Review Buku Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi

Review Buku Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi

Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2022 (Edisi ke-2, Cetakan ke-2)
Jumlah Halaman: 167 hal.
Personal Rating: 4 / 5 ⭐

Kalau kamu masih belum mau baca sastra karena takut berat, artinya kamu perlu coba baca buku ini.

Sinopsis

Seekor gajah kepanasan. Ia sudah mendengar bahwa manusia punya lemari pendingin. Karena itu, ia mengetuk pintu sebuah rumah untuk meminta tolong agar bisa dimasukkan ke dalam lemari pendingin yang mereka miliki. Dua orang anak yang ada di rumah itu pun setuju.

Mereka mengajak si gajah masuk ke rumah dan mencoba memasukkan gajah itu ke lemari pendingin. Kedua anak itu ingin membuat si gajah yang kepanasan menjadi senang, tapi lemari pendinginnya tak cukup besar untuk dimasuki si gajah. Mereka sudah mencoba mengeluarkan semua isi lemari pendingin, tapi yang bisa masuk hanya belalainya saja. Mereka pun bingung.

Mereka terdiam selama beberapa saat sampai si anak perempuan punya ide untuk memotong-motong tubuh gajah agar muat untuk masuk ke lemari pendingin yang mereka punya. Apakah ide itu akhirnya berhasil mereka realisasikan? Bagaimana akhirnya nasib si gajah yang kepanasan itu?



Unsur Intrinsik Cerpen

Cerita tentang gajah kepanasan di atas adalah satu dari lima belas cerita pendek yang ada di buku ini. Dengan tema yang cukup beragam, cerita-cerita di buku ini akan memperkaya pikiran pembaca dengan imajinasi liar dan sekaligus membawa pesan yang sarat akan makna kehidupan.

Kesan Membaca

Buku ini adalah buku sastra Indonesia pertama yang selesai aku baca. Biasanya aku akan menghindari buku-buku fiksi dengan pembahasan yang berat. Bukan apa-apa. Beban jadi WNI udah cukup banyak dan aku gak cukup kuat untuk nambah pikiran dengan bacaan yang malah bikin tambah mumet. Tapi setelah random baca salah satu cerpen yang ada di sini, kok aku malah tertarik ya? Dan yap! Buku ini sukses mengubah stereotype yang ada di kepalaku. Ternyata gak semua buku sastra itu berat dan patut dihindari 🤭

Buat aku, piliihan kata yang dipakai di buku ini cukup ringan dan mudah dipahami. Kombinasi font dan layout bukunya yang gak terlalu rapat juga buat pengalamanku dalam membaca buku ini jadi berasa lebih mudah. Aku juga gak merasa ada kesulitan yang berarti untuk mengikuti setiap alur cerita yang ada di buku ini.

Kalau soal pesannya? Nah ini dia masalahnya. Aku bisa mengerti sebagian besar makna ataupun pesan yang-mungkin-ingin disampaikan penulis dari ceritanya. Bahkan ada yang cerita nempel banget karena unik dan punya makna yang menurut aku bagus banget. Cerita tentang gajah kepanasan di sinopsis itu adalah salah satunya.

Yaaa~ tapi tetap aja gak semuanya begitu. Beberapa judul masih ada yang buat aku bingung walaupun udah dibaca berulang-ulang. Salah satunya adalah cerita yang berjudul “Tiga Kematian Marsilam”. Sampai sekarang aku masih gak dapet apa pesan yang mau disampaikan penulis dari cerita ini 😅

Karena ini buku kumpulan cerpen dengan tema yang beragam, sensasi rasa waktu membacanya juga banyak. Kadang sedih, kadang marah, kadang takjub dan banyak kagetnya. Seru sih~ Tapi bukan berarti aku nyaman-nyaman aja ya sama buku ini. Aku sering denger kalau membawa adegan dewasa di buku-buku sastra adalah hal yang biasa. Nah buku ini adalah salah satunya. Bukan satu dua adegan, tapi lumayan banyak. Dan walaupun gak selalu disampaikan secara eksplisit, tapi ternyata di aku lumayan bikin gak nyaman juga.





Rekomendasi

Apakah buku ini worth to read? Kalau aku sih yes! Apalagi buat kamu yang baru mau mulai baca sastra, menurut aku buku ini bakalan cocok banget. Gimana? Mau coba? Untuk link beli bukunya boleh cek di bawah yaaa~
Beli di gramedia.com
Beli di shopee

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *