Penulis: Mijin Jung
Illustrator: Jaseon Gu
Penerbit: Baca
Tahun Terbit: 2024
Jumlah Halaman: 58 hal.
Personal Rating: 4.5 / 5 ⭐
Kalau ada buku yang gak bikin aku terkesan, buku ini adalah salah satunya. Sampai aku menyadari kalau ternyata latarnya adalah …
Sinopsis
Anabul adalah bagian dari keluarga. Saat waktu mereka usai, rasanya sebagian dunia pun ikut pergi bersama mereka. Sentuhan yang menenangkan, pelukan hangat dan setiap sambutan yang mereka berikan tak lagi bisa dirasakan. Semuanya hilang dan rasanya pun hampa.
Apa yang mereka rasakan di sana? Apakah kita masih menjadi manusia yang berarti bagi mereka? Apa yang akan mereka katakan saat melihat temannya merasakan kehilangan yang begitu besar saat mereka pergi?
Buku ini ada untukmu yang ingin merasakan pelukan hangat dari anabul yang tak mungkin lagi untuk kembali.
Dari sebuah tempat yang mereka pilih untuk datangi sebelum benar-benar pergi, para anabul akan bercerita tentangmu: tentang apa yang tidak disukainya darimu, tentang segala keluhan yang tak bisa disampaikannya dahulu. Dan di akhir, layanan surat akan datang untukmu yang ditinggalkan. Apa yang akan mereka sampaikan setelah menghabiskan waktu selama hidup bersamamu?
Gaya Penulisan dan Ilustrasi
Buku berformat komik ini ditulis dengan gaya bahasa yang santai dan terjemahan yang mengalir serta mudah dimengerti. Walau latarnya bersalju, tone warna sepia yang digunakan untuk ilustrasi di buku ini sukses memberikan kesan hangat yang bisa dirasakan langsung oleh pembaca yang menikmati buku ini.
Kesan Membaca
Butuh dua kali membaca sampai aku ngeh di mana sebenarnya latar cerita dari buku ini. Awalnya aku kira isi buku ini cuma cerita tentang keluhan para hewan peliharaan kepada majikannya. Gak ada yang spesial, sama sekali gak berkesan.
Tapi setelah mengerti, aku malah mbrebes mili 🥲 The rest stop ini ternyata tempat yang istimewa. Dan anabul yang datang ke sana juga bukan sekadar untuk kunjungan biasa. Mereka datang untuk menyampaikan pesan pada manusia yang telah mereka tinggalkan. Sepucuk surat sederhana dengan rasa hangat yang luar biasa.
Pesan Moral
Kita yang menjadikan anabul sebagai teman hidup mungkin pernah bertanya-tanya apakah mereka punya rasa yang sama untuk kita? Apakah mereka menyayangi kita sebanyak kita menyayangi mereka? Apa yang mereka rasakan saat waktu meminta mereka untuk pergi meninggalkan kita?
Bagi seseorang yang pernah kehilangan anabul di hidupnya, buku ini seolah menjadi obat dari duka yang hadir karena kepergian mereka, menjadi penawar untuk rindu bagi raga yang tak mungkin lagi berjumpa. Bagi kita, anabul mungkin menjadi teman, penghilang penat setelah berjibaku seharian. Tapi bagi mereka, kita adalah segalanya. Sampai akhir pun, yang mereka pikirkan adalah kita. Dan jika the rest stop memang ada, mungkin mereka sedang ada di sana, menyiapkan surat yang akan dikirimkan untuk kita, sebuah pesan rahasia yang hanya bisa dibaca oleh seseorang yang pernah hidup bersamanya. “Terima kasih, aku sangat bahagia.”
Rekomendasi
Untukmu yang pernah atau sedang hidup bersama anabul, aku sangat merekomendasikan buku ini.
Beli di shopee

