Penulis: Keigo Higashino
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2020
Jumlah Halaman: 400 hal.
Sumber: iPusnas
Personal Rating: 4.5 / 5 ⭐
Apa yang akan kamu lakukan kalau tiba-tiba dapet surat yang pengirimnya gak jelas dan dikirim pas tengah malem pula? Kalau aku, jelas lari dan minta tolong. Jantungku gak kuat sama yang begini-begini 😅
Tapi tidak dengan tiga maling kelas teri yang bersembunyi di sebuah bangunan tua bernama Toko Kelontong Namiya. Atsuya, Shota dan Kohei memilih untuk membuka surat yang masuk melalui lubang surat dekat pintu gulung dan membacanya. Mereka juga menulis surat balasan dan memasukkan surat itu ke dalam kotak susu di bagian belakang rumah. Memang begitu alurnya. Si pemilik surat akan mengambil surat balasan di kotak susu itu esok hari. Tapi anehnya, surat baru langsung masuk melalui pintu depan sesaat setelah mereka memasukkan surat balasan ke dalam kotak susu. Dan setelah dicek, tidak ada seorang pun yang datang ke toko malam itu.
Surat itu ditulis oleh orang yang ingin meminta nasihat kepada kakek Namiya -pemilik toko- untuk menentukan keputusan sulit yang akan diambil dalam hidupnya. Kabarnya, pemilik toko ini dengan senang hati akan membantu memberikan nasihat bijak kepada setiap orang yang mengirimkan surat melalui lubang surat di pintu gulung. Tapi itu dulu, sebelum si kakek meninggal puluhan tahun lalu. Tapi kenapa masih ada surat yang masuk saat rumah ini sepertinya sudah ditinggalkan sejak lama?
Setelah diselidiki, ternyata bangunan ini ajaib. Semua surat yang masuk dari pintu depan adalah surat dari masa lalu dan surat balasan yang mereka kirimkan melalui kotak susu di belakang rumah juga dikirimkan ke masa lalu. Setelah mengetahui keajaiban ini, ketiga pemuda itu malah ketagihan dan terus membalas surat demi surat yang masuk sampai akhirnya menyadari satu hal: waktu tidak berjalan sama antara di dalam dan di luar rumah. Apa sebenarnya yang terjadi?
Awalnya, nyaliku langsung ciut saat membaca bab pertama buku ini karena sejujurnya aku bukan termasuk orang yang menikmati cerita horor (bisa-bisa kebawa mimpi dan gak berani bangun malem untuk ke kamar mandi 🙃). Tapi setelah mencoba (dengan keras) melanjutkan, ternyata -Alhamdulillah- buku ini gak se-horor itu dan malah menghangatkan hati dengan kisah hidup para pengirim surat.
Dari buku slice of life ini, pembaca diajak untuk menyelami kehidupan para pengirim surat saat harus mengambil keputusan besar dalam hidup mereka: tentang cinta, mimpi, keluarga hingga materi. Dan siapa sangka berkirim surat dengan Toko Kelontong Namiya ternyata bisa mengubah hidup mereka dengan cara-cara yang ajaib. Dan bukan tak mungkin, nasihat toko ini juga bisa mengubah hidupmu.
Buku ini ditulis dengan POV orang ketiga dan alur maju mundur yang lumayan njelimet buat aku. Pertemuan setiap tokoh yang ternyata saling terkait dan terhubung satu sama lain di berbagai timeline yang berbeda membuat aku bingung tapi sekaligus terkesan dengan bagaimana penulis membuat keseluruhan cerita menjadi utuh walaupun ditulis dengan berbagai kisah tokoh yang masing-masing terkesan berdiri sendiri. Dan bagian ini juga yang membuat aku merinding berkali-kali. Ah iya, buku ini juga punya daya tarik khusus yang membuat aku gak bisa berhenti membaca sampai dipaksa 😅






