Penulis: Aghnia Sofyan
Penerbit: POP
Tahun Terbit: 2024
Jumlah Halaman: 249 hal.
Personal Rating: 5 / 5 ⭐
Menjadi anak perempuan pertama di keluarga membuat Raya seolah menjadi yang paling bertanggung jawab dengan semua pekerjaan di rumah termasuk mengompos dan memilah sampah. Apalagi kehadiran Rachel sebagai adik yang hampir tidak bisa diharapkan membuat hari-hari Raya makin penuh dengan tanggung jawab dari mamanya, Gina.
Belum lagi dengan urusan pendidikan. Baginya menjadi nomor 1 adalah kewajiban dan tak boleh ada celah. Raya adalah yang terbaik, jika tidak bisa berarti Mama kecewa. Beban tanggung jawab ini membuat Raya memperhatikan setiap detil kecil dalam urusan perkuliahannya. Nilai yang tak sempurna bukan hal yang bisa ditolerir oleh dirinya. Hal ini bukan masalah saat mengerjakan tugas pribadi karena semua hal bisa dikontrol oleh Raya sendiri. Tapi saat tugas kelompok, saat itulah kesabaran Raya diuji.
Hal yang paling ditakuti Raya saat mendapatkan tugas kelompok adalah disatukan dengan Bergas, food vlogger yang terkenal sebagai Youtuber di kampusnya sekaligus orang yang paling sering ‘ngilang’ saat kuliah dan tentu saja saat tugas kelompok juga. Raya adalah salah satu korbannya di semester lalu. Dan itu cukup untuk menjadi alasan menghindari Bergas di waktu-waktu berikutnya.
Sayangnya harapan Raya kandas begitu Mbak Dina memberikan tugas penelitian satu semester dan Bergas adalah nama terakhir yang tertulis di daftar kelompok Raya. Walau tak dapat dipungkiri, Bergas dan statusnya sebagai Youtuber akan sangat membantu dalam penelitian mereka ini. Namun, bayang-bayang ‘menggotong’ Bergas selama satu semester penuh, sukses membuat Raya frustasi bahkan sebelum penelitian mulai dikerjakan. Lalu bagaimana nasib Raya yang harus mengerjakan tugas kelompok dengan Bergas?
Jujur aku deg-deg-an buat review kali ini karena aku sukaaaaaa sekali sama cerita Bergas dan Raya. Aku pengen semua yang baca review ini bisa sama excitednya kayak aku tapi takut pesannya malah gak sampek. Duh semoga feelnya sampek juga yaa~
Aku merasa RELATE pake BANGET sama Raya sebagai anak perempuan pertama di keluarga. Mulai dari ekspektasi yang tinggi ke aku, perfeksionis, bawaannya serius dan gabisa santai. Sampek ke detil muka yang modelannya disebut resting cat face yang buat orang lain merasa aku (selalu) marah atau gak enak hati, padahal mukaku memang begini 🥲
Membaca novel ini buat flashback ke masa kuliah dimana aku hampir selalu (merasa) menjadi ketua atau orang yang paling bertanggung jawab atas semua tugas kelompok yang ada demi mendapat nilai sempurna. Mungkin perasaan teman sekelasku waktu itu juga sama seperti Popon dan Kamal yang merasa kurang dipercaya dan cuma sekedar jadi pelengkap saja. Terdengar menyebalkan sekali kan? Tapi aku bisa memahami Raya yang tak akan rela mendapati wajah kecewa Mamanya karena kesalahan yang bukan sepenuhnya dari dirinya sendiri. Jadi walaupun berat dan melelahkan, menyerah baginya tetap bukan pilihan.
Bertemu dengan Bergas si anak bungsu yang santai dan punya dunia yang jauh berbeda dengan dirinya pasti bukan sesuatu yang bisa diterima oleh Raya -pada awalnya-. Tapi ternyata Bergas dan happy virusnya adalah yang dibutuhkan Raya untuk menikmati hidup yang lebih berwarna. Flow interaksi Bergas dan Raya adalah salah satu yang aku sangat nikmati saat membaca novel ini. Mulai dari panggilan yang mulanya Prof menjadi Raya, modus buat biopori sampai nonton yang cuma bisa di halaman rumah sendiri. Latar saat covid juga membuat cerita mereka unik karena harus bertemu sambil menjaga jarak, minim skinship tapi tetep bisa uwu ❤️
.
Aku juga suka bagaimana penulis membawa banyak isu lain selain hanya fokus di kisah percintaan Bergas dan Raya. Sebut saja soal pengelolaan sampah, pelecehan seksual, hubungan keluarga sampai melepaskan duka. Semua isu ini dikemas apik dan tak terkesan terpisah-pisah. Keren banget pokoknya ❤️
.
Ini personal opinion aja sih, menurut aku mungkin one day novel ini bisa jadi bahan bacaan dengan genre hisfic buat adik-adik atau bahkan anak-anak kita yang perlu tahu bahwa kita pernah mengalami masa pandemi yang membuat kita sangat mengandalkan teknologi untuk komunikasi, menjaga jarak aman untuk bertemu dan saat itu juga meninggalkan duka dan trauma yang dalam karena kehilangan orang yang disayang. Maybe~
Bonus: Ringkasan Isu Lingkungan yang ditulis di novel ini bisa dilihat di slider di bawah yaaa~









