Review Buku 7 Malam di Maroko

Review Buku 7 Malam di Maroko

Penulis: Dini M Kusmana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2016
Jumlah Halaman: 198 hal.
Sumber: Gramedia Digital
Personal Rating: 4 / 5 ⭐

Apa yang pertama kali terlintas di pikiranmu saat mendengar Maroko? Negara dengan penduduk mayoritas muslim? Mudah untuk shalat kapan saja dan di mana saja? Yap, berarti kita sama, sampai akhirnya aku ketemu buku ini.

Sinopsis




Buku ini merupakan jurnal perjalanan sepasang suami istri Prancis – Indonesia yang berbulan madu dalam rangka merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang kesepuluh dan Maroko adalah negara yang mereka pilih. Dalam perjalanan ini, mereka berpelesir ke tiga kota: Fez, Meknes dan Moulay-Idriss.

Mereka memilih ketiga kota tersebut bukanlah tanpa alasan. Sang suami, David alias Kang Dadang adalah penyuka sejarah. Ketiga kota tersebut mereka pilih karena nilai sejarah yang dapat dinikmati dari setiap situs dan museum yang dikunjungi, di antaranya adalah universitas tertua di dunia, makam cucu Rasulullah hingga situs peninggalan Romawi yang masih menjadi saksi sejarah di kota itu.

Namun perjalanan mereka ternyata tak seindah yang dibayangkan. Berada di negara dengan penduduk yang mayoritas beragama Islam sekaligus menjadi saksi kejayaan Islam di masa lampau ternyata tak menjamin kemudahan menjalankan ibadah setiap waktu. Belum lagi bertemu dengan orang yang memanfaatkan turis dengan tipu muslihat yang menjengkelkan.

Unsur Intrinsik Novel

Jurnal perjalanan ini ditulis dengan gaya penulisan novel lengkap dengan berbagai unsur penyusunnya. Seperti judulnya, buku ini dibagi menjadi tujuh bab, yang masing-masing bercerita tentang pengalaman hari-hari mereka menikmati bulan madu di berbagai kota di Maroko.



Dibanding dengan menggambarkan latar dengan keindahannya, penulis lebih banyak menyoroti nilai sejarah dan keadaan sosial masyarakat yang tinggal di setiap kota. Positifnya, aku jadi banyak tahu soal sejarah negara ini lengkap dengan tokoh dan peninggalannya, serasa belajar langsung dari Kang Dadang yang memang punya pengetahuan sejarah yang luas. Tapi negatifnya, aku kurang bisa menikmati keindahan situs ataupun museum yang mereka nikmati karena memang tak diceritakan secara detil di sini. Aku sendiri jadi sering browsing untuk menikmati latar yang diceritakan. Untungnya semua nama-nama tempat yang mereka kunjungi itu cukup jelas dan mudah dicari di internet, jadi aku tetap bisa menikmati Maroko walaupun butuh usaha ekstra.

Gaya Penulisan dan Penyampaian

Buku ini ditulis dengan bahasa yang cenderung formal dan baku, kecuali setiap dialog yang memang ditulis dengan gaya santai percakapan sehari-hari. Karena pasangan suami istri ini tinggal di Prancis, penulis juga menyisipkan beberapa percakapan bahasa Prancis di buku ini, tapi tetap disertai dengan artinya kok, jadi kita gak akan kesulitan untuk memahami alur cerita di buku ini.



Kesan Membaca

Saat mendengar negara Maroko, yang terlintas di pikiranku adalah negara yang kaya akan kebudayaan Islam dan masyarakat yang memeluk Islam secara taat. Tapi saat membaca jurnal ini, seolah semua fantasiku langsung terpatahkan. Sebut saja soal mesjid yang hanya buka saat masuk waktu shalat wajib, selain itu terkunci rapat, tak menyediakan kelonggaran agar jamaah bisa shalat di waktu yang tersisa. Belum lagi soal keadaan tempat wudhu yang memprihatinkan. Bahkan banyak orang yang lebih memilih untuk tayamum, bukan karena ketiadaan air, tapi karena kotornya tempat wudhu yang seolah menolak dimasuki oleh orang yang akan menunaikan shalat.



Kalau masyarakatnya lain soal lagi. Kedatangan turis asing seringkali menjadi ajang aji mumpung bagi masyarakat di Maroko (tak jauh beda dengan Indonesia ya), bahkan ada yang tak segan-segan menipu agar mendapat bayaran mahal. Tapi tentu saja tak semua begitu, pasutri ini juga berkali-kali mendapat tawaran untuk mengunjungi dan makan di rumah warga sekitar. Bahkan ulang tahun pernikahan mereka pun dirayakan oleh pemilik penginapan yang baru saja mereka kenal. Bagian paling menarik adalah, beberapa orang mengajak penulis berbicara hanya karena tertarik dengan mukena, pakaian shalat yang digunakan khas oleh orang Indonesia.

Ah iya, buku ini ditulis berdasarkan pengalaman penulis di tahun 2009. Semoga sudah banyak berubah ya sekarang, terutama soal mesjid yang sulit diakses ini. Aku gak bisa membayangkan gimana gak nyamannya jalan-jalan kalau mau shalat aja susah.

Pesan Moral

Jurnal ini memberi aku pelajaran yang sangat penting, yaitu riset sebelum mengunjungi suatu daerah, apalagi sampai ke negeri orang. Fantasi yang selama ini kita yakini tidak bisa menjadi acuan dalam melakukan perjalanan. Salah riset kemungkinannya adalah kecewa, dan lebih parah lagi adalah kehilangan banyak uang di tangan orang yang memanfaatkan bahkan sampai keselamatan pun bisa terancam.

Rekomendasi

Buat kamu yang suka sama sejarah Islam, khususnya perkembangan Islam di Maroko, buku ini bagus sekali menurutku. Dan jika kamu ada rencana jalan-jalan ke Maroko, membaca buku ini bisa jadi referensi wisata yang bagus sekaligus antisipasi sebelum bertemu dengan orang-orang yang mungkin akan memanfaatkanmu di sana~

Yang mau beli buku fisiknya bisa klik link di bawah ya~
https://aff.gramedia.com/s/aiRRZiFlXz

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *