Review Buku The Door-to-Door Bookstore

Review Buku The Door-to-Door Bookstore

Penulis: Carsten Henn
Penerbit: Baca
Tahun Terbit: 2023
Jumlah Halaman: 301 hal.
Personal Rating: 5 / 5 ⭐

Aku tuh tipe orang yang gak tegaan kalo udah liat orang tua yang udah sepuh tapi masih harus kerja, jadi pengen bantu walaupun gak selalu bisa. Setelah baca buku ini, aku tau kalau aku gak sendiri. Ada juga Schascha yang gak ragu bilang begini,

“… Aku Schascha. Aku membantunya hari ini. Katanya kita harus selalu membantu orang yang lanjut usia” (hal. 77)

Memangnya siapa sih yang mau dibantu Schascha?

Sinopsis

Dia adalah Carl Kolhoff, seorang pegawai istimewa dari sebuah toko buku yang bernama Gerbang Kota. Setelah toko tutup, Carl melakukan tugasnya berpatroli keliling kota untuk mengantarkan buku-buku yang disiapkan khusus untuk para pelanggan yang ia beri julukan berdasarkan tokoh-tokoh novel yang pernah dibacanya. Terkadang, para pelanggan tak memesan satu judul khusus untuk dibawakan oleh Carl karena mereka percaya bahwa Carl tahu buku apa yang sedang mereka butuhkan. Dan tentu saja, Carl tidak pernah mengecewakan mereka.

Carl yang suka keteraturan -bahkan sampai ritme langkahnya pun ia pastikan sama setiap hari- tiba-tiba kedatangan seorang gadis kecil -sekitar sembilan tahun- yang tak diundang, Schascha namanya. Gadis itu mengikuti ke setiap rumah yang didatangi oleh Carl. Awalnya, Carl merasa sangat tidak nyaman dengan kehadiran Schascha karena ia hanya merusak pola yang telah dibuat Carl selama ini. Bukan hanya itu, terkadang gadis kecil ini juga bertingkah seperti orang dewasa dan bahkan bernyali sekali untuk mengajari orang tua dan berpengalaman seperti Carl soal buku -sekali lagi, soal BUKU!- yang harusnya menjadi spesialisasi Carl sejak lama. Tapi, lama kelamaan Carl yang merasa terganggu malah jadi terbiasa dengan kehadiran Schascha sampai-sampai ia tak masalah jika harus berjalan sedikit lebih lambat atau berhenti sebentar untuk makan es krim bersama Schascha.





Saat-saat bersama Schascha ternyata tak berlangsung lama. Tiba-tiba saja gadis itu menghilang tanpa jejak bersamaan dengan pekerjaan Carl di toko buku yang juga terancam. Carl mencarinya ke seluruh penjuru kota dan mendatangi setiap sekolah yang mungkin ada Schascha di sana. Tapi hasilnya nihil. Tak ada anak yang bernama Schascha di kota ini. Siapakah Schascha sebenarnya? Apakah Schascha benar-benar menghilang? Atau memang tak pernah ada sejak awal? Dan bagaimana nasib pekerjaan Carl selanjutnya? Apakah layanan pengantaran buku memang sudah seharusnya dihentikan?

Unsur Intrinsik Novel

Buku tentang buku memang tak pernah gagal untuk membuat para penikmat buku jatuh cinta, termasuk aku. Ditulis dengan alur maju dan sudut pandang orang ketiga, buku ini menceritakan tentang dua tokoh pecinta buku dengan kepribadian dan latar belakang yang sangat berbeda. Carl, orang tua yang suka pola, keteraturan dan selalu memberikan rekomendasi buku dengan genre yang sama untuk setiap pelanggannya harus bertemu dengan seorang Schascha yang spontan, dipenuhi ide liar dan suka menganalisa setiap pelanggan Carl -tanpa diminta. Kombinasi mereka berdua ini menjadi warna baru bagi kehidupan para pelanggan Carl yang ternyata menyimpan banyak rahasia. Dan siapa sangka kalau ternyata Schascha bukan sekadar anak kecil yang kurang kerjaan, tapi malah jadi sumber kehangatan bagi orang-orang di sekitarnya, terutama untuk Carl sendiri.

Gaya Penulisan dan Penyampaian

Buatku pribadi, novel ini ditulis dengan sangat indah. Aku ketemu banyak kata-kata keren yang quotable banget sepanjang baca novel ini. Bahkan kalimat pertama dari buku ini aja udah langsung ngasih kesan yang dalem buat aku.

“Konon, buku akan menemukan pembacanya sendiri -walaupun kadang-kadang diperlukan seseorang yang menunjukkan jalan.” (hal.13)

Setiap kata-kata yang dipake di buku ini tuh kayak powerful banget, bisa ngasih banyak rasa yang buatku bakalan susah disampein sama orang lain, feelnya harus didapet dari baca bukunya secara langsung. Dan aku yakin sih bukan cuma penulisnya aja yang keren, tapi juga penerjemahnya, karena feel itu gak akan nyampek kalo terjemahannya susah dimengerti dan ujungnya malah bikin pembacanya bingung.







Kesan Membaca

Setelah baca buku ini sampek selesai, aku jadi tahu kenapa buku ini bisa jadi International Best Seller. Dari judul dan blurbnya, aku ngira buku ini hanya akan bercerita tentang kehidupan para pelanggan Carl dan bagaimana buku bisa ngasih keajaiban di hidupnya mereka. Tapi lebih dari itu: buku bisa jadi keajaiban bagi sang juru antar veteran dengan jalan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Aku tuh sempet sedih banget waktu Carl dapet perlakukan jahat dari orang-orang di sekitarnya. Dalem hati tuh aku sampek bilang “bisa-bisanya orang udah tua digiiniin, kok tega?” 🥲 Baper banget lah aku. Apalagi setelah perjuangan yang udah dibuat Carl agar pelanggannya tetep bisa baca buku saat dia udah gak dapet gaji lagi, ih bener-bener gak tegaaaa~ Walaupun somehow aku bisa ngerti alasan orang-orang ini bisa segitunya sama Carl, tapi tetep aja perlakuan mereka tuh buat aku sedih 🥲

Kalau soal endingnya gimana, kali ini aku mau minjem jawaban Carl si Juru Antar Buku,

“Apa selama ini saya pernah membocorkan akhir cerita kepada Anda?” (hal. 19)

Pesan Moral

Buku yang menghangatkan hati? Tentu saja, itu sudah pasti. Pesona buku tentang buku tak akan jauh-jauh dari itu kan? Tapi ada satu hal yang menurutku juga gak kalah menarik dari buku ini: tentang kehidupan orang tua dan bagaimana pekerjaan punya arti penting bagi hidupnya.

Pernah gak sih kita melihat orang yang udah sepuh tapi kok kayaknya energinya gak habis-habis? Uang sih cukup, pendapatan juga ada, tapi milih untuk tetap kerja di masa tuanya. Kerja apa aja yang bahkan menurut kita-kita yang masih muda ini malah bikin capek banget. Dari tokoh Carl di buku ini akhirnya aku ngerti kalau terkadang bagi sebagian orang, bekerja bukan cuma untuk mencari nafkah, bukan cuma soal uang atau penghasilan, tapi bagian dari kehidupan. Mengambil pekerjaan dari hidup seseorang -yang bahkan sudah tua sekalipun- artinya adalah mengambil jiwa yang telah dimiliki sepanjang hidupnya. Dan saat jiwa itu hilang, waktu yang tersisa pun tak lagi berarti bagi mereka. Layaknya Carl yang merasa,

“Juru Antar Buku tanpa buku yang bisa diantar dan kaki untuk berjalan sungguh tak bermakna.” (hal. 270)

Jadi menurutku, daripada sibuk nyuruh mereka istirahat, kenapa gak difasilitasi aja? Kalau masih bisa menikmati sisa waktu dengan cara yang bermakna, kenapa harus mengambil jeda karena terpaksa?

Rekomendasi

Untuk para bucin buku, kamu harus baca buku ini paling enggak sekali seumur hidup! Dijamin gak akan nyesel. Dan buat kamu yang suka cerita heartwarming, aku juga merekomendasikan buku ini buat dibaca. Atau buat kamu yang lagi berusaha memahami perasaan orang-orang tua di sekitarmu, buku ini juga mungkin bisa membantu. Selamat menikmati keajaiban buku ini yaa~

Yang mau beli bukunya bisa klik link di bawah ya~
https://aff.gramedia.com/s/AqWXsvYPnS
https://s.shopee.co.id/707Potcq1r

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *