Penulis: Kim Ho-Yeon
Penerbit: Haru
Tahun Terbit: 2024
Jumlah Halaman: 400 hal.
Personal Rating: 4.5 / 5 ⭐
Hidup memang tak selalu baik-baik saja. Saat sedang berada di titik terendah, terkadang banyak dorongan untuk menyerah. Tapi bukankah setiap orang berhak untuk kesempatan kedua? Kalaupun ada, di mana tempat yang akan memberikannya?
Sinopsis
Hari itu, Nyonya Yeom bertemu dengan seorang tunawisma yang menyelamatkan dompetnya yang tertinggal di stasiun Seoul. Untuk berterima kasih, Nyonya Yeom mengajak tunawisma itu ke minimarket yang ia kelola untuk memberinya makanan. Nyonya Yeom yang seorang pensiunan guru sejarah melihat ketulusan dari tunawisma itu dan mengijinkannya untuk kembali ke minimarket setiap hari untuk mengambil makanan secara gratis.
Nyonya Yeom berusaha untuk memastikan identitas tunawisma itu. Namun setelah ditelusuri, ternyata tunawisma itu tidak punya ingatan tentang siapa sebenarnya dirinya. Ia hanya punya sebuah nama panggilan yang diberikan oleh sesama rekan tunawisma di Stasiun Seoul, yaitu Dokgo, hanya Dokgo.
Hari demi hari musim dingin berlalu dan Dokgo selalu datang ke minimarket Nyonya Yeom untuk mengambil makanan yang sudah lewat masa jualnya. Tanpa diketahui Nyonya Yeom, ia selalu memperhatikan keadaan minimarket itu dari kejauhan. Sampai suatu hari ia menyelamatkan sang pemilik dari serangan empat orang anak berandal yang mengunjungi minimarket. Karena kejadian itu, Nyonya Yeom mengajak Dokgo untuk bekerja di minimarket miliknya.
Di tempat ini, Dokgo kemudian bertemu dengan banyak orang dan tanpa sadar mengubah jalan hidup mereka. Siapakah sebenarnya Dokgo? Kehidupan seperti apa yang sempat ia tinggalkan dan apa yang membuatnya berakhir menjadi seorang tunawisma? Akankah minimarket ini memberikan jawabannya?
Unsur Intrinsik Novel dan Gaya Penulisan
Rasanya semua orang setuju kalau after taste novel slice of life itu selalu punya kekuatan untuk menghangatkan hati para pembacanya. Tapi, daripada sekadar efek samping setelah selesai membaca, buku ini punya something special yang sudah bisa kita rasakan setiap membaca bab demi babnya.
Buku ini bercerita tentang sebuah minimarket yang cukup merepotkan pelanggan. Karena tidak terlalu laku, barang yang dijual di tempat ini tidak terlalu lengkap dan terkadang bukannya membantu, penjaga minimarket yang bertugas pada malam hari malah lebih sering membuat pelanggan makin repot karena suka ikut campur dengan urusan mereka. Dia memang merepotkan, tapi tanpa disadari, kehadirannya ternyata mampu memperbaiki kehidupan banyak orang.
Dengan menggunakan alur maju mundur dan sudut pandang orang ketiga, buku ini bercerita tentang kisah hidup para tokoh yang hadir di minimarket yang merepotkan itu. Tak semuanya pelanggan, sebagian dari mereka adalah pekerja paruh waktu, pemilik dan tentu saja Dokgo, seorang mantan tunawisma yang mengisi shift malam di tempat itu. Setiap tokoh diceritakan dengan cara yang cukup unik. Walaupun punya keterkaitan satu dengan yang lain, tapi penulis seolah memberikan ruang bagi masing-masing tokoh untuk mendapatkan atensi yang sama dari pembaca dengan menempatkan mereka sebagai tokoh utama di masing-masing bab. Karena itu, apa yang dirasakan oleh setiap tokoh jadi punya kesan yang lebih mendalam di hati pembacanya.
Pesan Moral
Ada banyak pesan tentang kehidupan yang bisa pelajari dari sebuah minimarket yang dijaga oleh mantan tunawisma di buku ini. Tentang karakter seseorang yang bisa saja tak terlihat dari tampilan luarnya; tentang melihat potensi diri yang seringkali tak disadari; tentang membersamai setiap orang yang kita cintai; tentang waktu yang tak bisa dibeli; dan tentang hidup yang tak kita hargai.
Kesan Membaca
Kita ini manusia yang banyak salahnya, yang terkadang mengambil keputusan hanya karena ego sesaat, yang tanpa sadar juga mengorbankan orang terdekat. Dan di saat keadaan sudah semakin sulit, pikiran semakin kalut dan terlanjur berjalan jauh dengan dalih mencari solusi, kita jadi malah lupa jalan kembali. Padahal, kita semua berhak untuk kesempatan kedua, kita semua berhak untuk memulai dari awal lagi dan tak ada kata terlambat untuk memaafkan diri sendiri. Melalui cerita kehidupan para tokohnya, buku ini seolah bisa memeluk setiap kegagalan dan mengajak kita untuk bersiap menghadapi kesempatan kedua yang mungkin hadir melalui sebuah tempat atau seseorang yang belum kita sadari.
Extra
Minimarket di Korea Selatan terkenal dengan segala macam makanan siap saji yang bisa langsung dinikmati cukup dengan menghangatkannya di microwave. Dan biasanya, layanan menghangatkan makanan juga sudah tersedia di setiap minimarket. Karena itu, pelanggan jadi bisa sat set setiap kali mau makan di sana.
Nah, berhubung setting novel ini ada di minimarket, jadi aku udah list beberapa makanan yang dijual di Minimarket yang Merepotkan ini. Let’s Cekidottt~
Rekomendasi
Untukmu yang sedang mencari bacaan untuk belajar tentang kehidupan, mencari kehangatan dan bertemu dengan kesempatan kedua, aku sangat merekomendasikan buku ini. Untuk yang mau beli bukunya, bisa klik link di bawah yaaa~
https://aff.gramedia.com/s/ZTROdQvuqr
https://s.shopee.co.id/3ftHEyAXrt

