Review Buku Dongeng Telepon

Review Buku Dongeng Telepon

Penulis: Gianni Rodari
Illustrator: Simona Mulazzani
Penerbit: Noura
Tahun Terbit: 2024
Jumlah Halaman: 259 hal.
Personal Rating: 4.5 / 5 ⭐

Membaca dongeng bisa membuat seorang anak bahagia. Tapi bagi orang dewasa, dongeng juga bisa jadi media untuk bersuara.

Sinopsis

Suatu hari ada seorang pria yang bangun dari tidur dan terkejut karena kehilangan hidungnya. Dia panik dan langsung berlari ke balkon. Dia melihat hidung itu sudah ada di alun-alun kota dan sedang berlari tergesa-gesa untuk ke dermaga. Sambil menahan malu dan menutupi wajah, pria itu pun berlari melewati kerumunan orang untuk mengejar hidungnya. Sayangnya hidung itu sudah berlayar dengan jubah merah terbentang menuju ke tengah laut. Pria itu tak bisa lagi mengejar si hidung dan hanya mampu melihatnya berlayar menjauh.

Beberapa hari kemudian, hidung itu terjerat jala nelayan. Pelayan si pria tanpa hidung melihatnya dijual di pasar bersama ikan tench dan ikan tombak. Pelayan itu segera memberi tahu nelayan bahwa hidung itu adalah milik tuannya. Tapi sayangnya, nelayan itu tidak mau memberikan hidungnya secara cuma-cuma. Apa yang akan dilakukan si pria tanpa hidung? Apakah ia akan mendapatkan hidungnya kembali? Dan kenapa hidung itu melarikan diri dari pemiliknya?






Unsur Intrinsik Novel dan Gaya Penulisan

Penggalan cerita Hidung yang Kabur di atas adalah salah satu dari puluhan dongeng yang ada di buku ini. Dikisahkan bahwa ada seorang lelaki bernama Tuan Bianchi yang selalu berkeliling ke seluruh Italia untuk menjual obat-obatan. Ia pergi Senin pagi dan pulang setiap hari Minggu. Gadis kecilnya selalu ingin mendengar dongeng dari sang ayah. Karena itu setiap malam, Tuan Bianchi selalu menelpon ke rumah dan menceritakan satu dongeng untuk anaknya sebelum tidur.

Dongeng-dongeng Tuan Bianchi selalu singkat. Tentu saja. Karena saat itu, ia harus mendongeng melalui telepon koin yang memiliki durasi yang terbatas. Tapi walaupun singkat, dongeng-dongeng Tuan Bianchi selalu bisa memberikan kesan istimewa. Sebagian jenaka, sarat akan makna dan terkadang punya pesan yang hanya bisa dimengerti oleh orang dewasa. Dengan ilustrasi yang cantik, buku ini akan mengajak semua pembacanya untuk menikmati cerita-cerita penuh imajinasi tak hanya menghibur, tapi juga mengajak pembaca untuk merenungkan isu-isu yang tersirat di dalamnya.

Kesan Membaca

Kalau kamu tertarik sama buku ini, plisss baca dari Kata Pengantarnya yaaa~ Karena ini adalah salah satu bagian yang paling bikin aku terkesan sepanjang baca buku ini.

Kata Pengantar di buku ini menurut aku bisa diibaratkan sebuah peta yang akan membantu kita dalam memahami keseluruhan isi buku. Di bagian ini diceritakan tentang latar belakang dan situasi penulis saat menulis buku ini. Nah yang bikin aku amazed adalah karena penulisnya yang baru berusia empat belas tahun saat menulis kata pengantar ini. Aku benar-benar gak expect kalau tulisan itu ditulis sama anak remaja karena saking bagus, terstruktur, rapi dan kesannya yang dewasa banget. Aku sampai cari tahu lebih jauh tentang penulisnya karena kayak gak percaya, tapi sekaligus kagum juga. Shout out buat adik Abinaya Ghina Jamela!!! Semoga aku bisa baca tulisan kamu yang lain yaaa~

Nah sekarang giliran isi bukunya. Aku cukup menikmati waktuku selama baca buku ini. Dongeng-dongeng di buku ini kayak ngasih sensasi yang berbeda di setiap ceritanya. Ada sih yang cuma sekadar lewat~ kesannya kayak cerita anak dengan imajinasinya sendiri aja. Tapi banyak juga dongeng yang bikin aku senyum-senyum sendiri karena pesannya yang dalem dan masih relate banget sama apa yang terjadi hari-hari ini.

Anakku yang umur delapan tahun juga udah selesai baca buku ini. Buat dia, buku ini adalah salah satu buku favorit yang bikin dia ketagihan buat baca. Aku rasa sih selain karena cerita-ceritanya yang singkat dan imajinatif, layout dan ilustrasi buku ini juga punya peranan yang penting. Dia jadi betah baca buku berlama-lama karena dibuat nyaman sama semua aspek yang ada di buku ini. Dan waktu aku tanya cerita favoritnya, dia memilih Apollonia si Ratu Selai. Alasannya karena dia suka rasanya jadi Apollonia yang selalu dilindungi oleh orang-orang di sekitarnya. Dari sini aku kayak diingatin lagi kalau rasa aman adalah hal sederhana sekaligus mewah yang selalu didambakan oleh anak dari orang-orang di sekelilingnya. Semoga kita bisa selalu menyediakan rasa itu yaa~






Rekomendasi

Untuk kamu atau anak-anak di sekitar kamu yang lagi butuh buku ini, link belinya aku taruh di bawah yaa~
Beli di gramedia.com
Beli di shopee

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *