Penulis: Masateru Konishi
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2026
Jumlah Halaman: 261 hal.
Personal Rating: 5 / 5 ⭐
Demensia mungkin bisa menghapus ingatan demi ingatan yang dimiliki oleh penderitanya. Tapi ia tak akan mudah mengambil kecerdasan yang telah diasah dalam waktu yang lama.
Sinopsis
Iwata mengajak Kaede ke kedai Italia untuk bertemu dengan juniornya, Shiki. Mereka membicarakan kasus pembunuhan di sebuah Izakaya yang pernah dikunjungi Kaede dan Iwata setahun yang lalu. Teman satu klub teater Shiki diduga terlibat dalam kasus itu. Shiki, yang juga berada di TKP saat kejadian itu berlangsung merasa bingung karena sampai keesokan harinya, polisi tak kunjung mengumumkan kasus itu ke publik. Karena itu, Shiki mengajak Iwata dan Kaede untuk ikut menganalisa apa yang sebenarnya terjadi di Izakaya malam itu.
Kaede setuju untuk ikut mendengarkan cerita Shiki karena ia sendiri sangat menyukai cerita misteri. Tapi untuk menyelidiki kasus ini, Kaede merasa ada orang yang lebih kompeten. Orang itu adalah kakeknya, Kakek Himonya. Karena itu, Kaede meminta izin kepada Shiki untuk merekam pembicaraan mereka agar kasus itu bisa didengar oleh Kakek Himonya secara menyeluruh.
Kakek Himonya bukanlah seorang detektif atau polisi. Ia hanya seorang penggila cerita misteri. Tapi jika kegilaan itu dikombinasikan dengan kecerdasan yang dimilikinya, maka tak ada kasus yang begitu sulit untuk dipecahkan oleh Kakek Himonya. Sayangnya, usia tua telah merenggut kesehatan kakek sedikit demi sedikit. Saat ini, kakek Himonya adalah penderita demensia, tepatnya Lewy Body Dementia. Penyakit ini membuat kakek terus-menerus mengalami halusinasi penglihatan yang terasa sangat nyata.
Apakah penyakit itu akhirnya akan menghilangkan kemampuan kakek dalam memecahkan kasus misteri? Atau malah mempertajam intuisi dengan berbagai imajinasi yang terlihat nyata di matanya? Apakah Kaede akhirnya mampu menemukan jawaban dari kasus pembunuhan di Izakaya malam itu?
Unsur Intrinsik Novel dan Gaya Penulisan
Novel ini menceritakan hubungan antara kakek dan cucu yang sangat menggilai cerita misteri. Karena memiliki ketertarikan yang sama, Kaede sering mengajak sang kakek yang dikenal dengan panggilan Kakek Himonya itu untuk menganalisa berbagai cerita misteri yang terjadi di sekitarnya. Dengan sudut pandang orang ketiga, pembaca akan diajak untuk memecahkan berbagai teka-teki dari kasus-kasus yang dibawa Kaede untuk dianalisa oleh Kakek Himonya.
Seolah tak cukup dengan sensasi cerita misteri, novel ini juga akan memberikan sajian kehangatan dari hubungan antara seorang cucu yang menemani kakek dengan penyakit Lewy Body Dementia. Novel ini akan memperluas pengetahuan pembaca tentang salah satu jenis dari penyakit demensia yang dialami oleh Kakek Himonya di novel ini. Dengan alur maju mundur, satu per satu cerita misteri yang dibawa Kaede pada akhirnya bukan hanya untuk memuaskan rasa penasaran para pembaca, tapi juga akan menuntun mereka menuju satu kisah di masa lalu yang belum terselesaikan sepenuhnya.
Kesan Membaca
Kalau harus mencari padanan kata yang pas untuk menggambarkan buku ini, aku akan pilih dua kata: kaya rasa. Kisah Kaede dan Kakek Himonya di buku ini sukses ngasih berbagai sensasi yang bikin perasaanku campur aduk.
Rasa penasaran dan deg-degan aku dapat dari cerita-cerita penuh misteri yang dibawa Kaede untuk dianalisa bersama Kakek Himonya. Dengan Lewy Body Dementia yang ia derita, pemecahan setiap kasusnya jadi terasa lebih menarik. Kakek Himonya gak hanya mempertimbangkan bukti dan saksi, tapi ia juga seolah melihat langsung kejadian demi kejadian melalui halusinasi yang terlihat nyata di depannya. Mungkin kedengarannya aneh, tapi Kakek Himonya -dengan ritual uniknya- selalu bisa mengungkap rahasia di balik setiap kasus yang dibawa Kaede.
Gak cuma sensasi ‘cerita misteri’ yang bisa aku rasain. Di novel ini, aku juga menikmati layer rasa yang berbeda dari hubungan antara seorang cucu dengan kakeknya. Sesekali ada rasa hangat, kayak lagi dipeluk dengan penuh kasih sayang; sesekali aku juga merasa ada di posisi Kaede yang bangga punya kakek pinter dan keren kayak Kakek Himonya. Tapi di sisi lain, gak bisa gak sedih sama semua kenangan yang berusaha dipertahankan sang kakek di saat demensia mengaburkannya sedikit demi sedikit. Jujur bagian ini berasa banget nyeseknya 💔
Kalau buat penggemar berat novel-novel CTM (crime, thriller, mystery), mungkin cerita-cerita di buku yang satu ini jadi terasa kurang nendang. Tapi buat aku yang bukan penggila genre tersebut, buku ini jadi pas banget buat aku. Rasa penasaran, deg-deg-an dan takutnya ada dengan kadar yang cukup, bukan yang sampai bikin merinding sebadan-badan. Aku masih bisa menjalani kehidupan real life dengan cukup santai dan gak bikin kepikiran. Sisi hangat, nyaman sekaligus nyeseknya malah terasa lebih nempel dan awet di aku. Suka bangettt 💕
Rekomendasi
Aku merekomendasikan buku ini buat kamu yang pengen nyobain sensasi cerita misteri yang bikin penasaran tapi sekaligus juga hangat. Yang mau CO, linknya ada di bawah yaaa~
Beli di shopee

