Penulis: Rebecca Stead dan Wendy Mass
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2024
Jumlah Halaman: 240 hal.
Personal Rating: 4.5 / 5 ⭐
Kamu takut hantu gak? Kalau hantunya punya buku yang banyak dan buatin kamu perpustakaan, kira-kira kamu masih takut? Emang ada hantu yang bisa buat perpustakaan? Ada!
Namanya Al. Ia adalah hantu yang membuat perpustakaan kecil gratis di taman kota Martinville. Benar-benar kecil karena hanya berupa lemari yang diisi satu troli buku. Ada plang di dekatnya dengan tulisan
"AMBIL BUKU, TINGGALKAN BUKU ATAU DUA-DUANYA!"
Perpustakaan ini punya penjaga, dia adalah seekor kucing oranye dengan berbagai panggilan: Goldie, Sunshine atau Penggerutu berkaki enam. Tapi nama sebenarnya adalah Mortimer.
Evan, anak kelas 5 SD Martinville adalah pengunjung sekaligus peminjam pertama di perpustakaan ini. Ia menyadari bahwa buku-buku di sini berasal dari perpustakaan Martinville yang belum pernah ia lihat selama hidupnya. Kabarnya perpustakaan itu terbakar 20 tahun lalu.
Tapi peristiwa itu masih menjadi misteri bagi penduduk kota walau sudah berlalu sangat lama. Kabarnya sampai saat ini tersangka penyebab kebakaran masih belum ditemukan. Rasa penasaran memenuhi dada Evan. Dia telah menemukan petunjuk penting: Kartu peminjaman buku perpustakaan dan nama yang tertera di sana. Sebenarnya apa yang terjadi malam itu? Siapakah yang menyebabkan kebakaran perpustakaan?
Setiap bab di buku ini menceritakan masing-masing kisah tiga tokoh utama: Al, Evan dan Mortimer. Buku ini mengajak pembaca memecahkan misteri hilangnya perpustakaan Martinville bersama Evan dan Rafe -teman Evan-. Sedangkan bersama Al dan dua hantu penghuni Rumah Sejarah, pembaca diajak untuk mengingat kembali masa-masa saat perpustakaan itu masih ada. Dan siapa sangka Mortimer ternyata punya banyak rahasia!
Sebagai pembaca misteri yang masih newbie (read: penakut), novel ini sukses membuat aku dag dig dug ser: dengan keberanian (yang keterlaluan) dua anak SD ditambah hantu yang berkeliaran di Rumah Sejarah. Untungnya masih ada Mortimer dan kawanan tikus F yang membuat novel ini jadi menggemaskan.
Alur novel ini maju mundur, POVnya juga berubah-ubah tergantung tokoh yang sedang diceritakan. Mungkin akan sedikit membingungkan di awal bagi sebagian orang, tapi menurutku ini bagian penting yang membuat novel ini menjadi penuh misteri.
Tak melulu tentang misteri, buku ini juga memberikan kehangatan hati melalui kisah buku dengan para pembacanya di perpustakaan. Dan ini adalah bagian favoritku, walaupun mungkin tidak bagi pembaca lain. Tak masalah, karena
"masing-masing kita memiliki ruang buku sendiri di dalam diri kita, dan ruang-ruang itu tidak cocok dengan sempurna, dan tidak seharusnya begitu." (hal. 71)






