Penulis: Athirah Mustadjab
Ilustrator: Mega Setya Gama
Penerbit: Pinisi Samudra Ilmu
Tahun Terbit: 2024
Jumlah Halaman: 28 hal.
Personal Rating: 4 / 5 ⭐
Ayah mungkin tidak selalu di rumah, tapi ia tak pernah lelah untuk selalu memberikan yang terbaik bagi kami, anak-anaknya. Ayah mungkin tak sering berbicara, tapi ia tak akan pernah lupa membawa kami di dalam doa. Ayah, walau terkadang kita tak banyak bercerita, tapi kami tahu bahwa kasih sayang Ayah tak pernah ada batasnya.
Sinopsis
Cerita dimulai saat Ayah baru pulang ke rumah setelah selesai bekerja. Aku dan Adik memijat kaki Ayah agar lelahnya Ayah hilang. Saat adzan Maghrib berkumandang, Ayah mengajak kami untuk shalat berjamaah di masjid dan kemudian makan malam bersama dengan Ibu juga. Walaupun Ayah lelah seharian bekerja, Ayah tetap berusaha menjadi teladan yang baik di rumah. Apa lagi ya yang biasa Ayah lakukan di rumah?
Gaya Bahasa dan Ilustrasi
Buku cerita ini ditulis dengan sudut pandang anak sebagai orang pertama yang menceritakan sosok Ayah yang dikenalnya. Dengan sudut pandang orang pertama tersebut, cerita ini jadi terkesan dekat dengan anak-anak yang merupakan target pembaca buku ini. Pilihan bahasa yang digunakan juga mudah dimengerti khas bahasa sehari-hari sehingga anak-anak tidak akan mengalami kesulitan yang berarti dalam mencerna jalan cerita di buku ini.
Ilustrasi di buku ini menggunakan tokoh-tokoh yang faceless dengan pilihan warna yang lembut. Ilustrasi dan teks disajikan bergantian di halaman yang berbeda, sisi kiri halaman digunakan untuk ilustrasi, sedangkan sisi kanan berisi teks yang menceritakan gambar tersebut.
Pesan Moral
Buku ini bercerita tentang kegiatan yang Ayah lakukan di rumah sepulang dari bekerja. Tokoh Ayah ideal yang diceritakan bisa menjadi teladan yang sangat baik untuk para Ayah yang membaca buku ini. Ayah tidak memberikan seluruh tugas pengasuhan kepada Ibu. Di buku ini, Ayah mengajak anak-anak untuk shalat berjamaah dan kajian di masjid, mengangkat anak yang ketiduran ke kamarnya juga menjalin komunikasi antara anak kepada kakek dan nenek. Itu semua adalah bentuk kasih sayang Ayah kepada anak-anaknya. Tugas Ayah memang mencari nafkah di luar rumah. Namun saat pulang, kehadiran Ayah adalah hal yang paling ditunggu untuk menjadi teladan bagi anak-anaknya di rumah.
Setiap orang punya caranya sendiri untuk menyampaikan kasih sayangnya kepada orang lain, termasuk Ayah. Kebanyakan Ayah mungkin tak akan sering mengatakan "sayang" atau "cinta" secara langsung. Tapi sebenarnya setiap detik waktu, setiap tetes peluh dan setiap usaha untuk memastikan anak-anaknya tumbuh secara utuh adalah ungkapan cinta yang tak ternilai harganya.
Rekomendasi
Menjadi orang tua bukanlah perkara yang mudah, maka sudah selayaknya kita terus belajar untuk menjadi versi terbaik dalam membersamai anak-anak yang telah Allah amanahkan kepada kita. Dan belajar itu bisa dari mana saja, termasuk buku anak.
Di buku ini, tokoh Ayah digambarkan sangat ideal untuk menjadi teladan para Ayah saat berada di rumah. Oleh karena itu, sebelum membacakan buku ini kepada anak, aku sangat merekomendasikan para Ayah untuk membaca buku ini terlebih dahulu sambil meresapi sudah sejauh mana usaha Ayah untuk memaksimalkan peran mulia ini. Tidak hanya untuk Ayah, buku ini juga bisa digunakan oleh para Ibu sebagai media untuk membangun citra positif dan rasa cinta anak kepada sosok Ayah. Karena bisa jadi, rasa cinta itu tumbuh bukan hanya dari kehadiran Ayah, tapi juga lisan Ibu yang selalu memuliakan Ayah di depan anak-anaknya.
Yang mau beli bukunya bisa klik link di bawah ya~
https://s.shopee.co.id/9KTGdzrkMm







