Review Buku Funiculi Funicula: Before The Coffee Gets Cold

Review Buku Funiculi Funicula: Before The Coffee Gets Cold

Penulis: Toshikazu Kawaguchi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2024
Jumlah Halaman: 224 hal.
Personal Rating: 4.5 / 5 ⭐

Terkadang banyak orang lupa betapa berharganya waktu yang dimiliki untuk bersama seseorang yang dicintai. Ketika semuanya hanya (akan) menjadi kenangan, rasa sesal yang akan tertinggal. Dan jika kamu salah satunya, kafe ini akan meminjamkan waktunya untukmu. Tak lama, hanya sampai sebelum kopinya menjadi dingin.

Kafe ini bernama Funiculi Funicula, kafe bawah tanah yang terletak di sebuah gang kecil di Tokyo. Di kafe yang telah berumur lebih dari seratus tahun ini, ada sebuah kursi yang bisa membawa seseorang menjelajahi waktu dengan berbagai macam syarat. Salah satu syaratnya adalah sang penjelajah harus kembali ke masa sekarang sebelum kopi yang disajikan menjadi dingin. Jika terlanjur dingin dan lupa kembali, penjelajah waktu akan berubah menjadi hantu. Bukan hanya itu, perjalanan waktu ini juga tak akan mengubah keadaan apapun di masa kini. Jadi, masih adakah yang mau menggunakan kursi itu jika tak akan ada yang berubah?

Masih! Di buku ini ada empat orang (selain hantu kursi) yang mencoba memutar waktu untuk bertemu dengan orang yang mereka kasihi. Keempatnya berhasil bertemu dengan orang yang mereka inginkan melalui kursi ini. Tapi, peraturan tetaplah peraturan. Tak ada satupun yang mampu mengubah keadaan di masa kini saat mereka kembali. Satu-satunya yang berubah hanyalah diri mereka sendiri.

Novel slice of life ini ditulis dengan POV orang ketiga dan alur maju mundur. Kisah setiap pengunjung kafe yang melakukan perjalanan waktu adalah kisah-kisah sederhana yang mungkin sudah sering kita temukan di berbagai tempat dan sebenarnya cukup mudah ditebak buat aku. Tapi tetap saja, setiap kisah sederhana di novel ini tak pernah gagal untuk membuat aku tersentuh sampai sesekali tersedu. Ah iya, juga penasaran! Karena masih ada beberapa misteri yang sampai akhir buku ini masih juga tak terjawab. Apa harus lanjut ke buku kedua nih?

Menyelesaikan novel ini tepat sebelum mengalami kehilangan yang cukup besar membuat aku menyadari bahwa waktu bersama dengan orang tersayang adalah berkah yang tak ternilai harganya. Maka tak masalah tak ada yang berubah, karena melihat ia yang telah tiada walau hanya sebentar saja ternyata sudah sangat berharga. Dan buku ini mengingatkan itu berkali-kali dengan cerita para pengunjung kafe. Memang tak ada keadaan yang akan berubah setelah kunjungan ke masa lalu di kafe ini. Tapi perasaan mereka, siapa yang tahu.?

Katanya buku slice of life akan membuat hati terasa hangat saat membacanya. Tapi aku rasa buku ini lebih bisa membuat matamu panas dan mengalirkan buliran air yang tak bisa tertahan. Jadi, selamat menikmati sambil menyeduh kopi. Jangan lupa, habiskan sebelum dingin yaa~

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *