Review Buku Rumah Kaca di Ujung Bumi

Review Buku Rumah Kaca di Ujung Bumi

Penulis: Kim Choyeop
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2024
Jumlah Halaman: 375 hal.
Personal Rating: 4.5 / 5 ⭐

Pada tahun 2129, serangan mossvana -ilalang berpendar cahaya biru- yang mewabah di Kota Haewol membuat para peneliti di Pusat Riset Ekologi Dust kewalahan, tak terkecuali Ah-Yeong. Tanaman merambat beracun ini hidup dengan mengambil kehidupan setiap makhluk yang bisa ditemukannya. Pertumbuhan tanaman ini pun sangat cepat dan tak terkendali.

Penemuan mossvana di Haewol membuat Ah-Yeong teringat dengan seorang nenek yang ditemuinya saat masih kecil. Di kebun seorang nenek bernama Lee Hee-Su ini, Ah-Yeong juga pernah melihat cahaya biru berpendar dari tanaman yang tumbuh di kebun itu.

Proses penelitian itu kemudian membawa Ah-Yeong bertemu dengan Naomi, seorang nenek yang berhasil bertahan hidup melewati Era Dust sekitar 60 tahun yang lalu. Dust menghancurkan seluruh kehidupan dan tak ada yang dapat bertahan dari serangan debu beracun itu kecuali mereka yang tinggal di dalam kota Kubah. Tapi Naomi berhasil bertahan hidup di luar kota kubah, di sebuah tempat di mana ahli botani misterius yang bekerja di sebuah rumah kaca menyediakan tumbuhan yang resistan terhadap dust. Di manakah tempat itu? Siapakah ahli botani itu? Dan apa hubungan mereka dengan mossvana di Haewol?

Novel sci-fi ini mengajak pembaca melihat bumi yang sudah tak ramah lagi untuk dihuni di Era Dust. Namun, dibanding mengandalkan segala teknologi yang berkembang pesat atau petualangan luar angkasa untuk menemukan sumber kehidupan alternatif, novel ini mengajak pembaca untuk menyadari indahnya bernafas di bumi yang asri.

Penulisan novel ini menggunakan POV yang berubah-ubah dan alur maju mundur yang rapi dan tidak membingungkan sama sekali. Hubungan antar tokoh serta misteri keberadaan mossvana diungkap secara perlahan layaknya menyusun puzzle yang tersebar di sepanjang cerita. Elemen sains di novel ini juga sangat terasa dengan berbagai sumber penelitian serta teknologi yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan; seperti penggunaan hovercar dan alat penerjemah yang selalu digunakan oleh para tokoh. Oiya, salah satu yang unik di novel ini adalah semua tokoh utama yang berhasil melewati Era Dust di luar kubah adalah perempuan.

Aku suka bagaimana novel ini mengangkat isu yang disepelekan oleh banyak orang. Melalui novel ini, pembaca diajak untuk mengingat kembali bahwa tumbuhan yang keberadaannya seringkali dianggap tidak penting nyatanya punya dampak yang besar bagi kelangsungan kehidupan manusia. Mereka dianggap tidak terlalu populer dibandingkan manusia atau hewan, tapi sebenarnya kitalah yang tak bisa hidup tanpa mereka. Isi pikiran manusia dan kemajuan teknologi bukan segalanya, apalagi soal menyelamatkan nafas dunia. Pada akhirnya, tumbuhan yang disepelekan adalah ia yang menyelamatkan.

Yang mau beli bukunya bisa klik link di bawah ya~
https://aff.gramedia.com/s/NeavCCAJxu
https://s.shopee.co.id/7fKF6Gry35

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *