Review Buku A Week Long Journey

Review Buku A Week Long Journey

Penulis: Altami Nurmila Danuari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Jumlah Halaman: 255 hal.
Personal Rating: 4 / 5 ⭐

Apakah kamu punya mimpi? Sejauh apa kamu rela berjuang untuk mewujudkannya? Jika harus mengorbankan kebahagiaan keluarga, akankah mimpi itu masih sama berharganya?

Sinopsis

Dinyatakan lulus dari SMA dan diterima sebagai mahasiswa jurusan peternakan IPB tanpa tes ternyata bukan menjadi sesuatu yang membahagiakan bagi seorang Lina Budiawan. Alasannya sederhana, karena menjadi peternak bukanlah bagian dari cita-citanya. Lina terpaksa memilih peternakan karena orang tuanya menganggap jurusan itu yang bisa menjamin kehidupannya di masa depan.

Lina sudah mencoba menunjukkan passion untuk menulis novel kepada kedua orang tuanya. Tapi bukannya didukung, orang tua Lina malah menganggap penulis bukanlah profesi yang menjanjikan mengingat royalti yang diterima seorang penulis juga bisa dibilang tidak banyak. Walau sepertinya tak punya pilihan, Lina masih tetap tak mau merelakan mimpinya. Ia bertekad untuk terus berusaha menjadi penulis walau harus mengecewakan keluarga.

Sampai perjalanan liburan selama seminggu di Hong Kong mengubah segalanya. Dari sini, Lina tanpa sengaja menguak satu demi satu rahasia dan asal usul keluarga yang tak pernah didengarnya. Perjalanan ini membuat Lina berpikir ulang: apakah mimpinya masih cukup berharga bila harus mengorbankan kebahagiaan keluarganya?


Unsur Intrinsik Novel dan Gaya Penulisan

Cerita tentang perjalanan Lina dalam memutuskan nasib mimpinya ini dituliskan dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga dan alur maju. Dengan gaya bahasa yang sederhana dan bumbu-bumbu khas dewasa muda -soal rivalitas, keluarga dan romansa tipis-tipis- novel ini bisa menjadi bacaan ringan sekaligus relate dengan target utama usia pembaca.

Salah satu daya tarik novel ini juga ada di latarnya. Bersama Lina dan rombongan tur liburannya, pembaca diajak untuk menikmati tiga kota sekaligus, Hong Kong, Macau dan Shenzhen. Gak sekadar lewat, setiap latar di novel ini juga dijelaskan dengan cukup detail, lengkap dengan sejarah singkat dan pesonanya masing-masing: ada yang surga belanja, arsitekturnya yang ‘wah’, sampai pinggiran kota yang penuh makna. Vibesnya jadi berasa ikut jalan-jalan bareng mereka deh~





Kesan Membaca

Karena lagi butuh bacaan yang ringan-ringan, aku jadi milih buku ini di antara tumpukan TBR yang ada di rumah. Dan gak salah karena emang ringan dan asyik banget dibacanya. Alur penyampaian yang mengalir dan konflik yang gak buat banyak mikir, bikin aku nyaman banget selama baca novel ini. Gak berasa tiba-tiba udah setengah aja.

Iya, setengah di awal emang berasa baca cerita anak muda dengan berbagai kegalauannya. Tapi setelah itu, ternyata ada konflik baru yang bercerita tentang luka lama keturunan Tionghoa di Indonesia. Bagian ini membuka mataku tentang sebuah peristiwa yang gak kalah traumatis dari yang terjadi di tahun ’98 bagi warga keturunan Tionghoa. Mereka dipaksa kembali ke negara asal dengan peraturan dan tangan besi aparat pemerintah. Aset mereka dirampas dan dibakar, dipisahkan dari anggota keluarga, bahkan sampai dibunuh.


Di satu sisi aku merasa ngeri, sedih dan miris selama baca cerita ini. Tapi di sisi lain aku bersyukur karena hari ini, aku bisa hidup berdampingan bersama mereka keturunan Tionghoa tanpa perlu ada bayang-bayang diskriminasi dan kekerasan lagi. Merasa lebih aman sebagai warga negara yang makin ke sini malah makin mengerti artinya saling melindungi.

Pesan Moral

Rasanya setiap orang punya mimpi. Terkadang ada mimpi yang mudah untuk diwujudkan. Tapi terkadang bisa jadi terlalu idealis sampai terlihat tidak realitistis. Dan hanya orang-orang tangguh yang akhirnya memilih untuk mewujudkannya, walau harus menaklukkan realita yang tak mudah.

Tapi dari buku ini kita bisa belajar bahwa walaupun mimpi bisa bernilai sangat tinggi, bukan berarti keluarga layak untuk terganti. Karena sebenarnya, mereka adalah orang pertama yang juga akan berbahagia atas setiap pencapaian kita. Jika akhirnya harus mengorbankan mereka, apakah mimpi itu bisa jadi sama nilainya?

Selain soal mimpi, dari novel ini -sebuah karya fiksi- aku lagi-lagi tersadar bahwa eksklusitifitas yang mungkin kita lihat ada di keturunan Tionghoa bukanlah hasil dari pengalaman hidup satu atau dua hari, tapi trauma menyakitkan yang terjadi selama puluhan tahun yang bisa jadi belum sembuh hingga hari ini. Karena itu, tugas kita adalah saling jaga, jangan sampai cerita yang sama terulang di waktu yang berbeda. Persatuan itu sangat berharga, dan kalau bukan kita yang merawatnya, siapa lagi?

Rekomendasi

Buku ini aku rekomendasikan buat kamu yang lagi pengen baca buku yang ringan, page turner dan tetap punya pesan yang dalam. Untuk anak muda yang butuh cerita yang menginspirasi tentang perjalanan seseorang meraih mimpi, aku juga merekomendasikan buku ini. Oiya, ternyata buku ini udah punya cover yang baru. Yang mau beli bukunya boleh CO dari link di bawah yaaa~
Beli di gramedia.com
Beli di shopee

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *