Penulis: Suyoung Kim
Ilustrator: Cho Hea Seung
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2019
Jumlah Halaman: 179 hal.
Sumber: Gramedia Digital
Personal Rating: 4.5 / 5 ⭐
Sinopsis
Karena kursus hari itu dibatalkan, Na Di-ah berencana untuk berjalan-jalan sebentar untuk melihat kucing. Tapi bukannya bertemu dengan kucing Siam yang Di-ah maksud, ia malah bertemu dengan kucing lain yang tak kalah imutnya. Tanpa disadari, Di-ah mengikuti kucing itu berjalan semakin jauh ke dalam lorong yang asing sampai berhenti di sebuah kafe bernama "Bumi Bermimpi".
Hujan yang turun begitu deras membuat Di-ah menepi ke kafe itu dan di saat yang bersamaan pintu kafe terbuka. Seorang gadis dengan penampilan unik berdiri di balik pintu itu dan mengajak Di-ah masuk ke dalam kafe. Di-ah berulang kali bertanya di dalam hati, haruskah ia menjauh dari orang yang tak dikenal ini atau tetap berada di kafe karena hujan masih turun begitu deras di luar.
Sambil terus mempertanyakan keputusannya, Di-ah tetap meminum teh hangat dari India yang disuguhkan oleh gadis itu. Ia kemudian menyadari bahwa kafe itu dipenuhi oleh benda-benda misterius yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya. Di-ah juga sering merasakan hal aneh selama berada di kafe itu. Apakah Di-ah berada dalam bahaya? Sebenarnya tempat apa ini? Dan siapakah gadis ini?
Unsur Intrinsik Novel
Aku lumayan kaget saat melihat kategori di sampul belakang setelah selesai membaca buku ini. Ternyata yang tertulis di situ adalah self improvement. Bener sih, kalau yang dimaksud adalah pesan dari buku ini yang penuh dengan motivasi. Tapi selama membaca buku ini, aku merasa sedang membaca novel fantasi dengan vibes yang menenangkan hati.
Seperti novel pada umumnya, cerita di buku ini juga punya tokoh, sudut pandang, latar, dan alur. Di novel ini, alur yang digunakan adalah alur maju dan Di-ah menjadi sudut pandang orang pertama yang menceritakan pengalamannya selama seminggu bertemu dengan Gadis Kaya Impian di Bumi Bermimpi.
Gadis misterius ini telah melakukan perjalanan ke tujuh puluh negara di dunia sebelum membuka kafe Bumi Bermimpi. Karena itu, interior kafe dipenuhi oleh benda-benda yang dikumpulkannya selama berkeliling dunia dan ia pun berdandan juga memasak makanan dengan tema negara tertentu setiap kali Di-ah datang berkunjung. Selain digambarkan dengan kata-kata, latar di novel ini juga digambarkan dengan ilustrasi yang begitu indah dan sentuhan elemen fantasi yang cantik sekali.
Gaya Penulisan dan Penyampaian
Karena ditulis untuk anak-anak, bahasa yang digunakan di novel ini terbilang ringan, terjemahannya pun bagus, gak kaku dan mudah dimengerti. Sesekali, Gadis Kaya Impian akan menjelaskan beberapa filosofi impian yang mungkin agak sedikit rumit untuk dimengerti oleh pembaca anak. Tapi, setelah itu ia juga akan memberikan contoh yang lebih sederhana, sehingga secara perlahan pembaca anak akan memahami apa yang dimaksud oleh gadis misterius itu.
Pesan Moral
Semakin bertambahnya usia, kebanyakan manusia -termasuk aku- semakin menganggap remeh kekuatan sebuah impian. Alasanya mungkin beragam, tapi yang sering aku dengar adalah karena realita sudah terlalu sulit untuk dihadapi sehingga tak sempat lagi untuk bermimpi. Membaca kisah Di-ah dalam novel ini membuatku mengingat kembali energi yang diberikan impian saat duniaku belum penuh kekhawatiran.
Apakah aku langsung menuliskan impian dan berjuang untuk meraihnya setelah membaca novel ini? Sepertinya tidak semudah itu juga; lagi-lagi harus bertarung dengan realita. Aku rasa itulah kenapa buku ini ditulis untuk anak-anak, energi mereka yang besar, tanggung jawab yang masih sedikit dan waktu yang panjang akan menjadi sumber daya yang luar biasa untuk merajut mimpi. Mungkin rasa takut akan menghampiri sesekali, tapi tak apa, Gadis Kaya Impian di buku ini akan membimbing dengan senang hati.
Kesan Membaca
Senang sekali rasanya bisa membaca buku se-heartwarming ini sebagai penutup di bulan Februari. Aku dibuat merinding berkali-kali dengan bagaimana Gadis Kaya Impian meyakinkan Di-ah tentang setiap mimpi yang ditulisnya. Walau impian terlihat terlalu besar, tak mungkin tercapai dan keadaan diri penuh keputus-asaan, tapi mimpi itu tetap berharga; dan adakah yang lebih berharga dari mimpi itu? Ada! DIRI SENDIRI. Diri ini berhak dicintai, diri ini berhak dihargai dan kalau salah, dia pun berhak dimaafkan. Dengan mencintai diri sendiri, tak ada impian yang terlalu besar untuk ditaklukkan.
Rekomendasi
Walaupun buku ini sebenarnya ditulis untuk anak-anak middle grade, tapi aku juga merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh kamu-kamu yang mungkin lagi perlu dipuk-puk karena lelah sama kehidupan; atau buat kamu yang mungkin sudah terlalu lama melupakan impian; atau sekadar yang ingin menikmati novel fantasi anak dengan ilustrasi yang menarik, buku ini bisa jadi bacaan ringan yang menyenangkan.
Yang mau beli buku fisiknya bisa klik link di bawah ya~
https://aff.gramedia.com/s/DMciptIbZH












