Penulis: Toshikazu Kawaguchi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2023
Jumlah Halaman: 264 hal.
Sumber: Panjalu e-Lib
Personal Rating: 5 / 5 ⭐
Ternyata Funiculi Funicula bukan satu-satunya kafe yang bisa membawa seseorang ke masa lalu -juga masa depan-. Di salah satu lereng Hakodate yang disebut penduduk sekitar sebagai Lereng Tanpa Nama, ada sebuah kafe serupa bernama Dona Dona. Dengan duduk di sebuah kursi 'ajaib', seseorang bisa bertemu dengan orang yang pernah mengunjungi kafe ini dengan batas waktu yang ditentukan: sebelum kopinya benar-benar dingin.
Kafe ini juga dijalankan oleh anggota keluarga Tokita bernama Yukari. Namun karena Yukari harus pergi ke Amerika untuk menyelesaikan misi sosial yang disukainya, Nagare, Kazu dan Sachi -anak Kazu- menggantikannya mengelola kafe. Dan mereka menjadi saksi segala cerita kehidupan orang-orang yang melakukan perjalanan waktu di Dona Dona; tentang bahagia dan duka, cita dan cinta hingga kata yang tak sempat bersuara.
Dengan vibes yang sama dengan seri sebelumnya, novel ini ditulis dengan alur maju mundur dan POV orang ketiga. Novel ketiga ini melengkapi cerita para tokoh yang menggantung di seri sebelumnya dan menambah kisah baru dari para pengunjung kafe yang bertemu dengan orang yang dicintai dari garis waktu yang berbeda.
Dari ketiga buku Funiculi Funicula, bagiku sejauh ini Dona Dona adalah yang paling berkesan. Aku merasakan perasaan yang lebih beragam sekaligus dalam di sini, tentang kehidupan dan harapan yang berjalan beriringan walau terkadang waktu memaksa kita untuk melepaskan. Walau tahu dipisahkah oleh kematian adalah hal yang menyakitkan, tapi bukan berarti merelakan kehidupan adalah sesuatu yang membahagiakan.
Senang sekali akhirnya aku bisa melanjutkan seri Funiculi Funicula yang sangat menghangatkan hati ini. Selalu ada pelajaran hidup yang berarti dari setiap cerita pengunjung kafe yang pergi melakukan perjalanan waktu. Dari mereka, lagi-lagi aku disadarkan bahwa setiap orang punya waktu yang terbatas dan waktu itu terlalu berharga jika dilewatkan tanpa cukup berbicara dengan orang tercinta. Manusia biasa tak akan bisa menebak hati manusia lainnya, jadi selagi diberikan kesempatan untuk menyampaikan, kenapa harus disia-siakan?
PS: Untuk review dua seri sebelumnya udah aku posting di sini juga, kalau mau baca boleh search aja Funiculi Funicula dan semua review bisa dibaca secara berurutan~









