Review Buku Bumi Manusia by @ticstories

Review Buku Bumi Manusia by @ticstories

Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tahun Terbit: 1980
Jumlah Halaman: 535 hal.
Direview oleh: @ticstories di Instagram

Premise

Suatu hari, Minke, seorang pemuda Pribumi, ditantang temannya, Robert Suurhof untuk menaklukkan seorang gadis cantik. Dengan dokar mereka pergi ke Boerderij Buitenzorg, sebuah perusahaan sapi perah di Wonokromo. Perusahaan itu dikelola oleh Nyai Ontosoroh, seorang gundik, dan anaknya, Annelies Mellema. Di luar ekspektasinya, Nyai Ontosoroh ternyata wanita yang sangat terdidik: fasih berbahasa Belanda, tahu sastra Eropa, bisa membaca dan berhitung; sangat berbeda dengan prasangka umum tentang sifat-sifat yang dimiliki seorang Nyai. Kekaguman Minke terhadap Nyai Ontosoroh, dan rasa cintanya terhadap anaknya, Annelies Mellema, mendorong Minke menerima undangan Nyai untuk tinggal di sana. Tapi tentu saja, tindakan Minke yang menerobos norma sosial ini akan mendatangkan masalah baginya. Di sini lah ia mulai benar-benar menyadari sifat bangsa Eropa yang sangat menginjak-injak Pribumi. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Hindia Lyfe, 1880s

  1. Yang berhak sekolah di HBS zaman dulu: Eropa Totok (Eropa murni), Eropa Indo (Peranakan), dan Pribumi bangsawan (umumnya nanti jadi bupati).
  2. Pribumi bisa diadopsi oleh Eropa, tapi harus didaftarkan supaya bisa mewarisi nama keluarga Eropa.
  3. Anak dari pernikahan ‘tidak sah’ antara gundik dan tuannya bisa diakui oleh ayahnya, nanti anak itu akan mewarisi nama keluarga. Jika tidak mewarisi nama keluarga, anak itu dianggap tidak diakui dan terbuang.
  4. Gundik lebih mirip budak, ia dibeli oleh tuan Eropa dan menjadi ‘miliknya’. Ia juga bisa dibuang kapan saja si tuan menginginkannya. Makanya dulu banyak gundik yang jadi korban KDRT, karena sudah dianggap ‘milik si tuan’.
  5. Eropa yang tinggal di Hindia (istilah lama untuk Indonesia) tidak hanya Belanda. Ada juga Swiss, Jerman, Swedia, Belgia, Rusia, Hungaria, Romania, Portugis, Spanyol, Italia, dll. Mereka umumnya orang yang tidak diinginkan di negara asalnya atau perantau yang memilih untuk tinggal di Hindia. Tokoh semacam ini misalnya Jean Marais, pelukis Prancis yang bahkan tidak bisa berbahasa Belanda.
  6. Perantau Eropa non-Belanda itu ada yang menghidupi dirinya dengan menjadi serdadu Belanda. Seperti Jean Marais, seniman Prancis yang kehabisan uang dan ikut Perang Aceh, padahal tidak berpendidikan militer.
  7. Di pasukan Belanda, ada prajurit kelas 1 (khusus Eropa Totok), dan prajurit kelas 2 (Eropa Indo dan Pribumi).
  8. Pribumi yang bergabung dengan pasukan Belanda biasanya orang yang mengejar uang semata, atau sudah tidak lagi diinginkan oleh keluarganya. Pada pasukan Belanda yang melawan Aceh, Pribumi yang bergabung banyak orang Purworejo karena dianggap lebih tenang dan cocok menghadapi Aceh yang suka menggertak.
  9. Selain itu, yang menetap di Hindia ada juga pekerja s*ks asal Tiongkok dan Jepang yang sudah diperjualbelikan lintas negara. Contoh tokoh di buku ini adalah Maiko, wanita Jepang. Jika para pekerja ini tertulas siphilis, ia akan disiksa atau dibuang oleh tuannya.
  10. Pekerja s*ks tersebut umumnya menetap di Rumah Plesir orang-orang Hindia keturunan Tiongkok. Misalnya di buku ini Rumah Plesir Babah Ah Tjong.
  11. Pemerintah Hindia zaman dulu. Gubernur Jenderal (pangkat pemerintahan tertinggi) membawahi Gubernur. Gubernur membawahi Residen (kepala wilayah keresidenan atau afdeling). Residen membawahi Asisten Residen (Eropa) dan Bupati (Pribumi). Asisten Residen membantu Residen mengawasi Bupati. Baru Bupati membawahi wedana (kepala distrik), asisten wedana (kepala onderdistrik atau kecamatan), lalu baru kepala desa.
  12. Ritual pengangkatan Bupati dilakukan di bawah Bendera Belanda (Triwarna) sambil menyanyikan lagu Wilhelmus. Acara juga diiringi gamelan Jawa, tari-tarian, dan minuman keras.
  13. Zaman sekarang foto yang sering dipajang di gedung resmi adalah Presiden, dulu foto Ratu Belanda.
  14. Selain Hindia, Belanda juga menerapkan kolonialisme di Suriname (dulu namanya Guyana Belanda), Amerika Serikat. Banyak orang Jawa yang diangkut Belanda ke Suriname untuk menggarap lahan di sana. Suriname sendiri merdeka tahun 1975, di sana bahasa yang digunakan adalah Belanda, Sranan Tongo (bahasa lokal), dan beberapa penduduk keturunan Jawa masih melestarikan bahasa Jawa.

Quote Favorit

Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bisa kemput. ~Nyai Ontosoroh

Review

  • Satu pertanyaan terpenting: Mengapa judul buku ini ‘Bumi Manusia’? Singkatnya, buku ini adalah gambaran tentang berbagai jenis orang yang hidup di Hindia Belanda zaman itu:
    • Nyai Ontosoroh, gundik bermental pejuang,
    • Minke, Pribumi terdidik dari golongan bangsawan Jawa,
    • Annelies, anak Nyai yang terombang-ambing status dan haknya,
    • Jean Marais, orang Prancis yang memilih menetap setelah kehilangan kakinya karena perang melawan Aceh,
    • Magda Peters, guru sekolah Minke yang dianggap liberal karena menuntut keadilan untuk Hindia,
    • bahkan ada Keluarga de la Croix, orang pemerintahan Hindia yang terus memotivasi Minke melalui surat.
  • Buku ini dipenuhi nuansa dan insight, meyakinkan pembaca bahwa nasionalisme tidak hitam di atas putih hanya dilihat dari ras, bahwa peran yang dipilih seseorang bisa sukarela atau terpaksa, bahwa akal sehat dan hati nurani sebenarnya cukup untuk melepaskan diri dari belenggu sistem kolonialisme yang rasis.
  • Melalui perjalanan Nyai Ontosoroh dan Minke, perlahan ditunjukkan bahwa di balik suatu aturan Belanda yang ‘menguntungkan’ Hindia, ada saja celah di dalamnya yang digunakan untuk menjatuhkan dan mengolok-olok Pribumi. Kebusukan tersebut begitu sistemik dan mengakar, tidak bisa diperangi dengan senjata belaka. Aku suka sekali percakapan menarik antara Tuan Télinga dan Jean Marais bahwa ‘Aceh berperang meskipun tahu akan kalah, Belanda berperang karena tahu akan menang’. Di sisi lain, berkali-kali ditunjukkan dalam buku ini bahwa tidak semua Eropa ‘jahat’.
  • Tidak mengherankan bahwa buku ini legendaris. Memang tidak semua pemikiran Minke dan Nyai Ontosoroh aku setujui, khususnya tentang hubungan Minke dan Annelies, serta monolog Minke tentang keberpalingannya terhadap Tuhan. Tapi di luar itu buku amat sangat membuka wawasan.
  • Tapi entah mengapa, selama membaca, aku pasti mengantuk setelah membaca selama 30 – 60 menit. Entah karena memang sedang kelelahan, atau kurang cocok dengan narasinya. Tapi itu bukan masalah besar. Pokoknya mah, ayo kita kawal terus buku-buku ini, semoga jadi cetak ulang!

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *