlian turun-temurun itu.

Suatu hari, Ketua Adat mendatangi pondok Siringen. Ia mengabarkan bahwa akan ada seorang profesor dari Amerika yang akan datang ke pulau mereka dan meneliti karang di sana. Siringen ditugaskan untuk mendampingi profesor itu karena tak ada yang mengenal laut lebih baik dari dirinya. Dan profesor itu membawa seorang anak perempuan bersamanya.

Nama anak perempuan itu Maple. Usianya sama dengan Blue Wing. Karena itu, Siringen meminta Blue Wing untuk menjaga dan mengenalkan pulau mereka selagi ia dan ayah Maple pergi ke laut. Sayangnya mereka tidak akur. Maple mudah sekali marah. Dan Blue Wing benar-benar tidak menyukainya.

Awalnya Blue Wing ingin menyerah dari tugas itu. Tapi akhirnya Siringen berhasil meyakinkan Blue Wing untuk mencoba mengenal dan menemukan kemiripan antara dirinya dan Maple. Apakah Blue Wing bisa bersabar menghadapi Maple? Akankah ia berhasil menemukan sumber kemarahan yang ada di diri gadis itu? Dan apa yang membuat mereka berdua sangat mirip?







Kesan Membaca

AAAAA… BAGUS BANGEETTTT 😭😭😭
Setelah baca The Song Walker, aku jadi punya ekspektasi yang tinggi buat novel ini. Dan ternyata emang sebagus itu. Baca buku ini sukses buat hati berantakan. Saking berantakannya, aku jadi susah move on buat mulai baca buku baru lagi 🫠 Semoga review ini bisa menggambarkan semua uneg-unegku yaa~ Dan bikin kamu juga ikut penasaran dan jadi pengen baca buku ini juga.

Cerita di novel ini dibuka dengan adegan seorang lelaki-dari-Inggris yang datang ke pulau tempat tinggal Blue Wing untuk ikut merasakan salah satu tradisi penduduk asli di sana, yaitu memanggil hiu. Sayangnya, dia bukan hanya ingin melihat-lihat, tapi malah mau membunuh dan membawa pulang hasil buruan itu ke negara asalnya. Bukan hanya itu, di buku ini juga diceritakan tentang bagaimana orang-orang asing-khususnya Amerika-mengeksploitasi sumber daya dan merusak hiu yang ada di pulau ini. Setelah sumber dayanya habis, mereka pergi dan meninggalkan pulau serta melepaskan hiu yang rusak ke laut lepas. Sampai suatu hari, hiu yang rusak itu datang ke perairan dekat pulau dan memangsa penduduk desa. Dan yang menjadi korbannya adalah kedua orang tua Blue Wing.

Hingga dua tahun setelah peristiwa itu, Blue Wing masih menyimpan dendam dan ingin membunuh hiu yang mereka beri nama Xok. Itulah alasan utama kenapa Blue Wing ingin belajar cara memanggil hiu dari waspapinya. Tapi, bukannya diajari, Blue Wing malah diminta untuk menjaga Maple, anak perempuan profesor Amerika yang meneliti karang di pulau mereka. Awalnya Blue Wing ogah-ogahan karena Maple sama sekali tidak ramah dan sering marah-marah. Tapi saat mulai ngobrol, mereka akhirnya tahu kalau mereka punya luka yang sama dan sedang dalam perjalanan untuk berdamai dengan luka itu.

Blue Wing dan Maple sama-sama sedang berduka. Blue Wing kehilangan kedua orang tuanya dan Maple kehilangan mamanya. Yap, tema buku ini adalah grieving journey dua remaja perempuan yang dipenuhi rasa bersalah. Karena POV yang digunakan di buku ini adalah POV Blue Wing sebagai orang pertama, perasaan campur aduk remaja yang lagi berduka itu jadi terasa banget. Ada fase bingungnya, ada fase mencoba kuat dan baik-baik saja, ada fase marahnya dan sampai ada fase yang rapuh serapuh-rapuhnya.

Semua rasa yang mereka bagi di pulau ini membuat Blue Wing dan Maple sangat akrab seperti saudara sampai Maple gak sadar kalau mereka itu berbeda. Inilah yang jadi plot twistnya.

Tapi… jadi gak twist-twist banget karena aku udah baca The Song Walker. Sejak awal aku udah ada feeling kalau Blue Wing bukanlah anak yang biasa. Makin ke belakang, makin yakin. Dan walaupun ditutup dengan saaangat indah, tapi tetep saja di ending tuh jadinya nyeseeekk bangettt. Perasaanku benar-benar berantakan sampai nangis sesegukan 😭😭😭 Definisi happy ending yang bikin pembacanya sad ya buku ini 🙃

Selain Blue Wing dan Maple, ada satu orang lagi yang juga sedang berduka. Dia adalah ayanya Maple. Di buku ini diceritakan tentang bagaimana ayah Maple juga sangat berjuang untuk hidup berdampingan dengan dukanya. Buku ini kayak ngasih tahu kalau perjalanan berduka itu gak pernah mudah bagi siapa pun, entah itu orang dewasa, apalagi mereka yang masih remaja. Dan terkadang, yang dibutuhkan oleh orang yang berduka adalah sekadar berbagi rasa hingga akhirnya mereka menyadari bahwa mereka tak pernah benar-benar kehilangan segalanya.





Hal lain yang menarik perhatianku dari buku ini selain cerita utama adalah latar yang digunakan. Penulis mengambil latar di mana ia menghabiskan masa kecilnya, yaitu di salah satu pulau di Papua Nugini. Secara geografis, Papua Nugini begitu dekat dengan Indonesia. Tapi rasanya aku gak tahu banyak tentang budaya masyarakatnya, gak kayak negara tetangga lain seperti Malaysia atau Singapura. Bahkan sejujurnya, aku malah lebih familiar sama negara-negara lain yang secara geografis letaknya lebih jauh, sebut saja Korea, Jepang atau bahkan Amerika. Nah dari novel ini, aku jadi banyak tahu tentang penduduk asli Papua Nugini, tentang bagaimana ciri orang-orangnya, tentang kebudayaannya, rumah-rumahnya, tradisi yang mereka wariskan secara turun-temurun, sampai ke Bahasa Inggris Tok Pisin yang digunakan di sana.

Rekomendasi

Buku anak dan middle grade seringkali punya daya tarik dan makna yang lebih istimewa dibanding apa yang awalnya aku duga. Buku ini adalah salah satunya. Kalau kamu lagi pengen baca buku tentang grieving yang sekaligus juga bisa lebih jauh tentang tradisi penduduk asli Papua Nugini, buku ini bakalan cocok banget buat kamu.
Beli di gramedia.com
Beli di shopee

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *