Penulis: Desi Anwar
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2019
Jumlah Halaman: 251 hal.
Sumber: iPusnas
Personal Rating: 4 / 5 ⭐
Kapan terakhir kali kita berjalan santai tanpa melihat handphone? Berapa lama kita bisa membiarkan smartphone kita hidup tanpa sambungan internet? Atau setidaknya pernahkah kita mencoba puasa sosial media -termasuk aplikasi obrolan yang sekarang sudah tersedia fitur story yang bisa melihat update keadaan seseorang tanpa diminta- barang sehari saja?
Sinopsis
Pertanyaan-pertanyaan di atas mewakili bagaimana hidup kita yang tidak bisa dipisahkan dari teknologi -terutama yang berhubungan dengan komunikasi- saat ini. Tak dapat dipungkiri, kehadiran teknologi sangat membantu manusia untuk mengetahui banyak hal sekaligus berkomunikasi dengan banyak orang tanpa terbatas jarak dan waktu. Namun di saat yang sama, kehadiran teknologi saat ini seakan merampas kehidupan kita yang sebenarnya.
Yang jauh lebih penting, sesungguhnya ketika kita terhubung dengan dunia yang ada di dalam genggaman, kita telah kehilangan keterhubungan nyata dengan orang lain yang duduk di hadapan kita. (hal. 9)
Dan tinggal menghitung waktu, kita pun akan kehilangan kemampuan untuk terhubung hingga tak lagi mengenali diri sendiri. Buku ini mengajak kita untuk sejenak meletakkan layar kecil bercahaya yang kita bawa kemana-mana itu sambil menikmati keberadaan kita sebagai makhluk nyata di dunia tempat kaki kita berpijak.
Buku ini terbagi menjadi dua bagian, yang pertama berjudul Mengapresiasi Hidup dan Kehidupan. Pada bagian ini, penulis mengajak kita mengingat dan menyadari kembali hal-hal di dunia nyata yang telah kita lewatkan karena asyik berselancar di dunia maya. Sesuatu yang indah dan penuh makna tak lagi mampu dirasa oleh indra karena pikiran telah riuh memikirkan 'laporan' yang tepat untuk diunggah ke sosial media, guna mendapatkan reaksi dari orang-orang yang tak pernah kita lihat bentuk aslinya.
Setelah kehilangan demi kehilangan yang bisa kita renungi bagian pertama, buku ini akan membantu pembaca untuk kembali menemukan kepingan diri melalui rangkaian kata-kata penulis di bagian kedua yang diberi judul Seni Kehidupan. Pada bagian ini, penulis mengingatkan kembali cara untuk hidup dengan sadar bersama dengan hal-hal nyata di lingkungan sekitar. Kita bisa kembali mencoba memahami diri sendiri, mengapresiasi kehadiran orang terdekat hingga merencanakan tujuan yang mungkin terlupakan karena sibuk mengejar pencapaian tak nyata di sosial media.
Gaya Bahasa dan Penyampaian
Dengan susunan kata-kata yang rapi dan terstruktur sekaligus membekas di hati, buku ini memberikan sindiran -atau malah teguran- berkali-kali untuk para pencandu gawai yang melewatkan begitu banyak hal di sekitar karena terfokus pada layar kecil yang seolah memiliki segalanya. Kita mengabaikan dan melupakan memori yang seharusnya mengisi ruang-ruang ingatan dengan dunia yang seolah begitu luas dari genggaman. Kita kira sudah tahu banyak, nyatanya semua sekedar lewat dan tak benar-benar membekas.
Hampir setiap paragraf menjelaskan satu gagasan secara mendetil lengkap dengan perumpamaan yang membantu kita membayangkan apa yang dimaksud oleh penulis. Selain judulnya yang berbahasa Inggris, hampir setiap kata yang digunakan di buku ini adalah kata-kata dari Bahasa Indonesia baku yang perbendaharaannya sangat kaya. Maka selain mendapatkan inspirasi serta motivasi untuk menghargai hidup yang sebenarnya, kita juga secara tidak langsung bisa menikmati keindahan padanan kata Bahasa Indonesia melalui buku ini.
Kesan Membaca
Saat membaca bagian satu, aku merasa begitu relate sekaligus miris dengan semua keadaan yang digambarkan penulis di buku ini. Ketergantungan manusia zaman ini terhadap gawai yang dimiliki rasanya begitu memprihatinkan hingga membuat dunia nyata seolah tergantikan, interaksi sesama manusia dinomorduakan asal standar dunia maya bisa dipuaskan. Sedangkan di bagian dua, aku merasa dibimbing untuk kembali memaknai relasi dengan lingkungan dan orang-orang di sekitar hingga akhirnya menemukan jati diri yang sempat pudar karena mengejar pengakuan yang wujudnya samar.
Awalnya aku begitu kagum dengan bagaimana penulis menyusun padanan kata baku tetapi tidak terkesan kaku dan mampu menyampaikan pesan yang dimaksud dengan begitu baik. Aku sempat mengira bahwa latar belakang penulis yang merupakan jurnalis berpengalaman menjadi seratus persen alasan buku ini dapat disusun dengan kata-kata yang begitu kaya, sampai aku menemukan bahwa buku ini adalah buku yang ditulis oleh orang Indonesia dalam bahasa Inggris dan kemudian diterjemahkan kembali ke Bahasa Indonesia. Ternyata yang patut diapresiasi bukan hanya penulis, tapi juga penerjemah yang berhasil menerjemahkan buku ini dengan sangat baik.
Rekomendasi
Kebanyakan dari kita mungkin sudah punya adiksi dengan gawai dengan levelnya tersendiri. Sesederhana hati yang tidak tenang kalau smartphone tertinggal saat kita akan keluar rumah. Rasanya lebih baik putar balik untuk mengambilnya daripada harus pergi seharian tanpa handphone di tangan kan?
Padahal mungkin banyak hal yang kita lewatkan saat mata hanya terfokus pada gawai saat bepergian. Untukmu yang sedang berusaha untuk kembali mengangkat kepala, menegakkan badan dan meluaskan pandangan ke berbagai hal di sekitar demi menikmati kembali apa yang mungkin dilewatkan selama ini dan menemukan kembali jati diri di dunia yang penuh distraksi, aku sangat merekomendasikan buku ini.
Yang mau beli buku fisiknya bisa klik link di bawah ya~
https://aff.gramedia.com/s/qtklVXmTHl
https://s.shopee.co.id/7pds9k9X4C









