Penulis: Tetsuko Kuroyanagi
Illustrator: Chihiro Iwasaki
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2024 (Cetakan ke-3)
Jumlah Halaman: 2 x 96 hal.
Personal Rating: 5 / 5 ⭐
Kalau masih kelas satu SD sudah dikeluarkan dari sekolah, bukannya anak itu berarti nakal banget? Memangnya ada sekolah lain yang mau menerima anak nakal seperti dia?
Sinopsis
Mama Totto-chan dipanggil wali kelas karena ia begitu nakal dan mengganggu seisi kelas yang sedang belajar. Pilihannya Totto-chan mau tak mau dikeluarkan dari sekolah. Mama tidak punya pilihan lain selain mencarikan Totto-chan sekolah baru yang mau menerimanya.
Sekolah baru Totto-chan terlihat seperti kereta api yang terdiri dari banyak gerbong. Sekolah itu bernama Tomoe Gakuen. Saking miripnya dengan kereta, sampai-sampai ia menyangka bahwa kepala sekolah sebenarnya adalah kepala stasiun.
Di hari pendaftarannya, Totto-chan sudah sangat menyukai kepala sekolah, karena baru kali itu ada orang yang mau mendengarkan ceritanya sampai berjam-jam. Totto-chan benar-benar menyukai sekolah ini. Dan di tempat inilah berbagai tingkah “ajaib”nya tidak lagi dianggap sebagai sebuah kenakalan, tapi hanya bagian dari seorang anak yang sedang berkembang.
Unsur Intrinsik Novel dan Gaya Penulisan
Berlatar saat zaman perang di Jepang, buku ini bercerita tentang seorang anak bernama Totto-chan yang dikeluarkan dari sekolahnya karena dianggap selalu mengganggu seisi kelas yang sedang belajar. Karena itu, ia pindah ke sekolah baru yang bisa dibilang tidak biasa. Kelasnya terdiri dari gerbong-gerbong seperti kereta api, cara belajar unik, teman-teman istimewa sampai kepala sekolah yang punya pemikiran cukup nyentrik. Tapi Totto-chan sangat menyukai sekolah ini. Dan di sekolah ini, ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa perlu dilabeli sebagai seorang anak yang nakal.
Ditulis dengan bahasa yang sederhana ditambah terjemahannya yang luwes, buku ini jadi bacaan yang pas sekali untuk dinikmati oleh anak-anak. Ilustrasi yang warna-warni dan ukuran font yang cukup besar juga jadi faktor pendukung yang menurutku punya peran penting untuk menarik minat anak dalam membaca buku ini.
Kesan Membaca
Awalnya aku kira ini buku anak biasa, tapi ternyata sangat istimewa 🥹 Buku ini ngasih sensasi yang bikin emosiku campur aduk selama proses membacanya. Ada kalanya aku merasa Totto-chan ini punya terlalu banyak gebrakan yang bisa bikin aku hilang kesabaran; pernah juga merasa jijik sama yang dia lakukan -buat yang udah baca pasti ngerti nih bagian mana yang aku maksud; terkadang juga dibuat kagum sama orang dewasa di sekitar Totto-chan; sampai akhirnya malah dibuat sedih banget di akhir cerita.
Pesan Moral
Kalau ilustrasinya dihilangkan plus font dan layoutnya dibuat ukuran se-normal novel biasanya, mungkin buku ini bakalan jadi tipis banget. Tapi gak disangka, buku anak setipis ini ternyata bisa ngasih makna yang dalem banget buat aku. Mungkin karena udah jadi orang tua, buku ini bener-bener bisa bikin aku baper.
Di sekolah yang lama, Totto-chan diberi label sebagai anak nakal dan tidak diberi kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Tapi di Tomoe Gakuen, ia malah difasilitasi untuk menikmati sekolah tanpa perlu kehilangan jati dirinya. Dan yang tak kalah penting, ada figur seorang Mama yang tak pernah menghakimi tingkah “ajaib” Totto-chan walaupun di mata orang lain, mungkin sudah kelewat batas. Buku ini ngasih insight tentang bagaimana seorang anak yang sama, bisa punya kesempatan yang sepenuhnya berbeda saat lingkungan sekitar mendukung perkembangannya. Hal ini jadi PR banget untuk para orang dewasa di sekitar anak. Kalau kita bisa mengubah sudut pandang dan menemukan tempat yang tepat untuk anak berkembang, mungkin label nakal gak lagi bisa dengan mudah kita sematkan untuk mereka.
Buku ini juga mengingatkan kepada pembaca bahwa pendidikan sudah seharusnya bersifat inklusif. Memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anak untuk memperoleh pendidikan termasuk mereka yang difabel adalah sesuatu yang sulit. Tapi, hasil yang diperoleh juga akan sangat berharga. Pendidikan yang inklusif tanpa membeda-bedakan anak -seperti yang dilakukan oleh kepala sekolah Tomoe Gakuen- dapat memberikan kesempatan pada mereka untuk memandang semua orang sebagai individu yang sama, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Dengan begitu, mungkin tak akan lagi perang di dunia dan banyak anak-anak yang akan selamat, terhindar dari kelaparan atau menjadi yatim piatu.
Rekomendasi
Aku merekomendasikan buku ini untuk dibaca sama semua anak-anak yang lagi mau nyoba baca buku cerita anak. Dan buat orang dewasa yang ingin melihat kembali dunia anak-anak dan bagaimana keberadaan orang dewasa benar-benar membantu perkembangan mereka, buku ini juga akan jadi bacaan yang sangat bermakna.
Beli di gramedia.com
Beli di shopee

