Penulis: Meilinda Sutanto
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2024
Jumlah Halaman: 196 hal.
Personal Rating: 4.0 / 5.0 ⭐
Sebagian besar orang sepakat bahwa menikah bukanlah "pekerjaan main-main" yang dilakukan saat ada waktu senggang. Maka memilih seseorang yang mau dan mampu untuk menjalani komitmen seumur hidup inipun juga bukanlah pekerjaan asal-asalan. Mempelajari bibit, bebet dan bobot (calon) pasangan juga menjadi salah satu kewajiban. Jangan asal cinta berkembang maka siap menjadi pengantin di pelaminan. "Sebab, saat memilih seorang pasangan, kita turut memilih luka, traumanya, leluhurnya, genetikanya, perbedaannya, dan masa lalunya." (hal.194)
Buku ini menjelaskan pentingnya mengenal diri sendiri dan pasangan dalam sebuah hubungan sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Bahwa di dalam diri seseorang terdapat value kehidupan leluhur yang -secara sadar maupun tidak- diturunkan kepadanya. Bagi mereka yang mungkin memiliki trauma yang belum disembuhkan maka akan sangat mungkin mengulang trauma tersebut dalam hubungan berpasangannya dengan seseorang kelak. Dan bahkan tidak menutup kemungkinan akan menjadi trauma yang terus turun temurun antar generasi.
Buku ini mengajak para pembaca untuk menjadi cycle breaker (pemutus rantai) trauma yang terlanjur diwariskan oleh para leluhur. Dengan memutus rantai itu, maka cerita cinta dalam berhubungan akan menjadi cerita cinta kita sendiri, bukan lagi mengulang kegagalan cinta orang tua, om tante atau kakek nenek kita.
Salah satu insight yang paling penting untuk menjadi cycle breaker yang disampaikan di buku ini adalah dengan memperbaiki hubungan dengan orang tua. Ternyata luka-luka yang tanpa sadar masih tersimpan dalam diri selama masa pengasuhan memiliki pengaruh yang sangat besar pada hubungan berpasangan kita. Pola hubungan orang tua menjadi referensi utama bagi sang anak yang cenderung meniru hal yang sama walaupun sebenarnya hubungan tersebut mungkin adalah hubungan yang disfungsional.
Buku ini diperuntukkan bagi orang-orang yang berniat meneruskan hubungan ke jenjang pernikahan. Namun bagiku yang sudah dalam hubungan pernikahan, membaca buku ini nyatanya memberikan banyak insight baru yang bisa membuat aku lebih bijak dalam mengenal pasangan dan diriku sendiri. Banyak "aha momen" di buku ini yang buat aku merasa "Oh pantes dia begini", "iya sih memang" atau "aduh, iya lagi".
.
Dengan menyadari hal-hal seperti yang dijelaskan di buku ini, aku jadi sadar bahwa aku atau pasanganku yang saat ini bukanlah produk satu atau dua hari melainkan yang dibentuk dari beberapa generasi yang mungkin meninggalkan trauma yang tak disadari. Saat menyadari trauma ini, kami jadi punya kesempatan untuk membangun cinta secara sadar (conscious love) tanpa embel-embel luka pengasuhan yang belum dipulihkan.






