Penulis: Alison McGhee
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2025
Jumlah Halaman: 208 hal.
Personal Rating: 5 / 5 ⭐
Ditinggal itu sepi. Kehilangan itu sunyi. Dan bagian yang paling menyiksa adalah memulai semuanya dari awal lagi.
Sinopsis
Ayla dan Kiri sudah bersama sejak bayi. Kebiasaan orang-orang di blok mereka adalah menanam pohon saat ada bayi yang lahir atau seseorang yang meninggal. Orang tua Ayla menanam pohon birch untuk memperingati kelahirannya, sedangkan orang tua Kiri menanam pohon pinus putih saat ia lahir. Ayla dan Kiri sangat mencintai pohon mereka. Saking cintanya, mereka sampai ingin menjadi pohon saat besar nanti. Alasannya karena pohon tinggi, kuat dan tenang.
Selalu ada Kiri di kehidupan Ayla. Mulai dari pergi ke sekolah, menggambar cita-cita, mengajak Junie Biar Singkat -anjing peliharaan Kiri- berjalan-jalan, hingga menyirami pohon-pohon yang butuh air saat hujan mulai jarang turun. Tapi, akhir-akhir ini mereka tidak lagi bisa melakukannya. Karena Kiri pergi. Pergi ke tempat yang sangat jauh. Dan Ayla sangat merindukan Kiri.
Beberapa hari sebelum ulang tahun Kiri, sebuah telepon muncul di dahan pohon birch Ayla. Telepon itu tidak tersambung ke mana pun. Tapi anehnya, banyak orang yang tiba-tiba menggunakan telepon itu. Apakah telepon itu ajaib? Siapa yang sebenarnya bisa menerima panggilan telepon itu? Apakah Ayla akan menggunakannya untuk menelepon Kiri?
Unsur Intrinsik Novel dan Gaya Penulisan
Novel ini bercerita tentang perjalanan berduka seorang gadis kecil bernama Ayla yang ditinggal pergi oleh sahabat yang paling dicintainya, Kiri. Dengan sudut pandang orang pertama, pembaca akan diajak untuk mengalami setiap gejolak perasaan Ayla yang berjuang untuk menyadari, menerima, berdamai dan hidup kembali setelah Kiri pergi ke tempat yang sangat jauh.
Pilihan kata yang sederhana di novel ini menggambarkan kepolosan Ayla sebagai seorang anak yang mengharapkan sahabatnya kembali dan menjalani hari-hari mereka seperti biasa. Dengan alur maju yang mengalir, terjemahan yang luwes dan layout buku yang unik, pembaca akan dibuat terhanyut dalam kisah Ayla yang merindukan sahabatnya, bersama dengan setiap raga yang hadir di telepon ‘ajaib’ miliknya, yang juga rindu untuk berbicara pada orang yang pernah ada dan mengisi sebagian besar hidup mereka.
Kesan Membaca
Buku ini adalah buku anak paling ‘menyiksa’ yang pernah aku baca. Sebenarnya, alur cerita di buku ini bisa dibilang berjalan cukup pelan. Dari awal, kita akan diajak untuk mengikuti isi pikiran Ayla yang selalu menunggu Kiri untuk pulang. Kalau belum ada gambaran novel ini tentang apa, mungkin sebagian pembaca bisa penasaran dan ikut-ikutan nungguin Kiri juga sambil positive thinking. Kali aja emang pergi jalan-jalan yang jauuuhhh banget, mungkin ke luar negeri gitu ya kaannn?
Nah masalahnya aku udah tahu isi buku ini adalah tentang perjalanan seorang anak melewati masa-masa grievingnya. Aku udah tahu kalau Kiri itu gak akan bisa balik lagi. Jadi sepanjang baca buku ini tuh tenggorokanku rasanya sesak banget, bawaannya mau nangisin Ayla aja 😭 Apalagi yang dipakai di buku ini tuh sudut pandang Ayla sebagai orang pertama, jadi makin berasa tuh isi pikiran Ayla yang berusaha keras menolak kenyataan kalau sahabatnya udah gak ada. Hari-harinya jadi berat banget, hampa dan gak punya motivasi selain nungguin Kiri pulang di hari ulang tahunnya. Ngerasain anak-anak se-berduka ini, asli nyesek bangettt 💔
Novel ini emang sukses bikin perasaanku berantakan. Tapi di sisi lain, hatiku juga hangat karena kehadiran orang-orang di sekitar Ayla yang keren dan suportif banget. Orang tua, tetangga, teman dekat, bahkan anak kecil di novel ini seolah ngasih waktu buat Ayla untuk menerima kenyataan yang selalu Ayla abaikan. Mereka gak maksa Ayla untuk sadar. Mereka cuma menunggu dan menemani Ayla sampai dia sembuh, memeluk saat ia butuh dan berbicara untuk sekadar berbagi duka.
Pesan Moral
Novel ini seolah mau bilang kalau berduka gak pernah mudah, bagi siapa pun, termasuk anak-anak. Setiap orang mungkin punya fase rumitnya masing-masing. Bagi seorang Ayla, menerima adalah yang paling sulit. Tapi bagi orang lain, bisa jadi memulai kehidupan baru tanpa dia yang sebelumnya selalu ada adalah yang saat-saat yang paling berat.
Buat kamu yang sedang berjuang untuk hidup bersama rasa kehilangan, gak apa kok untuk ambil waktu sebentar, untuk pulih pelan-pelan. Aku tahu gak akan ada yang bisa menggantikan kehadirannya. Tapi kamu juga perlu tahu satu pesan dari Kiri yang didengar Ayla dari telepon ‘ajaib’nya,
“Hari itu akan selalu ada
tapi masih ada yang lain, Ayla
banyak lagi yang lain” (hal. 165)
Rekomendasi
Please baca aja. Buku ini bagus banget!
Beli di gramedia.com
Beli di shopee

