Review Buku Tanah Surga Merah

Review Buku Tanah Surga Merah

Penulis: Arafat Nur
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2016
Jumlah Halaman: 312 hal.
Sumber: iPusnas
Personal Rating: 3.5 / 5 ⭐

Kamu masih ingat dengan GAM? Atau malah belum pernah dengar sama sekali? GAM (Gerakan Aceh Merdeka) adalah gerakan separatis bersenjata yang bertujuan untuk memisahkan Aceh dari Indonesia. Pada tahun 2005, GAM dan Pemerintah Indonesia menandatangani kesepakatan otonomi khusus di Aceh. Melalui perjanjian ini, GAM setuju untuk meletakkan senjata dan melepaskan tuntutannya untuk keluar dari NKRI. Lalu bagaimana kelanjutan nasib para anggota gerakan setelah perjanjian damai ini?

Sinopsis

Murad adalah mantan tentara GAM yang kembali ke tanah kelahirannya setelah lima tahun dalam pelarian karena menembak Jumadil, anggota dewan dan tokoh penting Partai Merah. Tak ada satu pun tempat yang bisa membuatnya betah untuk tinggal berlama-lama selain di Aceh, sekalipun harus menjadi buronan di tanah sendiri. Sejak hari pertama, Murad sudah harus babak belur dihajar orang-orang dari Partai Merah yang mencurigai kepulangannya. Walaupun setelah itu ia masih bisa lolos dengan mengarang cerita, tapi ia sadar bahwa hidupnya di Aceh tak akan mudah setelah ini.

Murad berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk tetap bertahan hidup. Dengan bantuan teman seperjuangannya saat bergerilya di hutan dulu, ia berkali-kali lolos dari kejaran antek partai penguasa walau tak sepenuhnya mulus. Wajah yang memar hingga lutut yang bergeser menjadi bagian dari perjuangannya untuk menikmati tanah surga yang dibela dengan darahnya ini.

Unsur Intrinsik Novel

Melalui sudut pandang Murad sebagai orang pertama di novel ini, pembaca dapat merasakan rasa marah, kecewa dan putus asa yang mendalam dari seorang tentara yang setengah mati berjuang untuk tanah ini tapi malah dikhianati oleh rekan sendiri. Harapan akan kemakmuran yang dijanjikan setelah mendapatkan kekuasaan pupus di tangan orang-orang yang mengaku sebagai pejuang. Setelah duduk di bangku kekuasaan, mereka tak lebih dari sekedar babi yang sibuk memakmurkan diri sendiri.

Berlatar sembilan tahun pasca perang antara GAM dan pemerintah Indonesia berakhir, perjalanan Murad di novel ini ditulis dengan alur maju yang di satu sisi menurutku cenderung lambat. Aku juga merasa konflik yang disajikan cukup membosankan karena tidak jauh-jauh dari usaha Murad yang dibantu teman-temannya untuk melarikan diri dari kejaran partai penguasa.

Namun di sisi lain, alur yang lambat ini aku akui mampu memberikan gambaran yang cukup detil -sekaligus membuat miris- tentang keadaan masyarakat Aceh saat itu: tentang masih banyak masyarakat miskin, daerah di pelosok hutan yang masih sangat tertinggal sampai pejabat korup yang tak memikirkan yang lain selain mengisi lumbung sendiri. Hal-hal inilah yang selalu dikutuki Murad di dalam hati dan pikirannya yang mampu disampaikan dengan baik melalui novel ini.

Gaya Penulisan dan Penyampaian

Sebagian besar kata dan kalimat yang digunakan penulis di novel ini adalah susunan kata yang baku, baik untuk menjelaskan alur dan setting maupun dalam percakapan langsung. Bagian inilah yang cukup aku sayangkan saat membaca novel ini. Banyak istilah-istilah khas Aceh yang seharusnya dapat digunakan dalam percakapan antar tokoh yang menurutku bisa meningkatkan kekhasan dari novel ini.

Walaupun aku sendiri bukan orang Aceh -hanya letak geografisnya saja yang dekat- tapi aku punya beberapa teman dari sana dan gaya mereka berbicara itu khas sekali. Mungkin tujuan penggunaan bahasa baku adalah agar pembaca dari daerah lain tidak kesulitan untuk memahami novel ini. Tapi aku rasa kalau soal ini, penggunaan catatan kaki bisa membantu tanpa harus menghilangkan dialog khas orang Aceh itu sendiri.

Kesan Membaca

Melalui perjalanan tokoh Murad novel ini, aku sebagai pembaca diajak untuk melihat realita pahit masyarakat Aceh yang katanya akan diperjuangkan menuju kemakmuran oleh orangnya sendiri namun nyatanya hanya diabaikan dengan segala ketertinggalan. Perjuangan yang katanya untuk memerdekakan hanya jadi bahan omongan saat dekat masa pemilihan. Darah yang tertumpah dari peperangan tak ubahnya hanya bagian dari sejarah yang ingin dilupakan. Tentara gerakan yang dulunya kawan bisa dengan mudah menjadi musuh bebuyutan kalau sudah berani melawan. Dan tak ada ruang aman bagi yang sudah tidak satu tujuan dengan mereka yang punya jabatan.

Rekomendasi

Novel ini akan cocok dibaca untuk para pencinta novel fiksi sejarah Indonesia terutama yang membahas tentang dinamika politik pasca konflik, karena melalui novel ini pembaca bisa merasakan bagaimana gejolak masyarakat di salah satu daerah di Indonesia pasca perang antara gerakan separatis dengan pemerintah. Atau untuk pembaca yang ingin mengetahui sejarah Aceh dari sudut pandang mantan tentara GAM, novel ini juga jadi salah satu bahan bacaan informatif yang cukup menarik untuk dibaca.

Yang mau beli buku fisiknya bisa klik link di bawah yaa~
https://aff.gramedia.com/s/ihYycdvRho

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *