Penulis: dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2026
Jumlah Halaman: 247 hal.
Personal Rating: 5 / 5 ⭐
Orang yang hidupnya memakai ‘topeng’ sering dilabeli munafik. Emang iya? Jangan-jangan, dia cuma gak pernah punya kesempatan untuk melepas dan hidup tanpa benda itu.
Sinopsis
Ada dua tokoh semi-fiksi yang akan kita jumpai di buku ini, mereka adalah Stelora dan Viktor. Keduanya datang ke ruang konsultasi dengan keluhan yang sama: hidup dengan memakai topeng. Keduanya merasa tersiksa dengan topeng yang mereka gunakan dalam interaksi sehari-hari. Tapi untuk melepas topeng itu sepenuhnya, rasanya juga bukan pilihan yang bijak. Memangnya siapa yang ingin melihat sifat asli kita tanpa ‘diatur’ sama sekali?
Dari kisah kedua orang ini, penulis kemudian menjelaskan tentang asal muasal terbentuknya topeng di kehidupan seseorang. Bagaimana cerita demi cerita yang dialami di masa kecil bisa membentuk luka dan trauma yang dibawa sampai kita menginjak usia yang dewasa.
Buku ini akan mengajak kita untuk melepaskan topeng itu sejenak. Bukan untuk hidup tanpanya sama sekali, melainkan untuk mengenal dan berbicara wajah dibalik benda yang-sengaja atau tidak-selalu kita gunakan itu.
Gaya Bahasa dan Penyampaian
Buat yang udah pernah baca tulisan dr. Andreas, pasti tahu kalau beliau ini jago banget menyulap topik yang berat dan penuh emosi menjadi pembahasan yang ringan dan mudah dimengerti oleh pembacanya. Termasuk buku ini.
Buku ini gak cuma sekadar mengajak pembaca untuk belajar tentang berbagai macam teori soal trauma masa lalu. Tapi melalui cerita dua tokoh semi-fiksi yang ada di buku ini, kita juga akan diajak berempati dan ikut memeluk luka yang mungkin terbawa sampai kita dewasa.
Kesan dan Refleksi
Bab pertama dibuka dengan pembahasan “kenapa harus dilahirkan?”. Walaupun gak pernah minta, tapi kita tetap harus hidup. Soal caranya? Pokoknya ada! Kita cuma disuruh belajar. Perkara relevan atau enggak, itu urusan belakangan.
Nah di bab dua, rasanya malah personal banget. Aku mau cerita sedikit soal pengalaman seorang anak pertama-yang kebetulan juga cucu pertama-di dua keluarga sekaligus.
Dia hampir selalu jadi yang terbaik. Semua orang melihat sosok yang sempurna sebagai seorang anak, seorang kakak dan seorang siswa yang penuh dengan prestasi. Dia selalu diapresiasi karena pencapaiannya yang luar biasa-setidaknya jika dibandingkan dengan lingkungannya saat itu. Dia senang tentu saja. Tapi di sisi lain, dia juga merasa selalu waspada. Karena jika salah sedikit, semua apresiasi itu akan otomatis berganti menjadi ekpresi kekecewaan.
Pernah di suatu waktu, orang tuanya kehilangan kunci. Sepele, cuma karena lupa meletakkannya di mana. Tapi satu rumah geger karena buru-buru mau pergi. Apa yang dilakukan anak ini? Dia sholat dan berdoa dengan sungguh-sungguh, semoga dia yang menemukan kunci itu. Kelihatan mulia sekali kan?
Tapi ternyata, dia tidak setulus itu. Baginya, menemukan kunci berarti mendapatkan apresiasi. Dan mendapatkan apresiasi artinya dia membanggakan kedua orang tuanya (lagi). Ingat! Ini cuma urusan mencari kunci. Untuk perkara yang lebih penting, usahanya tentu jauh lebih keras. Dan kalau gak berhasil? Stresnya juga bisa jauh lebih parah. Tanpa sadar, dia terus tumbuh dengan topeng anak ‘berguna’ agar hidupnya tetap dipenuhi cinta oleh orang-orang di sekitarnya.
Sampai di satu waktu, dia sadar bahwa topeng itu membuatnya terlalu sesak dan tersiksa. Dia pun bertekad untuk tidak mewariskan topeng yang sama kepada anak-anaknya kelak. Tapi sayangnya, dia gak tahu kalau alam bawah sadar itu sangat menyeramkan. Pola itu terulang seperti program yang berjalan otomatis. Dan setiap kali sadar, dia cuma bisa menyesal. Lagi dan lagi. Sekarang dia bukan lagi korban, melainkan pelaku. Dan seperti yang mungkin sudah kamu duga, anak kecil yang telah bertumbuh menjadi seorang ibu itu adalah aku.
Dari buku ini aku belajar untuk menerima dan memeluk semua luka yang aku terima dulu. Gapapa. Semua orang pernah salah, karena kita juga masih manusia biasa. Begitu pun dengan orang tua kita. Sebagian dari diriku terluka. Tapi sebagian lagi juga sangat bersyukur karena bisa merasakan nikmatnya menjadi seseorang yang membanggakan.
Makasih ya ma, pak, karena udah sayang sama kakak sampai hari ini. Sekarang, giliran kakak ya yang belajar untuk jadi orang tua dengan versi terbaik yang bisa kakak usahakan 💕
Rekomendasi
Selain pembahasan yang deep banget buat aku, buku ini juga ngasih banyak insight lain yang mungkin bakalan relate sama kehidupan kamu. Buat yang pengen baca lebih lanjut, boleh CO dari link di bawah yaa~
Beli di shopee
Beli di gramedia.com

