Review Buku Bogor Mengaduk Waktu

Review Buku Bogor Mengaduk Waktu

Penulis: Avia Maulidina
Penerbit: Bhuana Sastra
Tahun Terbit: 2024
Jumlah Halaman: 200 hal.
Sumber: Gramedia Digital
Personal Rating: 5 / 5 ⭐

Anak SMP bisa apa? Scrolling sosmed sama ikutan trend viral demi masuk FYP? Yaaahh, belum ketemu Catur sih. Sini-sini aku kasih tahu pesona anak SMP keren -walau agak nekat- yang bakalan ngajak kamu berpetualang ke Bogor di dua lini waktu yang berbeda~

Sinopsis

Hujan yang turun hari itu ternyata bukan hujan biasa. Itu adalah sihir atau fenomena alam ganjil atau keajaiban atau hal aneh yang hanya terjadi di sini, Bogor. Sejak hari itu, ada kehidupan lain yang tiba-tiba hadir di tengah masyarakat Bogor tahun 2023, mereka adalah Bogor tahun 1923. Secara tak terduga, kehidupan sebuah kota di dua lini waktu yang berbeda sedang berbagi tempat, menjalani hidup di waktu sendiri sekaligus mengamati jalannya kehidupan garis waktu lain di saat yang sama. Bogor 1923 bisa dilihat hanya jika kita fokus untuk mengubah sudut mata saat melihat mereka, layaknya memperhatikan banyak gambar di satu mainan 3D hadiah Chiki tahun 2000an. Sederhananya, warga Bogor tahun 2023 seperti hidup bersama dengan ‘penampakan’ kehidupan seratus tahun silam sejak hujan lebat itu terjadi.







Keesokan paginya, Catur kedatangan seorang loper koran berusia lima tahun dari tahun 1923. Ia membawa catatan yang isinya: “Anak sang Wali Kota dari masa depan harus mengembalikan waktu seperti semula“. Awalnya Catur tak ambil pusing dengan surat itu sampai ia menyadari bahwa Ayahnya (dengan huruf kapital A yang artinya ayah kandung Catur, karena sekarang ia telah diadopsi oleh Wali Kota Bogor) menghilang. Kalau menurut teman sebangku Catur -yang untungnya jauh lebih pintar daripada Catur-, Nada, Ayahnya mungkin bisa saja terlempar ke tahun 1923 dan surat itu adalah cara Ayah meminta tolong karena ia ingin kembali. Spekulasi Nada ini kemudian membawa mereka ke petualangan pencarian Ayah Catur bersama dua anak laki-laki dari tahun 1923, Margana -loper koran pribumi pembawa pesan misterius- dan Han -anak dari seorang petinggi Belanda.

Dari petualangan untuk mencari Ayah Catur, mereka menemukan bahwa waktu yang teraduk di Bogor ternyata bukanlah sebuah fenomena alam yang kebetulan, tapi ada yang membuatnya sengaja terjadi. Siapakah dalang di balik kekacauan ini? Benarkan Ayah Catur terlempar ke tahun 1923? Berhasilkan Catur dan kawan-kawan mengembalikan Bogor ke keadaan semula?

Unsur Intrinsik Novel

Petualangan seru bocah-bocah nekat ini ditulis dengan alur maju yang sat set dan lumayan bikin dag dig dug buat buibu kayak aku. Sudut pandang yang digunakan di novel ini juga cukup unik, yaitu sudut pandang orang ketiga yang selain jadi pengamat dan penutur ternyata juga punya andil cukup besar di jalannya cerita. Penasaran gak tuh?

Dari perjalanan menemukan Ayah Catur, novel ini ngajak pembaca untuk melihat Bogor di dua waktu yang berbeda. Secara gak langsung, aku jadi tahu beberapa sejarah kota Bogor lengkap dengan bangunan, peninggalan sejarah, kehidupan masyarakat sampai tokoh-tokoh yang berpengaruh di kota ini.





Gaya Penulisan dan Penyampaian

Karena latarnya di Bogor, bahasa Indonesia campur bahasa Sunda lengkap dengan logatnya jadi bahasa sehari-hari yang digunakan para tokoh di novel ini, tapi itu di tahun 2023. Untuk kehidupan di lini masa satunya -tahun 1923-, campurannya bukan bahasa Sunda, tapi bahasa Belanda, Bahasa Indonesia yang dipakai pun masih versi yang lebih jadul (read: bahasa Melayu). Kombinasi bahasa yang dipakai membuat feel membaca novel ini jadi lebih berasa. Walaupun para tokoh seolah berkomunikasi di tempat dan saat yang sama, tapi aku tetep bisa ngerasain perbedaan waktu orang-orang yang hidup di dalamnya.

Satu hal yang buat aku kurang nyaman selama baca novel ini adalah bagian catatan kaki yang gak bener-bener di ‘kaki’ kalo baca dari Gramedia Digital. Aku yang buta sama sekali dengan bahasa Sunda dan Belanda ini lumayan kerepotan nyari arti kata-kata yang baru bisa dibaca di akhir bab.

Kesan Membaca

Aku excited banget selama baca novel ini. Bukan cuma petualangan Catur dkk yang super seru, tapi unsur sejarah yang kuat dan elemen fantasi yang gak terduga juga buat aku betah baca novel ini. Dan bisa tebak apa bagian favoritku? Yap endingnyaaaa~ aku dibuat deg-degan sekaligus terharu di bagian ini, asli bikin merinding. Aku gak nyangka kalo endingnya bakalan ada atraksi dari ‘mereka’ yang sukses buat panik orang-orang satu kota.

Pesan Moral

Dari novel yang bisa dibilang tipis ini, banyak banget pelajaran yang bisa diambil oleh pembacanya. Yang pertama soal karakter para tokoh yang berkembang menjadi lebih baik setelah peristiwa teraduknya waktu di kota Bogor. Ada Catur yang lebih menghargai kehadiran Ayahnya, ada Nada yang mulai bisa berteman dengan tulus, ada Han yang berani mengambil keputusan ekstrim untuk hidupnya dan ketiga orang tua Catur yang akhirnya bisa berbagi tanpa merasa tersaingi.

Yang kedua, tentu saja soal sejarah dan peninggalannya. Di era serba modern saat ini, berapa banyak sih dari kita yang masih mau capek-capek belajar sejarah kalo bukan karena kewajiban sekolah? Padahal, bangunan-bangunan tua atau berbagai situs sejarah sebenernya bukan cuma benda mati yang gak ada harganya. Mereka adalah kumpulan memori orang-orang yang hidup di masanya. Mengunjungi, masuk dan belajar tentang mereka artinya juga adalah melestarikan kehidupan orang-orang yang menjadi leluhur kita dulu. Kita bukan siapa-siapa kan kalo tanpa mereka?

And last but not least, kita perlu ngasih tahu anak-anak muda gak sih kalau ada banyak sekali yang bisa kita lakukan di luar sana. Dunia itu luas, banyak petualangan yang menanti, banyak tempat yang bisa dikunjungi dan begitu banyak hal yang bisa dipelajari. Sayang banget kalau hari-hari cuma diisi sama waktu yang intimate bareng gadget. Ayo keluar dan temukan petualanganmu~

Ketiga poin di atas udah cukup jadi alasan buatku untuk berharap novel ini bisa dibaca oleh lebih banyak orang, terutama anak-anak muda. Lebih muluknya lagi, semoga bisa jadi film atau serial yaaa, Aamiin~ kapan lagi bisa liat film fantasi yang tokohnya remaja dan ceritanya kental sama sejarah Indonesia 🥹

Rekomendasi

Panggilan khusus buat Gen Z dan Gen Alpha yang butuh bacaan yang seru dan berbobot, novel ini aku rekomendasiin buat kalian. Dan untuk segala usia yang suka baca genre fantasi dan petualangan yang seru ditambah unsur sejarah yang kental, boleh banget lo ikutan baca juga karena emang se-seru ituuuuu~

Yang mau beli bukunya bisa klik link di bawah ya~
https://aff.gramedia.com/s/LpnPHbNqax
https://s.shopee.co.id/5KzUoTLvkG

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *