Review Buku Animal Farm

Review Buku Animal Farm

Penulis: George Orwell
Penerbit: Immortal Publishing
Tahun Terbit: 2025 (Cetakan ke-9)
Jumlah Halaman: 165 hal.
Personal Rating: 5 / 5 ⭐

Babi bukan sembarang babi
Yang lain nunduk, yang ini berdiri
Lagaknya berkorban untuk negeri
Tapi malah kaumnya yang gendut sendiri

Sinopsis

Peternakan milik Tuan Jones dikudeta. Bukan oleh pesaingnya sesama manusia, tapi oleh binatang ternaknya sendiri. Dipimpin para babi yang kecerdasannya melebihi yang lain, akhirnya peternakan itu merdeka dari campur tangan manusia. Mereka -para babi- kemudian mengubah nama tempat itu dari “PETERNAKAN MANOR” menjadi “PETERNAKAN BINATANG”. Lengkap dengan asas Binatangisme yang diringkas menjadi “Tujuh Perintah” dan lagu kebangsaan berjudul “Binatang Inggris”, para binatang pun siap menjadi tuan di tanah mereka sendiri.

Para binatang merasa tak masalah jika harus bekerja lebih keras, karena sejatinya seluruh peternakan itu adalah milik mereka, bukan lagi untuk menghidupi bangsa manusia. Hasil panen bisa dinikmati sendiri, buah dan susu akan jadi konsumsi pribadi.








Tapi nyatanya, para babi -yang dipercaya menjadi pemimpin karena lebih cerdas dari semua binatang- punya rencana lain. Ransum para binatang tetap dijatah -bahkan makin lama makin sedikit, susu dan apel hanya boleh dimakan oleh para babi dan mereka juga harus punya tempat sendiri dengan alasan agar otak dari peternakan ini bisa berfikir lebih jernih. Walaupun begitu binatang-binatang lain juga tak keberatan, karena mereka bekerja untuk kemakmuran tanah peternakan mereka sendiri. Sampai kapan mereka harus terus bekerja? Benarkah para binatang akhirnya bisa merasakan kemakmuran itu? Apakah benar mereka akan lebih sejahtera jika dipimpin oleh para babi dibandingkan oleh manusia?

Unsur Intrinsik Novel dan Gaya Penulisan

Buku ini ditulis menggunakan alur maju dan sudut pandang orang ketiga. Dibanding kalimat langsung, buku ini lebih banyak menjelaskan plot melalui cerita yang disampaikan oleh narator. Dalam penyusunan ceritanya itu, penulis seringkali menggunakan narasi yang seolah ‘menjebak’ pembaca dengan berbagai keadaan yang tampak baik-baik saja, tapi ternyata malah sebaliknya. Narasi seperti ini membuat kita -sebagai pembaca- seolah diajak terus berfikir, gak boleh lengah dan harus peka dengan semua pesan tersirat yang disampaikan oleh penulis. Tapi tenang, kayaknya selama masih jadi WNI, menurutku kita bukan kaum yang akan mudah terjebak sama narasi yang begini, karena situasinya terlalu relate dan penderitaannya juga terasa sampek ke jantung hati yang terdalam 🤣

Selain karena cerita yang rasanya deket banget sama keseharian kita -kita kan ya? Bukan cuma aku aja, buku ini juga enak banget dibaca karena terjemahannya yang gak kaku dan sangat mudah dimengerti, kecuali satu: penggunaan kata “pelbagai”. Selama ini, aku kira kata “pelbagai” adalah korban typo dari fitur autocorrect handphone ibu-ibu. Tapi, setelah googling KBBI, ternyata kata ini baku loh gaes~ kemana aja aku selama iniii 🙃

Kesan Membaca

Kalau akhir-akhir ini pikiranmu terlalu tenang dan membosankan, buku ini bisa jadi pilihan untuk membuat hidupmu lebih berwarna. Dijamin bikin hati panas membara karena emosi yang meledak-ledak. Plus bonusnya menambah amalan istighfar yang dapat mendekatkan diri pada sang Ilahi 🤣 Ini testimoni dari aku yang gregetan terus sepanjang baca buku ini. Berharapnya babi-babi ini endingnya tuh kena siksa kubur gitu karena saking zolimnya. Tapi kalo begini, nanti novel ini jadinya novel azab ya, bukan kritik sosial HAHAHA

Pesan Moral

Sebenernya pesan moral di novel ini banyak kalau mau dijelasin detail banget. Tapi di sini aku cuma mau kasih highlight yang wajib banget kita punya sebagai rakyat jelata yang -untungnya- masih punya akses untuk menilai dan memilih penguasa.

JANGAN JADI ORANG BODOH!

Tahu kan apa konsekuensi dari kebodohan ini? Yap, kita jadi mudah dimanipulasi dan dimanfaatkan oleh orang-orang yang kelakuannya mirip sama babi-babi di novel ini. Karena kecerdasan gak selalu linear dengan kebaikan seseorang, kita gak bisa dengan mudahnya percaya sama semua pencitraan atau narasi-narasi yang dibangun -terutama oleh calon pemimpin negara- demi mendapatkan simpati rakyat jelata seperti kita. Nah kalau kita cukup bodoh untuk jadi korban mereka, jadilah kita bernasib serupa dengan para binatang di novel ini, yang terus dikeruk sumber dayanya, tapi tetap menderita, yang kaya hanya mereka yang berkuasa.

“Entah bagaimana peternakan itu tampak makin kaya meski tidak menjadikan binatang-binatang itu sendiri lebih kaya -kecuali, tentu saja, babi dan anjing.” (hal. 121)

Rekomendasi

Singkat, padat, tepat: udahlah beli aja buku ini! Tipis, harganya aman di kantong, tapi sensasinya juara!!! Yuk, link belinya ada di sini yaaa~
https://aff.gramedia.com/s/PmHhLimdMS
https://s.shopee.co.id/60GIMCvZCD

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *