Penulis: Aghnia Sofyan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama - M&C
Tahun Terbit: 2021, 2024 (Edisi Digital)
Jumlah Halaman: 300 hal.
Sumber: Gramedia Digital
Personal Rating: 5 / 5 ⭐
Apa yang kamu lakukan kalau tiba-tiba butuh uang lima belas juta saat kamu sendiri adalah penerima beasiswa di sekolah? Minta sama orang tua gak mungkin. Pinjem uang sama temen juga sama. Apalagi ya kemungkinannya? AHA! Nyari harta karun!
Sinopsis
Margo berhasil diterima sebagai penerima beasiswa di SMA Manggala Utama, tinggal selangkah lagi untuk menjadi anggota Manggala Future: klub wirausaha khusus siswa-siswi Manggala Utama. Klub itu memiliki jejaring yang sangat luas melalui kerja sama dengan berbagai pengusaha di dalam dan luar negeri. Cita-cita gadis itu adalah menjadi pengusaha besar dan Manggala Future (MF) bisa menjadi batu loncatan yang sangat menjanjikan.
Selain karena MF, motivasi terbesar Margo untuk menjadi siswa di Manggala Utama adalah karena ayahnya yang pernah menempuh pendidikan di sana. Sejak ayahnya meninggal, Laras -ibu Margo- selalu menghindari pembahasan yang berkaitan dengan ayahnya. Karena itu bagi Margo, Manggala Utama juga adalah tempat yang sangat tepat untuk merasakan keberadaan ayahnya.
Namun, menjadi anggota MF bukanlah perkara yang mudah. Selain proses seleksi formal yang harus dilalui oleh setiap calon anggota, Margo juga harus berhadapan dengan salah satu orang yang paling berpengaruh di Manggala Utama: Raja. Sayangnya, kesan pertama Margo saat bertemu dengannya -yang memang udah songong dari sananya- tidak cukup baik. Dengan pengaruhnya itu, Raja menghalangi langkah Margo untuk menjadi anggota MF dan mengajukan satu syarat agar ia bisa diterima di klub: membayar lima belas juta sebagai bentuk komitmen setiap anggota.
Di tengah kebingungannya untuk mendapatkan uang itu, Margo menemukan sebuah artikel yang ditulis ayahnya saat menjadi anggota MPost -klub jurnalis di Manggala Utama. Artikel itu mengatakan bahwa ada harta karun yang tersembunyi di dinding sekolah, dan siapapun yang berhasil menemukan harta itu, ia berhak memilikinya. Dari sinilah petualangan Margo dimulai~
Unsur Intrinsik Novel
Walaupun ini adalah karya debut penulis, tetapi novel ini malah menjadi novel kedua yang aku baca setelah Highly Unlikely. Aku merasakan beberapa kesamaan tokoh dan penokohan di novel ini dengan Highly Unlikely, sebut saja soal Margo dan Raya yang sama-sama anak yatim; dua tokoh utama lainnya yang terdiri dari satu laki-laki dan satu perempuan; Tati dan Popon yang punya nama panggilan yang terkesan jadul padahal nama aslinya modern sekali; dan tokoh dengan boyfriend material inisial B. Bedanya, karena para tokoh di sini masih anak SMA, kita tidak akan menemukan bumbu percintaan yang kentara seperti di HU. Ada sih, tapi cuma setipis tisu, dibagi dua pula 🤣 Ah iya, ada satu lagi tokoh yang menurutku berkesan: Raja beserta dayang-dayangnya yang penting gak penting. Setiap baca bagian dia nih, aku membayangkan Malfoy dan duo gendut yang selalu setia di belakangnya ke manapun dan di manapun HAHAHA
Novel ini menggunakan pilihan kata yang ringan dan biasa didengar di percakapan sehari-hari -anak ibukota-, yang membuat aku sebagai pembaca tidak menemukan kesulitan berarti dalam memahami jalan cerita di novel ini. Aku juga suka bagaimana penulis menyebarkan petunjuk demi petunjuk untuk memecahkan teka-teki keberadaan harta karun sejak bagian awal cerita. Pemilihan karakteristik tokoh juga pas sekali menurutku: ada yang beraninya kelewatan dan bisa jadi detektif dadakan; ada yang pinter olahraga; ada yang rela berkorban untuk melindungi orang yang menurutnya berharga; dan satu lagi ada juga yang annoyingnya luar biasa; semua karakteristik itu sangat mendukung keseruan jalannya cerita. Dan ada satu tokoh yang menurutku spesial soal pemilihan kata di setiap dialognya: Tati. Walaupun dia anak blasteran, tapi dia paling anti mencampurkan kata dari berbagai bahasa dalam percakapannya sehari-hari. Bagiku, hal ini lumayan jadi tantangan di zaman bahasa campur-campur ala anak Jaksel sudah jadi semacam budaya baru bagi anak muda.
Novel ini ditulis dengan alur maju dan sudut pandang orang ketiga. Hampir keseluruhan novel ini berlatar di lingkungan sekolah elit Manggala Utama lengkap dengan fasilitas asrama untuk para siswa dan wisma bagi para guru yang belum menikah. Menurutku, latar yang digunakan ini menjadi sangat ideal untuk mendukung petualangan Margo dan kawan-kawan dalam memecahkan misteri keberadaan harta karun di sekolah karena mereka bisa mengakses semua fasilitas sekolah di jam berapapun -walaupun kadang harus pura-pura jadi maling dulu.
Pesan Moral
Prof. Emil yang merupakan pendiri sekolah Manggala Utama sekaligus orang yang menyembunyikan harta karun di sekolah adalah seorang yang sangat mencintai Bahasa Indonesia dan semangat persatuan Sumpah Pemuda. Oleh karena itu, setiap clue yang ditinggalkan Prof. Emil untuk memecahkan teka-teki letak harta karun di Sekolah Manggala Utama akan berkaitan erat dengan sejarah Bahasa dan Sastra Indonesia.
Melalui novel ini, kita sebagai pembaca bisa merasakan semangat persatuan melalui Bahasa Indonesia yang diwariskan oleh para pahlawan pendiri bangsa melalui peristiwa Sumpah Pemuda. Selain itu, novel ini juga membuka wawasan pembaca tentang beberapa karya sastra klasik terbitan Balai Pustaka yang menjadi bagian dari sejarah bangsa Indonesia. Dan akhirnya, novel ini juga menjadi media yang dapat memberikan kesadaran terutama kepada anak muda bahwa Bahasa Indonesia adalah warisan berharga dari para tokoh bangsa yang harus kita jaga.
Kesan Membaca
AAAAA!!! Aku suka sekali sama novel ini. Aku gak nyangka kalau novel misteri anak sekolahan tentang pencarian harta karun bisa bisa sekeren ini~ Asli buat merinding sebadan-badan. Aku suka semua tokoh dan segala ciri khasnya; aku suka pemilihan latar sekolah elit yang digambarkan dengan begitu kerennya di sini; aku menikmati rasa penasaran yang dikasih selama membaca novel ini; plot twist yang tak terduga; dan pesan moral yang keren sekali di sepanjang cerita. Aaahhh~ keren banget pokoknya. Setelah Raya, ternyata aku juga jatuh bisa jatuh cinta sama Margo walaupun enggak -dan gak akan pernah- bisa se-berani dia 🤣
Tapi sejujurnya aku masih penasaran kenapa Laras tidak mau bercerita banyak tentang Bayu ke Margo. Kayaknya belum terjawab sampai akhir novel ini sih, atau memang aku yang kelewat ya? 🤔
Rekomendasi
Aku baca novel ini versi ebook dari Gramedia Digital, tapi setelah selesai baca, aku jadi pengen punya buku fisiknya agar bisa dibaca oleh anak binaan literasi aku di Buka Buku. Aku rasa buku ini akan sangat cocok untuk dibaca sama mereka yang kebanyakan ada di rentang usia middle grade sampai remaja, tapi sayangnya buku fisiknya udah susah dicarinya 🥹
Aku sangat merekomendasikan buku ini untuk anak-anak muda yang sedang berusaha mencintai Bahasa Indonesia; atau orang-orang yang sudah tua tapi masih suka lupa sama usia juga boleh, hitung-hitung bisa nostalgia ke masa SMA yang penuh gairah dan kayak gak takut sama apa-apa; atau sekadar yang mau coba-coba baca novel misteri dengan unsur sejarah bahasa yang kuat juga oke. Intinya aku merekomendasikan buku ini untuk semua orang. Please, baca aja, BAGUS banget pokoknya!!!! (maksa dikit gak ngaruh)
Edited:
Berhubung sekarang udah cetak ulang, buku fisiknya udah ada di mana-mana ya gaes~ Ini aku kasih linknya, tinggal klik dan beliiii~
Beli di gramedia.com
Beli di shopee










Hahahaha seru banget baca review Kak Dina. Makasih banget ya Kak udah baca dan jagain Margo dkk. Bahkan dirimu bisa identifikasi hal-hal yang aku sendiri nggak sadar: kesamaan karakter HU dan Margo wkwkwk. Loveeee.
Makasih banyak udah baca review panjang lebarku ini sampek habis kak ❤️❤️❤️