Penulis: Zaky Yamani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2020
Jumlah Halaman: 368 hal.
Sumber: iPusnas
Personal Rating: 4.5 / 5 ⭐
Apa yang akan kamu lakukan jika menemukan buku harian milik seseorang? Biasanya buku harian adalah barang yang akan sangat dijaga privasinya dan bahkan seolah haram jika dibaca oleh orang lain. Tapi, bagaimana jika buku itu adalah buku antik yang mungkin akan menjadi referensi sejarah yang sangat berharga?
Sinopsis
Cerita ini dimulai saat ditemukannya tiga buah buku tua berbahasa Portugis yang tersebar di Persia, wilayah barat Jawa dan Malaka pada tahun 1900an. Setelah diterjemahkan, kemudian diketahui bahwa buku ini sebenarnya adalah buku harian milik seseorang yang bernama Samiam (dibaca Sang'iang) dari Lisboa, Portugal.
Buku harian ini ditulis Samiam saat hidupnya mulai dihantui oleh kejadian-kejadian gila yang tak sanggup diceritakannya kepada orang lain: dilema pernikahan yang tinggal sebentar lagi, tentang mimpi aneh yang menyuruhnya untuk menjejakkan kaki ke tanah leluhur -yang tentu saja bukan di Portugal- dan kedatangan seorang nenek misterius yang menjual sebuah gulungan kertas kepadanya. Konon gulungan itu adalah sebuah peta legendaris yang sering dipalsukan karena nilainya yang begitu berharga. Gulungan itu ternyata adalah Peta Orang Jawa!
Kehadiran peta itu membuat Samiam mengenang kembali perjalanan hidupnya yang bisa dibilang tidak biasa: tentang masa kecilnya bersama nelayan miskin yang menjadi orang tuanya, tentang masa muda yang berakhir di penjara, melaut ke Ceuta untuk belajar berniaga dan akhirnya kembali untuk berdagang rempah di Lisboa.
Hidup Samiam yang penuh lika-liku tidak hanya berhenti sampai di situ. Saat tanggal pernikahan yang semakin dekat, tunangan sekaligus sepupunya tiba-tiba menghilang bersama lelaki lain. Bersama Peta Orang Jawa yang selalu dibawanya, Samiam memutuskan untuk mencari petunjuk ke mana lelaki itu membawa calon istrinya.
Pencarian ini membuat Samiam mengalami petualangan yang tak terduga, bersama dengan kerabat yang terpisah lama dan kelompok kecil yang penuh rahasia. Perjalanan Samiam bukan lagi sekadar mencari wanita yang mungkin dicintainya, tapi jauh lebih besar, menakjubkan dan sangat berbahaya.
Unsur Intrinsik Novel
Novel ini seolah merupakan catatan perjalanan hidup yang ditulis oleh Samiam di buku hariannya. Oleh karena itu, sudut pandang yang digunakan novel ini adalah sudut pandang Samiam sebagai orang pertama. Sedangkan alur yang digunakan adalah alur maju mundur yang tampak saat Samiam menceritakan kehidupannya di masa lalu dan diteruskan dengan perjalanan mencari tunangannya di masa kini.
Melalui novel yang berlatar di abad pertengahan ini, pembaca akan diajak untuk melihat masa-masa awal penjelajahan dunia yang dilakukan oleh bangsa Portugis melalui sudut pandang orang Portugis itu sendiri. Misi penjelajahan yang awalnya adalah untuk melancarkan jalur perdagangan kemudian berujung penaklukan -dan penjajahan- di belahan timur dunia. Misi itu bukan hanya bertujuan untuk meningkatkan ekonomi kerajaan Portugal, tetapi juga membawa misi keagamaan yang dianut kerajaan saat itu. Karenanya, nilai-nilai agama Kristen bukan hal yang bisa dipisahkan dalam penulisan novel ini.
Gaya Penulisan dan Penyampaian
Novel ini ditulis dalam bentuk cerita berbingkai. Samiam mendapatkan banyak informasi asal-usul hidupnya dari surat-surat yang ditinggalkan oleh sang ibu. Selain itu, kerabat jauhnya juga ternyata menyimpan banyak rahasia yang juga menjadi bagian dari cerita terbingkai. Cerita demi cerita tersebut saling terkait dan mendukung cerita utama menjadi satu kesatuan yang utuh. Perpindahan antar cerita juga terkesan mulus, tidak membingungkan dan memiliki garis waktu yang jelas.
Penulisan novel ini didominasi oleh penggunaan bahasa baku yang membuat nuansa membaca buku ini seperti membaca buku terjemahan. Padahal penulis buku ini adalah orang Indonesia asli dan novel ini juga sepenuhnya ditulis dalam Bahasa Indonesia.
Pesan Moral
Melalui novel ini, pembaca diajak untuk menyaksikan siaran ulang bagaimana niat awal penjelajahan -untuk menemukan daratan penghasil rempah- berujung penjajahan karena dibumbui oleh keserakahan manusia. Penemuan dunia baru yang menjadi catatan sejarah yang membanggakan bagi satu negara -saat itu adalah kerajaan Portugal- ternyata menjadi luka mendalam bagi negeri yang dijajah. Bahkan agama pun bukan lagi menjadi pelindung kaum yang lemah, tapi malah menjadi alat untuk melanggengkan kuasa. Hak untuk hidup sebagai manusia yang merdeka kemudian dilukai, dihinakan dan dirampas tanpa ada belas kasihan. Kekayaan negara yang menjadi hak warganya tak lagi dirasa karena diambil paksa oleh penguasa dari bangsa yang berbeda.
Namun tak selamanya apa yang dilakukan oleh pemegang kekuasaan merepresentasikan keseluruhan masyarakatnya, begitu pula dengan orang-orang Portugis di novel ini. Ada sebagian kecil dari mereka yang sebenarnya menolak praktik kolonialisme yang dilakukan oleh kerajaan Portugal. Orang-orang dalam kelompok kecil ini kemudian berjuang untuk melawan dengan gerakan yang sangat terogranisir. Melalui kelompok ini, pembaca dapat belajar bahwa akan selalu ada orang-orang yang mau berjuang untuk melawan tirani penguasa walaupun butuh waktu yang lama, perjalanan yang panjang dan pengorbanan yang begitu besar.
Rekomendasi
Rating 17+ untuk novel ini tentu saja bukan tanpa alasan. Pembaca akan disuguhkan dengan banyak istilah dan adegan dewasa yang menggambarkan keadaan masyarakat Portugis di abad pertengahan. Penjajahan yang lekat dengan kekerasan fisik dan seksual juga tidak bisa dipisahkan dari kehidupan dunia saat itu. Sehingga dibutuhkan tingkat kedewasaan tertentu untuk membaca novel ini jika tidak ingin dikagetkan dengan banyak adegan yang belum siap untuk dinikmati.
Aku merekomendasikan novel ini untuk para pencinta novel fiksi sejarah dunia. Melalui novel ini, pembaca bukan hanya disuguhkan cerita penjelajahan orang Portugis, tetapi juga dikaitkan hubungannya dengan bangsa Indonesia. Dengan membaca novel ini, kita bisa ikut merasakan sensasi ekspedisi bangsa Portugis hingga bisa mencapai Malaka dan menjalin kerjasama dengan kerajaan di Indonesia waktu itu.
Novel ini direncakan akan terbit dalam bentuk trilogi dan baru diterbitkan sampai di buku kedua. Karena itu, tidak heran kalau novel ini diakhiri dengan open ending yang sejujurnya meninggalkan rasa penasaran bagi pembaca. Jadi kalau kamu lebih suka cerita yang stand alone, mungkin ini kurang cocok untuk jadi daftar bacaan kamu.
Yang mau beli buku fisiknya bisa klik link di bawah yaa~
https://aff.gramedia.com/s/sklKEcdfRP
https://s.shopee.co.id/4VNYRbCFHS











