Penulis: Toko Koyanaga
Penerbit: Baca
Tahun Terbit: 2021
Jumlah Halaman: 349 hal.
Personal Rating: 4.5 / 5 ⭐
Cantik itu privilege, setuju gak? Sebagian besar orang rasanya setuju ya, termasuk aku. Tapi tidak dengan Kiriko. Ia benar-benar membenci wajah yang sempurna bahkan di mata dokter bedah plastik itu. Deretan pengalaman tak menyenangkan telah membuatnya trauma hingga rela menabung agar tak lagi melihat wajah cantiknya itu di cermin. Bahkan suaminya sendiri menjadikannya manekin untuk dipamerkan sebagai pencapaian pribadi tanpa benar-benar memperlakukannya sebagai istri.
Karena traumanya itu, ia selalu menyembunyikan wajahnya dibalik masker dan kacamata reben saat berada di tempat kerja. Ia bekerja di panti lansia sebagai staf dapur karena sangat mencintai dapur. Dan di kondomium mewah yang ditempatinya bersama sang suami, ia malah tak diijinkan untuk menyentuh dapur sedikitpun. Tanpa disadari, dari panti inilah Kiriko menemukan kepingan demi kepingan dirinya yang memudar, semakin samar dan hampir saja hilang. Bersama dengan berbagai makanan lezat beserta mereka yang menyiapkannya, Kiriko berjalan perlahan mengumpulkan semua kepingan itu menjadi satu.
Membaca buku yang ditulis dengan POV Kiriko sebagai orang pertama ini bener-bener membuat aku gregetan. Bisa-bisanya gak sadar udah hidup sama suami yang super red flag bertahun-tahun dan malah selalu menganggap suaminya adalah orang baik. Ya tentu saja bukan tanpa alasan. Perjalanan hidup Kiriko yang diceritakan melalui alur maju mundur di novel ini sedikit banyaknya membuat aku paham kenapa ia memilih menikah dan bertahan dengan suaminya.
Romansa Kiriko -juga tokoh lain- di novel ini memang buat shick shack shock cenderung agak gak bisa aku terima. Tapi lagi-lagi, semuanya jadi wajar dengan latar belakang tokoh yang punya trauma dan kehilangan sosok yang dibutuhkan sejak kecil. Untungnya ending novel ini sangat realistis sampai aku gak bisa berharap ending yang lebih baik dari ini.
Kehilangan diri sendiri tak kalah menyakitkan dibandingkan kehilangan orang tersayang. Di saat diri sendiri seolah berjalan meninggalkan raganya, yang tersisa hanyalah cangkang kosong yang rapuh dan bisa hancur kapan saja. Maka sebelum menjadi kepingan yang tak berharga, berjalan perlahan untuk menemukan sisa kepingan yang hampir terlupa akan mengembalikan makna hidup yang berharga bersama orang yang dicinta.






