Penulis: Natsume Sōseki
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2021 (Edisi Digital)
Jumlah Halaman: 224 hal.
Personal Rating: 4 / 5 ⭐
Sumber: iPusnas
Menyandang gelar ‘guru’ lazimnya bisa membuat derajat seseorang menjadi lebih mulia. Tapi akankah hasilnya sama jika ia berada di sebuah sistem yang penuh cacat di mana-mana?
Sinopsis
Ia dipanggil Botchan. Bukan sebuah nama, melainkan panggilan terhormat bagi tuan muda dari pembantu rumah tangga yang bekerja di rumahnya, Kiyo. Panggilan itu masih melekat bahkan hingga keluarga Botchan berpencar untuk menemukan jalan hidupnya masing-masing.
Setelah lulus dari Sekolah Ilmu Alam Tokyo, Botchan ditawari untuk mengajar di sebuah desa bernama Shikoku dengan gaji empat puluh yen sebulan. Sebenarnya ia tak memiliki keinginan untuk menjadi guru. Tapi di saat yang sama, ia juga tak punya gambaran masa depan lain selain menyambung hidup dengan mengajar. Karena itu, ia pun menerima tawaran untuk pergi ke pedesaan dan menjadi guru matematika di sana.
Botchan yang terbiasa hidup di pusat kota Tokyo merasa membutuhkan beberapa hiburan yang bisa membantunya untuk tetap ‘waras’ selama tinggal di Shikoku. Hari-hari pertamanya diisi dengan menikmati mie tempura dan dango sampai puas tanpa menyadari hal itu akan menjadi awal dari segala kekacauan yang menimpanya di sekolah.
Unsur Intrinsik Novel dan Gaya Penulisan
Menggunakan alur maju yang sederhana, novel ini bercerita tentang keseharian Botchan selama menjadi guru di sebuah sekolah di pedesaan yang bernama Shikoku. Bagi seorang yang terbiasa tinggal di Tokyo, tempat ini terasa cukup membosankan. Karena itu, ia berusaha mendatangi beberapa tempat untuk sekadar makan makanan enak. Tapi kesenangan itu hanya bertahan sementara karena di hari-hari berikutnya ia malah jadi bahan olok-olokan oleh para muridnya.
Bukan hanya mengajari murid yang tak tahu sopan santun, Botchan juga harus berhadapan dengan sistem sekolah yang membuatnya tidak nyaman: kesenjangan jabatan, ketidakadilan dalam pembagian tugas dan kehadiran penjilat sejati yang mengiyakan semua kata atasannya.
Melalui sudut pandang Botchan sebagai orang pertama, kita bisa merasakan bagaimana ia sebagai orang yang memegang teguh kejujuran dan bersikap terlalu terang-terangan menjadi begitu kesulitan untuk berinteraksi di sekolah ini. Dan sayangnya, apa yang dianggapnya benar malah jadi boomerang bagi dirinya di kemudian hari.
Kesan Membaca
Aku lumayan kaget waktu pertama kali baca novel ini. Figur yang digambarkan melalui tokoh Botchan bisa dibilang bukan figur yang ‘ideal’ sebagai seorang guru. Penokohannya yang blak-blakan dan cenderung melawan sistem membuat aku bertanya-tanya apakah ia memang pantas menyandang status sebagai pengajar di sekolah itu.
Tapi setelah dibaca makin jauh, aku jadi ngerti kalau yang bermasalah itu bukan Botchannya, tapi malah sistem sekolahnya. Kehadiran Botchan di sekolah itu ngasih gambaran bahwa sistem pendidikan di sana berjalan dengan manajemen yang buruk dan dikelola oleh orang-orang yang busuk.
Sepanjang baca novel ini aku dibuat kesel sama kelakuan murid dan para guru yang memegang jabatan penting di sekolah itu. Satu-satunya yang buat aku bertahan baca novel ini adalah rasa penasaran. Siapa yang lebih kuat? Sistem yang sudah mengakar atau kejujuran yang diperjuangkan? Dan endingnya cukup buat aku puas. Bukan karena sesuatu yang aku harapkan, tapi terasa begitu realistis untuk disangkal.
Pesan Moral
Dari novel ini aku belajar bahwa niat baik dan dedikasi dari seorang guru tak serta merta bisa menjadi jalan kesuksesan untuk para muridnya, pun tak juga menjadikan sang guru dipandang mulia oleh sekitarnya. Tapi bukan berarti kita boleh menyerah untuk mendidik manusia. Mungkin formulanya saja yang perlu diubah: bisa jadi tempatnya, targetnya atau bila memungkinkan, langsung saja ke sistemnya.
Rekomendasi
Novel ini aku rekomendasikan buat kamu yang butuh bacaan dengan tema guru sambil menikmati sastra klasik Jepang yang punya ciri khasnya sendiri. Selamat menikmati~

