Review Buku Pasta Kacang Merah

Review Buku Pasta Kacang Merah

Penulis: Durian Sukegawa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2023
Jumlah Halaman: 240 hal.
Personal Rating: 5 / 5 ⭐

Kalau bayanganmu tentang makanan manis selalu identik dengan feel yang menyenangkan dan bisa memperbaiki mood yang berantakan, rasanya buku ini akan sukses menjungkirbalikkan ekspektasimu. Karena di sini, dorayaki dengan isian pasta kacang merah akan memberikan cita rasa kehidupan yang penuh dengan perjuangan.

Sinopsis

Hari-hari di Dora Haru -kedai yang menjual dorayaki- dijalani Sentaro dengan ala kadarnya, cukup untuk bisa menyambung hidup dan membayar cicilan hutang kepada pemilik toko. Status sebagai mantan narapidana, mimpi menjadi penulis yang tak pernah terwujud dan kebiasaan minum alkohol yang akut sudah menjadi daftar kegagalan hidup yang rasanya sulit untuk diperbaiki.

Sentaro mengisi hari-harinya tanpa motivasi selain melunasi hutang, sampai ada seorang wanita tua bernama Tokue yang mengajukan diri untuk bekerja di Dora Haru. Tokue mengaku sudah punya pengalaman lebih dari lima puluh tahun dalam membuat pasta kacang merah dan rela dibayar lebih rendah dari upah seharusnya.

Awalnya, Sentaro merasa keberatan menerima Tokue. Selain karena usianya yang sudah sepuh, jari tangannya yang bengkok membuat Sentaro ragu untuk mempekerjakan Tokue di Dora Haru. Tapi setelah mempertimbangkan rasa pasta kacang merah yang ditawarkan, akhirnya Sentaro menerima Tokue hanya untuk membuat pasta kacang merah di tokonya dan berusaha agar Tokue tidak terlihat oleh para pelanggan.




Tapi sayangnya usaha Sentaro untuk ‘menyembunyikan’ Tokue tidak berlangsung lama. Sentaro mulai menerima tekanan untuk memberhentikan Tokue karena kondisi fisiknya, tepat di saat hubungan persahabatan mereka mulai terjalin. Dan tekanan itu mulai membuka rahasia Tokue satu demi satu. Rahasia gelap dan kenangan menyedihkan yang tak pernah ingin diungkap.

Unsur Intrinsik Novel dan Gaya Penulisan

Ditulis dengan alur maju dan sudut pandang orang ketiga, novel ini bercerita tentang persahabatan tiga orang asing beda generasi yang masing-masing punya lukanya sendiri. Kehadiran Tokue di hidup Sentaro dan Wakana -gadis SMP pelanggan Dora Haru- menjadi titik balik kehidupan yang hampir mereka relakan.

Bertemu dengan Tokue, mendengar ceritanya dan bersentuhan dengan masa lalunya membuat mereka kembali menemukan alasan untuk terus berjuang melanjutkan kehidupan. Dan bukan semata-mata karena usia yang melahirkan kebijaksanaan, Tokue punya latar belakang yang tak dimiliki oleh sembarang orang. Perjalanan panjang Tokue untuk tetap hidup walau terisolasi dari dunia luar karena penyakit Lepra yang dideritanya semenjak remaja menjadikan Tokue sosok yang begitu kuat di mata Sentaro dan Wakana. Dan meskipun dunia seolah merampas semua masa mudanya, tapi ia tak pernah benar-benar menyerah. Tokue tetap hidup dengan semangat yang berusaha dilahirkan melalui berbagai makanan manis yang dibuatnya, termasuk pasta kacang merah.

Kesan Membaca

Awalnya aku merasa alur cerita buku ini terlalu lambat, karena di beberapa bab pembuka kita akan disuguhi langkah-langkah detail tentang pembuatan pasta kacang merah lengkap dengan berbagai istilah bahasa Jepangnya. Jujur, buat aku yang gak tertarik untuk ikut membuat pasta kacang merah, bagian ini lumayan bikin ngantuk sih 😅

Tapi begitu udah di pertengahan buku, aku malah gak bisa berhenti baca. Cerita masa lalu kehidupan Tokue yang sangat berat sebagai penderita lepra sukses membuat hatiku yang kecil mungil ini terasa begitu sesak. Bukan sekadar berjuang untuk hidup bersama penyakitnya, Tokue harus diisolasi ke tempat yang belum pernah ia datangi, dipisahkan dari seluruh anggota keluarga dan lebih parahnya lagi, semua itu terjadi saat usianya masih SMP -seumuran dengan Wakana.

Part yang paling bikin hatiku potek adalah waktu kepergian Tokue ke tempat isolasi. Ibunya membuatkan blus putih yang khusus dirajut untuknya. Saat itu adalah kali pertama Tokue berpenampilan seperti itu, tapi dia malah merasa kesepian karena mulai saat itu ia harus berpisah dengan keluarganya. Dan begitu sampai di tempat isolasi, blus itu malah dibuang oleh petugas karena gak boleh bawa barang apapun dari luar. Bahkan barang terakhir dari ibunya pun gak bisa jadi kenang-kenangan untuk menghilangkan rasa sepinya 😭

Belum lagi soal stereotype masyarakat luar. Walaupun udah sembuh dan diperbolehkan untuk keluar dari isolasi, gak ada lagi tempat kembali bagi penyintas lepra. Tokue dan kebanyakan dari penyintas lepra yang lain udah putus kontak sama keluarga karena masa isolasi yang sangat lama. Dan jejak penyakit lepra yang terlihat jelas membuat mereka juga gak bisa diterima dengan mudah di dunia luar. Pada akhirnya, gak ada yang bisa dilakukan Tokue -dan para penyintas lain- selain menghabiskan hidup di ‘penjara’ dan meninggal di sana.




Pesan Moral

Buku ini bener-bener ngasih pelajaran kehidupan yang sangat berharga. Terkadang, kita terlalu mengeluhkan hidup kita yang biasa-biasa aja. Terkadang, kita juga merasa beban kita terlalu berat, masalah kita terlalu besar, dan lupa bersyukur atas semua hal-hal biasa yang selalu kita nikmati setiap hari. Kita sampai lupa bahwa apa yang kita jalani bisa jadi adalah hidup yang begitu didambakan oleh orang lain.

Dan jikapun ternyata ujian kita rasanya terlalu berat, jangan sampai menyerah yaaa~ Gak akan ada yang abadi, termasuk masalah yang kita alami. Di saat-saat terberat itu, kita hanya perlu menemukan satu alasan untuk tetap hidup. Dan saat kita menemukannya, kita bisa tersenyum lega karena pada akhirnya kita tak pernah membuat keputusan untuk menyerah.

Rekomendasi

Buat kamu yang suka sama cerita slice of life yang menghangatkan hati, buat aku buku ini bener-bener highly recommended. Plus penggemar Asian Lit? Udah, langsung CO dari link ini aja deh~
https://aff.gramedia.com/s/JwuwVQpIZM
https://s.shopee.co.id/1qRmhbhKAm

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *