Review Buku Ramadhan, Maaf, Kami Masih Sibuk

Review Buku Ramadhan, Maaf, Kami Masih Sibuk

Penulis: Ahmad Rifa’i Rif’an
Penerbit: Quanta
Tahun Terbit: 2021
Jumlah Halaman: 248 hal.
Personal Rating: 4 / 5 ⭐

Katanya Ramadhan bulan mulia. Kabarnya banyak orang yang menantikan kehadirannya. Tapi kenapa hati ini rasanya biasa-biasa aja ya?

Sinopsis

Ramadhan datang dengan berbagai keistimewaan. Orang berbondong-bondong merayakan penyambutan. Tapi apa? Semua hanya jadi ritual belaka. Esensinya hilang karena kesibukan yang tak tertata. “Kenapa tak puasa?” “Pekerjaanku membutuhkan terlalu banyak tenaga.” “Kenapa shalatnya terlewat begitu saja?” “Ada meeting yang tak bisa ditunda.” Kenapa Al-Qurannya tak dibaca?” “Karena banyak undangan buka bersama.”

Do’anya minta diampuni, tapi Ramadhan diangguri. Cita-citanya dijauhkan dari api neraka, tapi ketika Ramadhan tiba malah sibuk belanja kebutuhan berhari raya.

Ramadhan, maaf, kami masih sibuk. Puluhan kali kita bersua, tapi kami masih saja sibuk dengan dunia. Tak sadar kalau tahun depan, bisa jadi kita tak lagi berjumpa.

Ya Allah, kami punya cita-cita besar. Menjadi hamba yang dijauhkan dari api neraka. Kali ini, ijinkan kami memaknai Ramadhan kembali, meresapi setiap ibadah istimewa di bulan yang suci, dan mendapatkan maghfirah yang Engkau turunkan untuk kami. Hingga nanti di hari yang fitri, dosa kami sepenuhnya telah diampuni dan terlahir kembali bak seorang bayi.





Gaya Bahasa dan Penyampaian

Buku ini bercerita tentang serba-serbi bulan suci Ramadhan. Mulai dari ritual penyambutannya, keutamaan ibadah-ibadahnya, sampai berbagai tradisi yang mengakhirinya, semua ada di buku ini. Bukan dengan penjelasan yang terstruktur, atau gaya bercerita yang menyenangkan, isi buku ini disajikan dengan renungan-renungan yang menyadarkan diri sekaligus menyentuh hati. Tujuannya sederhana, agar kita bisa memaknai kembali bulan Ramadhan yang suci ini.

Kesan Membaca

Pernah kan ketemu sama orang yang kita kenal baik, tutur katanya juga lembut, tapi sekalinya nasehatin orang lain, beugh, bisa langsung nusuk ke jantung hati yang paling dalam? Nah, vibes buku ini nih begini. Buat aku, baca buku ini tuh nyaman banget karena pilihan kata-katanya yang indah dan kesannya juga romantis. Tapi efek sampingnya juga gak main-main: tersindir dan tersentil berkali-kali.

Selama baca buku ini, aku kayak diajak merenungi kebiasaan-kebiasaan di bulan Ramadhan yang kayaknya biasa aja karena udah sering dijalanin setiap tahun. Padahal kalau sadar, aku tuh sebenernya udah melewatkan banyak esensi dari semua ‘kebiasaan’ itu. Misalnya sibuk war takjil, tapi lupa kalau puasa itu untuk menahan nafsu. Siangnya latihan, terus malamnya malah begah karena kebanyakan makan. Contoh lain juga sibuk belanja untuk kebutuhan hari raya, tapi sedekah malah seadanya.

Dan bagian yang paling jleb adalah waktu bahas soal kematian. Mentang-mentang udah sering ngelewatin Ramadhan, aku lupa kalau bisa aja Ramadhan tahun ini adalah yang terakhir. Gak inget kalau manusia tuh punya batas usia yang cuma Allah yang tahu. Udah gak tahu hidup sampai kapan, masih aja sepele sama Ramadhan. Gak tahu malu banget ya aku 🥲

Walaupun udah tahu, ternyata aku juga manusia yang banyak lupanya. Dan aku bersyukur banget bisa ketemu buku ini di waktu yang tepat, buat ngingetin lagi bahwa Ramadhan itu mulia, Ramadhan itu berharga. Jadi kalau aku masih aja sibuk sama dunia, bayangin aja betapa ruginya 🥲




Rekomendasi

Untukmu yang ingin memaknai lagi bulan Ramadhan yang sering terlewatkan, aku sangat merekomendasikan buku ini.
Beli di shopee

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *