Penulis: Mutiarini
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2022
Jumlah Halaman: 248 hal.
Personal Rating: 4.5 / 5 ⭐
Jika uang, kesempatan dan jaringan adalah privilese yang hanya bisa dimiliki oleh orang kaya, lalu yang miskin bisa dapat apa?
TW ⚠️: domestic violence
Sinopsis
Sebagai proyek akhir mata kuliah Publisitas, Bu Susan bekerja sama dengan Change TV menugaskan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pandawa untuk membuat kanal Youtube edukatif sebagai penyeimbang berbagai konten sampah yang sudah terlanjur digemari audience Indonesia. Uang senilai tiga puluh juta rupiah dan kesempatan untuk bekerja di stasiun Change TV akan menjadi hadiah bagi kelompok dengan Youtube channel terbaik.
Tugas ini berubah menjadi kompetisi yang sangat penting untuk Rara. Memenangkan hadiah dari Change TV adalah harapan terakhir Rara untuk bisa melanjutkan kuliah di tengah berbagai kesulitan ekonomi yang sedang dialaminya.
Tapi, Rara tahu ini tak akan mudah. Bersaing dengan kelompok Diva dengan berbagai privilese yang mereka miliki membuat Rara sudah merasa kalah dari awal. Diva dan kelompoknya punya uang, koneksi dan segala sumber daya yang akan sangat berguna untuk proyek ini.
“Jika ini pertandingan lari, maka ia dan mereka memulai dari garis start yang sama sekali berbeda.” (hal. 21)
Strategi apa yang akan dipilih Rara dan kelompoknya untuk memenangkan kompetisi ini? Apakah mereka mampu bersaing dengan Diva dengan segala privilesenya?
Unsur Intrinsik Novel dan Gaya Penulisan
Novel ini bercerita tentang Rara, seorang mahasiswi miskin penerima beasiswa yang berjuang untuk memenangkan kompetisi Youtube channel mata kuliah Publisitas melawan Diva dengan segala privilese yang sulit dikalahkan. Dibantu Giri, seorang psikolog muda, Rara dan kelompoknya membuat kanal Soul Diary yang mengangkat tema tentang kesehatan mental. Melalui pengalaman narasumber yang diundang ke channel tersebut, pembaca seolah diajak untuk menormalisasi pembicaraan tentang kesehatan mental di ruang publik.
Novel ini juga mengangkat beberapa isu lain yang tak kalah penting, seperti soal kesetaraan gender, kekerasan dalam rumah tangga, kemiskinan, dan yang terpenting adalah soal arti privilese itu sendiri. Walaupun isu yang diangkat bisa dibilang cukup serius, tapi dengan alur maju yang mengalir serta gaya bahasa yang dekat dengan keseharian membuat novel ini tetap terasa ringan dan mudah dimegerti, terutama oleh target pembacanya.
Kesan Membaca
Yang aku suka dari kebanyakan novel young adult -setidaknya yang udah pernah aku baca- adalah bagaimana cerita yang diangkat juga bisa menampilkan isu-isu yang sebenarnya penting, tapi terasa terlalu berat untuk dibahas di percakapan sehari-hari menjadi mudah untuk dipahami. Termasuk novel ini.
Aku suka dengan bagaimana penulis membahas isu kesehatan mental melalui para narasumber yang datang ke Soul Diary. Aku gak sepenuhnya relate sih sama masalah mereka. Cuma, dari novel ini aku jadi mengerti bahwa banyak sekali orang yang gak sadar kalau sebenarnya mereka punya masalah kesehatan mental; dan aku juga jadi belajar berempati dengan mereka yang mengalami masalah ini.
Berbagai isu lain yang turut diangkat di novel ini juga ngasih sensasi emosional yang gak kalah kuat. Perasaanku dibuat campur aduk sama Rara yang udah kayak kebab, digulung atas bawah kanan kiri sama masalah hidup yang akarnya adalah kemiskinan. Ditambah lagi orang terdekat yang harusnya bisa ngasih support malah jadi penyumbang masalah yang terbesar. Wajar aja kalau karakternya dia jadi ada nyebelinnya. Gak gila aja udah syukur sih~
Selain isu yang berat-berat, ada satu hal lagi yang menurutku menarik dan bikin aku betah baca novel ini. Tokoh-tokoh pendukung dan latar cerita yang dipakai di sini banyak yang sengaja dibuat mirip dengan yang ada di dunia nyata. Jadi selain menikmati jalan ceritanya, aku juga suka main cocokologi selama baca novel ini. Kayaknya Universitas Pandawa itu ini deh; kayaknya Alan Kartiwa itu si ini sih; Change TV ini pasti channel yang itu tuh. Jadi makin seru kan?
Pesan Moral
Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari novel ini. Tapi satu yang menurut aku penting kita sadari setelah membaca novel ini adalah setiap manusia lahir sepaket dengan privilesenya masing-masing. Tinggal bagaimana kita menyadari dan memanfaatkan privilese yang kita punya. Apakah kita sibuk menakar privilese orang lain dan meratapi ketidakpunyaan kita, atau malah fokus dan mengerahkan semua sumber daya tanpa sibuk membandingkan dengan apa yang dimiliki orang lain.
Rekomendasi
Buat kamu yang lagi butuh bacaan ringan sekaligus punya makna yang dalam, buku ini bisa banget jadi pilihan.
Beli di shopee

