Penulis: Baek Se Hee
Penerbit: Haru
Tahun Terbit: 2023 (Cetakan ke-27)
Jumlah Halaman: 236 hal.
Personal Rating: 4 / 5 ⭐
Dari judulnya aja udah galau banget: mau mati atau mau jajan nih? Bisa-bisanya orang yang pengen mati kepikiran buat jajan 🫤
Sinopsis
Istilah distimia bisa jadi kalah populer dengan depresi. Walaupun keduanya saling terkait, kedua istilah ini ternyata mempunyai perbedaan yang cukup kentara. Berbeda dengan depresi mayor yang menunjukkan gejala depresi berat, distimia atau gangguan distimik adalah sebuah gangguan yang penderitanya mengalami gejala depresi ringan yang berkepanjangan dan terus-menerus.
Melalui buku ini, kita diajak untuk melihat lebih dalam apa yang dirasakan oleh seseorang yang menderita depresi jangka panjang, mulai dari kekosongan hati, tidak percaya diri, hingga sesekali ingin mati. Buku ini adalah dokumentasi dari penderita distimia yang berjuang untuk melepaskan diri dari jeratan depresi. Walau tak sempurna -dan tak akan pernah bisa- tapi buku ini menjadi saksi dari dua orang -penulis dan psikiaternya- yang terus bertumbuh bersama dengan setiap sesi konsultasi yang mereka jalani.
Gaya Bahasa dan Penyampaian
Buku ini disajikan dalam bentuk percakapan antara penulis dengan psikiater yang direkam dalam setiap sesi konsultasi. Walaupun sesekali ada istilah medis yang digunakan, tapi psikiater selalu bisa menjelaskan istilah itu dengan bahasa sederhana agar mudah dimengerti oleh pasien -dalam hal ini penulis- yang secara tidak langsung juga membuat kita para pembaca bisa dengan mudah memahami isi buku ini.
Kesan Membaca
Selama membaca buku ini, aku seperti diajak untuk ikut masuk ke ruang konsultasi dan menyaksikan langsung bagaimana perjuangan seseorang untuk keluar dari jurang depresi. Iri, tidak percaya diri, merasa tidak berharga, ketergantungan kepada orang lain dan frustasi karena standar komunitas yang tak kunjung dicapai menjadi perasaan yang silih berganti hadir di ruangan itu. Adapun rasa bahagia, ia memang datang sesekali, tapi sayangnya tetap ada rasa cemas yang mengikuti.
Sebenarnya semua perasaan itu wajar, dan sangat mungkin dirasakan oleh setiap orang. Tapi dari buku ini aku belajar bahwa yang membedakan orang dengan atau tanpa depresi adalah penilaian yang ekstrem terhadap diri sendiri. Di buku ini, penulis senantiasa merasa tak cukup baik dan berharga bagi orang lain. Ia juga sering menyalahkan diri sendiri atas semua hal buruk yang terjadi di sekitarnya hingga pada akhirnya tak ada lagi cinta yang tersisa bagi dirinya sendiri.
Selama membaca buku ini, mungkin kita bisa menemukan serpihan diri kita dari setiap percakapan penulis dengan psikiaternya. Atau sesekali seperti diingatkan kepada seorang kenalan dengan gejala yang mirip. Tak apa, mungkin kita memang sedang berada di fase yang sama. Dan bersyukurlah karena kita sempat membaca pengalaman penulis dari buku ini.
Buku ini memang tak akan bisa mengobati. Tapi, buku ini bisa menjadi jalan untuk mengenal dan memahami mereka -atau kita- yang harus hidup bersama dengan depresi; untuk berempati, tak menghakimi dan memeluk mereka yang sedang berjuang untuk keluar dari sini. Dan untuk diri sendiri, yang paling patut untuk dicintai sebelum memilih untuk memberikan cinta kepada orang lain.
Rekomendasi
Untukmu yang sedang berusaha untuk mencintai diri sendiri, atau belajar berempati dengan keadaan orang yang depresi, aku merekomendasikan buku ini untukmu~
Beli di shopee
Beli di gramedia.com

